Penetapan Kinerja (PK)

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Aksesi

Daftar Aksesi
No Tahun Nama Aksesi
1 2010 Benih baru 1200 aksesi padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, sorgum, kacang-kacangan minor dan padi liar dengan viabilitas tinggi (>85 %) dan dalam jumlah yang memadai Info Lengkap
2 2010 koleksi invitro ubikayu, ubijalar, diskorea sebanyak 200 aksesi Info Lengkap
3 2010 Sebanyak 800n plasma nutfah ubi-ubian (ubikayu, ubijalar, dan ubi-ubian potensial) yang sudah direjuvenasi dan dikarakterisasi sebagaian karakter morfologinya Info Lengkap
4 2011 Sebanyak 1800 benih baru aksesi plasma nutfah tanaman pangan (padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, sorgum, kacang-kacangan minor dan padi liar) yang telah terkarakrerisasi sebagian karakter morfoagronominya Info Lengkap
5 2013 Plasma Nutfah ubikayu, Bogor Info Lengkap
6 2013 Plasma nutfah ubijalar koleksi inti I yang ditanam di lapang. Cibadak, Pacet Info Lengkap
7 2011 Sebanyak 2600 aksesi plasma nutfah ubi-ubian (ubikayu, ubijalar, dan talas) yang terkonservasi secara terus menerus, sebagian sudah terkarakterisasi karakter morfoagronominya secara lengkap Info Lengkap
8 2011 Plasma nutfah ubi-ubian (ubikayu, ubijalar, dan talas) sebanyak 200 aksesi yang terkonservasi secara invitro Info Lengkap
9 2012 1800 aksesi benih baru plasma nutfah tanaman pangan yang terdiri dari plasma nutfah (padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, kacang-kacangan minor, dan padi liar) Info Lengkap
10 2012 2600 aksesi ubi-ubian (ubikayu, ubijalar, dan ubi potensial) yang secara terus menerus dikonservasi di lapang Info Lengkap
11 2012 Sebanyak 10 aksesi baru (30 aksesi ubi jalar, 30 aksesi ubi kayu, 30 aksesi talas) yang dikonservasi secara invitro tahun 2012, ditambah 210 aksesi koleksi invitro dari varietas ubi jalar, ubi kayu dan talas yang terpelihara (disubkultur) Info Lengkap
12 2013 Aksesi kedelai: B. 1313, B. 1396 dan B.8227 berumur genjah. Info Lengkap
13 2013 Varietas lokal jagung koleksi NTT (179 aksesi) dan varietas lokal pisang (26 aksesi) koleksi Kalimantan Barat (daftar nama varietas (aksesi) dapat dilihat dalam file laporan: Eksplorasi dan koleksi plasma nutfah pisang dan jagung Info Lengkap
14 2013 Karakterisasi Plasma Nutfah Talas Pada 251 Aksesi. Pacet Info Lengkap
15 2013 Data Karakterisasi Bentuk Umbi dari Ubi-ubian Minor (Aksesi : Ubi Kelapa, Gadung dan Gembili) Info Lengkap
16 2013 Karakter ubi pada plasma nutfah ubijalar koleksi inti I yang ditanam di lapang, Pacet Info Lengkap
17 2013 Karakterisasi plasma nutfah Ubijalar 533 aksesi (Cibadak, KP. Pacet) Info Lengkap
18 2013 Data Karakterisasi Plasma Nutfah. Ubikayu 151 aksesi (KP. Cikeumeuh, Bogor) Info Lengkap
19 2013 Plasma nutfah tanaman pangan Info Lengkap
20 2014 Diperoleh 6 (enam) aksesi sumber daya genetik padi yang tahan terhadap hama wereng batang coklat yaitu aksesi Padai Pari, Krayan, Padai Adan Putih, Padai Poi, Timay, dan Padai Kley.; Diperoleh sumber daya genetik kedelai yang tahan terhadap hama penggerek polong yaitu aksesi Lokal Trenggalek, Lokal Jember, Lokal Lokal Banyuwangi, Badung, MLG 2973 dan MLG 2974.; Diperoleh 12 aksesi padi bereaksi tahan terhadap penyakit HDB strain III.; Diperoleh 2 galur aksesi Ramos Dewi dan Padai Pulut Malayang bereaksi tahan terhadap penyakit HDB strainIV.; Diperoleh 1 galur aksesi Padai Ubek Iyep tahan terhadap penyakit HDB strain VIII.; Plasma nutfah kedele 5 (lima) aksesi yang mempunyai potensi dapat dikembangkan untuk toleransi kekeringan pada fase pertumbuhan hingga produksi dengan karakter tinggi tanaman, panjang akar, bobot kering akar, jumlah biji/tanaman, dan kadar prolin adalah B-1609, B-3534, B-3763a, B-4315 dan B-4472. Info Lengkap
21 2014 Jumlah aksesi yang direjunenasi: 1. Padi : 435 2. Padi liar : 72 3. Jagung\\\' : 206, 93 aksesi harus diulang karena jumlah tidak mencukupi 4. Kedelai : 597, 56 tidak menghasilkan biji, harus diulang 5. Kedelai Introduksi : 87 6. Kedelai Edamame : 101 7. Kacang Tanah : 257 8. Kajang Hijau : 250 9. Kacang Tunggak dan Potensial lainnya : 300, terdiri dari Kc. tunggak 119 (11 aksesi tidak berbiji); Kc. Nasi 46 (4 aksesi tidak berbiji); Kc. Komak 13; Koro Benguk 8; Kc. Bogor 9; Koro Pedang 7; Kc. Gude 10; Kecipir 88 aksesi. Info Lengkap
22 2014 Jumlah aksesi plasma nutfah aneka uni yang ditanam di lapang : 1. Ubijalar : 1666 aksesi 2. Ubikayu : 550 aksesi 3. talas : 250 aksesi 4. Belitung : 120 aksesi 5. Ubi Potensial lainnya : 190 terdiri dari 35 aksesi ubi kelapa, 24 aksesi gadung, 5 aksesi suweg, 25 aksesi gembili, 35 aksesi garut, 65 aksesi ganyong, dan 1 aksesi kentang hitam. Info Lengkap
23 2014 Komoditas Aksesi/nomor lapang Ubijalar B0005, B0037, B0046, B0047, B0069, B0094, B0090, B0117, B0118, B0119, B0122, B0155, B0173, B0180, B0180B, B0213, B0225, B0230, B0237, B0251, B0253, B0268, B0279, B0346, B0350, B0351, B0358, B0361, B0281, B0400, B0401, B0425, B0484, B0498, B0503, B0508, B0560, F0010, F0017, F0018, F0021, F0041, F0053, F0059, S0010, S0020, S0051, S0109, S0158, S0169, S0207, S0211, S0217, S0220, S0221, IB0059, IB0009, IB0244, IB0215, IB0366, IB0191, IB0273, IB0364, IB0338, IB0276, IB0216, IB0316, IB0291 Ubikayu 101, 104, 105, 109, 110, 111, 112, 113, 114, 115, 121, 122 Talas C003, C010, C016, C021, C035, C067, C085, C092, C118, C132, C147, C169, C171, C186, C188, C194, C199, C212, C217, C000 (talas bolu), C000 (talas beneng), C000 (talas tinggar) Info Lengkap
24 2014 Penyelamatan benih secara kultur embrio dilakukan pada plasma nutfah kedelai dan kacang tanah yang memiliki daya berkecambah rendah, masing-masing sebanyak 15 aksesi. Nomor-nomor aksesi kedelai tersebut adalah sebagai berikut : B3737; Temanggung, B1957, B3721, B1446, B827, B4392, B4304, B4402, Raja Basa, Petek, B688, B1320 A, 4464 Amog, B1359. Sedangkan pada kacang tanah nomor aksesi yang digunakan adalah: Rg 2316, Rg 2324, Rg 2325, Rg 731, Rg 724, Rg 337, Rg 68, Rg 2306, Rg 352 A, Rg 2289, Rg 727, Rg 2287, Rg 2295, Rg 2320, Rg 2309. Aksesi yang diuji hanya ada 30 yang tadinya diharapkan ada 40 aksesi yang mempunyai daya tumbuh rendah untuk diselamaptkan secara in vitro dengan menggunakan teknik embryo resque. Kedepan penyelamatan benih dilakukan sesuai permintaan dari bankgen, tidak ada target khusus dalam jumlah aksesinya. Info Lengkap
25 2014 Capaian yang diperoleh adalah subkutur PN. Talas 204 aksesi, PN. Ubijalar 338 aksesi dan PN. Ubikayu 97 aksesi Info Lengkap
26 2014 B. 3743 dan B 4000 Info Lengkap
27 2014 Pengelompokan 89 aksesi plasma nutfah (pn) kopi berdasarkan 18 primer menunjukkan bahwa aksesi pn kopi asal pengalengan (jenis arabika) terpisah dengan pn kopi asal Meranti (jenis liberika dan sebagian ekselsa) sedangkan pn kopi asal lampung (jenis robusta dan sebagian liberika ) sebagian masuk kedalam kelompok pengalengan yaitu jenis arabika dan sebagian masuk kelompok meranti yaitu jenis liberika dan ekselsa. Info Lengkap
28 2015 255 aksesi SDG sorgum hasil rejuvenasi yang memiliki viabilitas tinggi dan kuantitas yang memadai untuk disimpan di bank gen. Info Lengkap
29 2015 12 aksesi SDG hanjeli hasil rejuvenasi yang memiliki viabilitas tinggi dan kuantitas yang memadai untuk disimpan di bank gen. Info Lengkap
30 2015 9 aksesi SDG jewawut hasil rejuvenasi yang memiliki viabilitas tinggi dan kuantitas yang memadai untuk disimpan di bank gen. Info Lengkap
31 2015 6 aksesi SDG wijen hasil rejuvenasi yang memiliki viabilitas tinggi dan kuantitas yang memadai untuk disimpan di bank gen. Info Lengkap
32 2015 233 aksesi SDG terong dan kerabat liarnya hasil rejuvenasi yang memiliki viabilitas tinggi dan kuantitas yang memadai untuk disimpan di bank gen. Info Lengkap
33 2015 192 aksesi SDG ubijalar yang terkarakterisasi secara molekular menggunakan marka SSR. Info Lengkap
34 2015 padi ( Genjah pare, G.02, PUI, no. 41985-111-3-2-2; Tiga dara, B.opat, Midun, Rumbu A, Melati, Si Medan); gandum (Sitnortrend dan Anemos); sorgum (Cantel Wonogiri ,IRAT 204, ICSV 93041, 296-B, dan ICSB 296 ; Keris,No. 867.007, No. 867.032, ICSB 296 dan No. 867.086) kedelai (PI .547425); edamame (G.10428 x Pandermen 10-1, Reg.4256,G.10428 x pandermen 10-2); Kacang hijau (No.reg. 229, Reg 513 dan Reg 937) Info Lengkap
35 2015 1465 Aksesi Plasma nutfah ubijalar yang memiliki viabilitas tinggi dan kuantitas yang memadai untuk disimpan di bank gen. Info Lengkap
36 2015 540 aksesi palsma nutfah ubikayu yang memiliki viabilitas tinggi dan kuantitas yang memadai untuk disimpan di bank gen Info Lengkap
37 2015 245 aksesi plasma nutfah talas yang memiliki viabilitas tinggi dan kuantitas yang memadai untuk disimpan di bank gen Info Lengkap
38 2015 126 Aksesi Plasma nutfah belitung yang memiliki viabilitas tinggi dan kuantitas yang memadai untuk disimpan di bank gen Info Lengkap
39 2015 250 aksesi plasma nutfah ubi potensial lainnya(ganyong, garut, dioscorea, suweg, dan kentang hitam) yang memiliki viabilitas tinggi dan kuantitas yang memadai untuk disimpan di bank gen Info Lengkap
40 2015 Sebanyak 100 aksesi plasma nutfah kacang tanah yang memiliki viabilitas tinggi dan jumlah yang memadai dan disimpan di bank gen Info Lengkap
41 2015 Dari sejumlah 180 aksesi sumberdaya genetik kacang hijau yang direjuvenasi, diperoleh 141 nomor aksesi yang memiliki viabilitas tinggi dan kuantitas yang memadai untuk disimpan di bank gen, sedangkan 39 nomor aksesi tidak menghasilkan biji karena serangan hama penghisap polong Info Lengkap
42 2015 83 aksesi SDG gandum hasil rejuvenasi yang memiliki viabilitas tinggi dan kuantitas yang memadai untuk disimpan di bank gen. Info Lengkap
43 2015 Rejuvenasi Padi: sebanyak 475 nomor aksesi padi terdiri atas 149 nomor aksesi asal Korea Selatan dan 326 nomor aksesi koleksi Bank Gen. Dari 149 padi asal korea yang ditanam, sebanyak 91 nomor tidak menghasilkan benih, dan hanya 58 nomor yang berhasil memproduksi benih dalam jumlah yang sangat terbatas. Dari 326 nomor aksesi padi koleksi Bank Gen, sebanyak 209 nomor menghasilkan benih dalam jumlah yang layak simpan (>150 gram), sebanyak 88 nomor menghasilkan benih dalam jumlah yang sangat terbatas (<150 gram), dan 29 nomor mati di lapangan. Info Lengkap
44 2015 Padi tahan terhadap hama Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens): 1. Banda Cina 2. Rambute 3. Ketan Botol 4. Ingsa Cendana 5. Padi Darit Padi tahan terhadap HDB (Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) strain IV: 1. Azelapan Padi tahan terhadap HDB (Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) strain VIII: 1. Seratus Malam Padi tahan terhadap Blas (Pyricularia grisea): 1. Pare Bakato Kaka 2. B57C-MD-10-2 3. IR.3273-P.339-1 4. IR.3273-P.339-2 5. IR.3880-1A 6. C12 7. MRC 63 8. MRC 172-9 9. B 57C-MD-10-2 10. B.541-Kn-19-3-4 11. B.981A-Si-28-2 12. IET.1444 13. Muntul 14. Padi Utak 15. Pulut Cina 16. Cere Beureum Info Lengkap
45 2015 Kedelai tahan terhadap hama penggerek polong (Etiella zinckenella): 1. Merapi 2. Culumbus 3. Kerok Lokal 4. Lokal Madiun 5. Lokal Pasuruan 6. Lokal Kediri 7. AGS 257 8. Crb-2 9. Klungkung Kuning 10. 30070-1-2 11. 301040 12. Lokal Sumbawa 13. MLG 3109 14. GM 343 Si Kacang hijau tahan terhadap hama penggerek polong (Maruca testulalis) 1. 2034 PLM 446 2. 2035 PLM 446 3. PAPI No. 1867 4. VC.6153-B-19 Info Lengkap
46 2015 Karakterisasi kandungan diosgenin pada aksesi Dioscorea sp.: 1. 559 = 0.1506 (mg/g) 2. 535 = 0.2480625 3. 794 L. = 0.12375 4. 21 = 0.01625 5. 712 = 0.104 6. 768 = 0.452 7. 61 = 0.2553125 8. 711 = 0.120375 9. 807 = 0.161 10. 391 = 0.251875 11. 506 B. = 2.477125 12. 0293 = 2.8875 13. 79/093 = 2.53125 14. 604 = 2.140625 15. 80/608 = 1.81475 16. 739 = 2.0081875 17. 395 = 1.84575 18. 120 Reg. 401 = 1.5 19. 102/786 = 2.858625 20. 123/807 = 1.739375 21. 514 = 1.5913125 22. 105/765 = 2.25225 23. 680 = 2.30125 24. 113/588 = 0.8235 25. 644 = 0.489375 26. 110/596 = 1.042875 Info Lengkap
47 2015 Aksesi padi toleran keracunan besi (Fe): 1. Banjar Rondok 2. Ampu Kunyit 3. Lumaik Hitam 4. Kruet Sentang 5. Kuning Biaro Aksesi kacang hijau toleran terhadap kekeringan: 1. Lokal Tarogong-M, 2. Calon Haji 1-a, 3. Lokal Bombongan-C Info Lengkap
48 2015 Untup Rajab Info Lengkap
49 2016 1. SDG jagung 50 aksesi 2. SDG kedelai introduksi 80 aksesi 3. SDG edamame 50 aksesi 4. SDG kacang tanah 60 aksesi 5. SDG kacang potensial 183 aksesi : - kacang nasi 46 aksesi - kacang bogor 68 aksesi - kecipir 69 aksesi Info Lengkap
50 2016 DAFTAR BENIH PLASMA NUTFAH PADI TAHAN WERENG COKLAT 2016 No. Regst Varietas/galur 14 12497 Cempu Beluluk 15 12502 Temurun 16 12514 Sri Gunung 21 12535 Jelutuk Bulu Putih 25 12843 Ampek Panjang 32 15138 Pare Bakato Kaka 33 15153 Pare Lambem 36 15321 Padi Putih 37 15324 Markos Info Lengkap
51 2016 DAFTAR BENIH JAGUNG TAHAN HAMA LALAT BIBIT 1. Bengkaung 2. L. Repok Daya 3. L. Montung Angak 4. Pena Nais 5. Watar Dou 6. Watar Ndawa 7. Watar Kaka 8. BC 10 MS 15 Info Lengkap
52 2016 Daftar Plasma Nutfah Kedelai Tahan Hama Penggerek Polong 1. Reg. 868 x 4179/54/1/0/0/0 2. Reg. C.79276-B-130-5 3. Reg. 1682/1248 4. Pop x Zwart No.2 5. Reg. F.62-3977 6. Kedelai susu 7. Kedelai hijau 8. Lokal hitam 9. Kedelai kepet 10. Kedelai godek 11. TK No. 5 12. Lokal Bima Hijau Info Lengkap
53 2016 Daftar Plasma Nutfah Kacang Hijau Tahan Hama Penggerek Polong 2016 1. Reg. 1461. No.73-Sp-Kn 2. VC.4443A 3. MLG-169 4. MLG-178 5. MLG-237-m 6. MLG-248 7. MLG-251 8. MLG-266 Info Lengkap
54 2016 Daftar Plasma Nutfah Ubi Jalar Terkarakterisasi Sifat Ketahanan Terhadap Hama Lanas/Boleng dengan Kandungan Terpenoid Rendah 1. Reg. IB 00018 (Galur No. 255) 2. Reg. IB 00173 (Prambanan 28) 3. Reg. IB 00703 (Bis 192-55-92) 4. Reg. IB 00087 (B.0072) Info Lengkap
55 2016 Diperoleh 30 aksesi padi bereaksi agak tahan (AT) dan 2 aksesi padi bereaksi tahan terhadap HDB strain III yaitu: aksesi Siraja Bunga (No. Reg. 8190) dan aksesi RD 19 (No. Reg. 20943). 4 (empat) aksesi bereaksi agak tahan terhadap HDB strain IV dan 2 aksesi bereaksi agak tahan terhadap HDB strain VIII yaitu Segon Darat dan RD 19 Info Lengkap
56 2016 10 aksesi tahan terhadap Blas Daun dan 51 aksesi padi tahan terhadap Blas Leher Info Lengkap
57 2016 16 aksesi jagung bereaksi sangat tahan dan 23 aksesi bereaksi tahan terhadap penyakit Bulai Info Lengkap
58 2016 30 aksesi padi terkarakterisasi terhadap kandungan antosianin dan 50 aksesi ubi kayu terkarakterisasi kandungan pati Info Lengkap
59 2016 Sebanyak 192 aksesi telah dilakukan karakterisasi secara molekuler untuk digunakan dalam mendeskriminasi genotip-genotip ubi jalar. Dari 192 aksesi mengelompok menjadi 2 kluster utama masing-masing 153 aksesi dan 39 aksesi Info Lengkap
60 2016 Hasil rejuvenasi benih tahun 2016 Info Lengkap
61 2016 Total aksesi plasma nutfah aneka tanaman ubi yang telah direjevunesi melalui konservasi lapang telah recapai dan daftar lengkap bisa dilihat di dalam database masing-masing komoditasnya. Info Lengkap
62 2016 Aksesi plasma nutfah aneka umbi yang existing dikonservasi secara in vitro adalah plasma nutfah ubijalar sejumlah 450 aksesi dan plasma nutfah talas ditambah belitung sejumlah 250 aksesi. Sejumlah aksesi tersebut disubkultur secara rutin. Info Lengkap
63 2016 Laporan akhir kegiatan 2016 (lampiran ) Info Lengkap

Galur

Daftar Galur
No Tahun Nama Galur Deskripsi Keunggulan
1 2012 M2CBio001B M2CBio002B M2CBio003B M2CBio004B M2CBio005B M2CBio006B M2CBio007B M2CBio008B Turunan kedua mutan cabai varietas Gelora yang dimutasi dengan EMS secara in vitro Bersifat tahan terhadap ChiVMV produksi lebih tinggi dari tanaman kontrol Info Lengkap
2 2012 M2CBio009B M2CBio0010B M2CBio0011B M2CBio0012B M2CBio0013B M2CBio0014B M2CBio0015B M2CBio0016B M2CBio0017B M2CBio0018B M2CBio0019B M2CBio0020B M2CBio0021B M2CBio0022B M2CBio0023B M2CBio0024B M2CBio0025B M2CBio0026B M2CBio0027B M2CBio0028B Turunan kedua mutan cabai varietas Gelora hasil mutas dengan EMS secara in vitro Tahan terhadap ChiVMV strain CKB (Cikabayan) dan produksi rendah dari tanaman kontrol Info Lengkap
3 2013 F1CdAk-1; F1CdAk-2; F1CdAk-3; F1CdAk-4; F1CdAk-5; F1CdAk-6; F1CdAk-7; F1CdAk-8; F1CdAk-9; F1CdAk-10; F1CdAk-11; F1CdAk-12; F1CdAk-13; F1CdAk-14; F1CdAk-15; F1CdAk-16 F1 hasil persilangan antara Code dan Angke Memiliki gen ketahanan X14, xa5 dan Xa7 terhadap penyakit HDB Info Lengkap
4 2013 F1Cih21-1; F1Cih21-2; F1Cih21-3; F1Cih21-4; F1Cih21-5; F1Cih21-6; F1Cih21-7; F1Cih21-8; F1Cih21-9; F1Cih21-10; F1Cih21-11; F1Cih21-12; F1Cih21-13; F1Cih21-14; F1Cih21-15; F1Cih21-16; F1Cih21-17; F1Cih21-18; F1Cih21-19; F1Cih21-20; F1Cih21-21; F1Cih21-22 F1 hasil persilangan antara Ciherang dengan IRBB21 Galur ini memiliki gen ketahanan Xa21 terhadap HDB Info Lengkap
5 2013 F1In1321-1; F1In1321-2; F1In1321-3; F1In1321-4; F1In1321-5; F1In1321-6; F1In1321-7; F1In1321-8; F1In1321-9; F1In1321-10; F1In1321-11; F1In1321-12; F1In1321-13; F1In1321-14; F1In1321-15; F1In1321-16; F1In1321-17; F1In1321-18; F1In1321-19; F1In1321-20; F1In1321-21; F1In1321-22; F1In1321-23; F1In1321-24; F1In1321-25; F1In1321-26 F1 hasil persilangan antara Inpari13 dengan IRBB21 Galur ini memiliki gen ketahanan Xa21 terhadap HDB Info Lengkap
6 2013 BMIP40; BMIP37; BMIP34; BMIP31; BMIP35 Hasil persilangan IR64 X O. rufipogon Memiliki sifat ketahanan multigenik terhadap penyakit blas karena mengandung gen ketahanan Pia-A (BC), Pi3-CP4, Pi5-M, Pikm-TS, Piz-T, Piz5-CA dan Pita-K1 Info Lengkap
7 2013 BMIP1; BMIP2; BMIP3; BMIP4; BMIP25; Bio110 Hasil persilangan IR64 X O. rufipogon Memiliki sifat ketahanan multigenik terhadap penyakit blas karena mengandung gen ketahanan Pia-A (A), Pii, Pish-S, Piks, Pi11-zH-A(1), Piz-Fu dan Pita2-Pe Info Lengkap
8 2013 BMIP46; BMIP32; BMIP41; BMIP18; BMIP6; BMIP17; BMIP15; BMIP16; BMIP33; BMIP28; BMIP42; BMIP43 Hasil persilangan IR64 X O. rufipogon Memiliki sifat ketahanan multigenik terhadap penyakit blas karena mengandung gen ketahanan Pita-CT2 Info Lengkap
9 2013 BMIP39; BMIP29; BMIP21; BMIP13; BMIP38; BMIP7; BMIP5; BMIP20; BMIP49; BMIP50; BMIP27; BMIP44; BMIP45; BMIP47; BMIP48; BMIP8; BMIP24; BMIP30; BMIP26; BMIP22; BMIP23; BMIP9; BMIP10; BMIP19; BMIP14; BMIP11; BMIP12 Hasil persilangan IR64 X O. rufipogon Memiliki sifat ketahanan multigenik terhadap penyakit blas karena mengandung gen ketahanan Pi11-zH-A(2) dan Pita2-P1 Info Lengkap
10 2013 DCF1ChICA-1; DCF1ChICA-2; DCF1ChICA-3; DCF1ChICA-4; DCF1ChICA-5; DCF1ChICA-6; DCF1ChICA-7; DCF1ChICA-8; DCF1ChICA-9; DCF1ChICA-10; DCF1ChICA-11; DCF1ChICA-12; DCF1ChICA-13; DCF1ChICA-14; DCF1ChICA-15; DCF1ChICA-16; DCF1ChICA-17; DCF1ChICA-18; DCF1ChICA-19; DCF1ChICA-20; DCF1ChICA-21; DCF1ChICA-22; DCF1ChICA-23; DCF1ChICA-24; DCF1ChICA-25; DCF1ChICA-26; DCF1ChICA-27; DCF1ChICA-28; DCF1ChICA-29; DCF1ChICA-30; DCF1ChICA-31; DCF1ChICA-32; DCF1ChICA-33; DCF1ChICA-34; DCF1ChICA-35; DCF1ChICA-36; DCF1ChICA-37; DCF1ChICA-38; DCF1ChICA-40 Hasil double cross antara F1 CiherangxIRBB21 dengan F1 Code X Angke-1 Galur ini memiliki gen ketahanan Xa4, x15, Xa7 dan Xa21 Info Lengkap
11 2013 DCF1InICA-1; DCF1InICA-2; DCF1InICA-3; DCF1InICA-4; DCF1InICA-5; DCF1InICA-6; DCF1InICA-7; DCF1InICA-8; DCF1InICA-9; DCF1InICA-10; DCF1InICA-11; DCF1InICA-12; DCF1InICA-13; DCF1InICA-14; DCF1InICA-15; DCF1InICA-16; DCF1InICA-17; DCF1InICA-18; DCF1InICA-19; DCF1InICA-20; DCF1InICA-21; DCF1InICA-22; DCF1InICA-23; DCF1InICA-24; DCF1InICA-25; DCF1InICA-26; DCF1InICA-27; DCF1InICA-28; DCF1InICA-29; DCF1InICA-30 Hasil double cross antara F1 InparixIRBB21//Code X Angke-264 Galur ini memiliki gen ketahanan Xa4, x15, Xa7 dan Xa22 Info Lengkap
12 2011 A242 Persilangan Atlantic x transgenik Katahdin SP904 Tahan terhadap penyakit hawar daun P. infestans Info Lengkap
13 2011 C137 Persilangan Granola x transgenik Katahdin SP904 Tahan terhadap penyakit hawar daun P. infestans Info Lengkap
14 2011 G. 1.2.6 ; G.1.4.2 Granola hasil transformasi dengan gen RB Tahan terhadap penyakit hawar daun P. infestans Info Lengkap
15 2012 B169; B11; B162 Persilangan Atlantic x transgenik Katahdin SP951 Tahan terhadap penyakit hawar daun P. infestans Info Lengkap
16 2012 D76 Persilangan Granola x transgenik Katahdin SP951 Tahan terhadap penyakit hawar daun P. infestans Info Lengkap
17 2013 B35 Persilangan Atlantic x transgenik Katahdin SP951 Tahan terhadap penyakit hawar daun P. infestans Info Lengkap
18 2013 D12; D25; D15 Persilangan Granola x transgenik Katahdin SP951 Tahan terhadap penyakit hawar daun P. infestans Info Lengkap
19 2010 M2-W-A Seleksi pedigree Iradiasi kalus varietas Wilis Umur genjah Info Lengkap
20 2010 M2-W-B Seleksi pedigree mutasi kimia kalus varietas Wilis Umur genjah Info Lengkap
21 2010 M2-Bal-A Seleksi pedigree iradasi kalus varietas Baluran Umur genjah Info Lengkap
22 2010 M2-Bal-B Seleksi pedigree mutasi kimia kalus varietas Baluran Umur genjah Info Lengkap
23 2010 M2-Br-A Seleksi pedigree Iradiasi kalus varietas Burangrang Umur genjah Info Lengkap
24 2010 M2-Br-B Seleksi pedigree mutasi kimia kalus varietas Burangrang Umur genjah Info Lengkap
25 2010 M2-Gr-A Seleksi pedigree Iradiasi kalus varietas Grobogan Umur genjah Info Lengkap
26 2010 M2-Gr-B Seleksi pedigree mutasi kimia kalus varietas Grobogan Umur genjah Info Lengkap
27 2010 BC1F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-3; BC1F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-7; BC1F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-12; BC1F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-18 Empat galur BC2F1-Ciherang telah diseleksi marka molekuler menggunakan primer gen CsNitr1-L dan primer Pup1. Keempat galur ini menunjukkan positif mengandung gen CsNitr1-L dan Pup1. Empat galur BC2F1-Ciherang mengandung gen CsNitr1-L dan Pup1 berdasarkan analisis molekuler Info Lengkap
28 2011 M4-W-A Seleksi pedigree Iradiasi kalus varietas Wilis Umur genjah Info Lengkap
29 2011 M4-W-B Seleksi pedigree mutasi kimia kalus varietas Wilis Umur genjah Info Lengkap
30 2011 M4-Bal-A Seleksi pedigree iradasi kalus varietas Baluran Umur genjah Info Lengkap
31 2011 M4-Bal-B Seleksi pedigree mutasi kimia kalus varietas Baluran Umur genjah Info Lengkap
32 2011 M4-Br-A Seleksi pedigree Iradiasi kalus varietas Burangrang Umur genjah Info Lengkap
33 2011 M4-Br-B Seleksi pedigree mutasi kimia kalus varietas Burangrang Umur genjah Info Lengkap
34 2011 M4-Gr-A Seleksi pedigree Iradiasi kalus varietas Grobogan Umur genjah Info Lengkap
35 2011 M4-Gr-B Seleksi pedigree mutasi kimia kalus varietas Grobogan Umur genjah Info Lengkap
36 2011 BC2F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-3; BC2F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-11; BC2F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-24; BC2F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-30; BC2F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-31; BC3F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-4; BC3F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-5; BC3F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-7; BC3F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-14; BC3F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-50; BC4F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-78; BC4F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-79 Seleksi marka molekuler menggunakan primer Cs dan primer Pup1 Toleran pupuk N dan P rendah Info Lengkap
37 2010 BC2F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-19; BC2F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-20; BC2F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-21; BC2F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-22; BC2F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-23; BC2F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-24; BC2F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-25; BC2F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-26; BC2F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-27 Sembilan galur BC2F1-Situ Bagendit::CsNitr1-L-Pup1 telah diseleksi marka molekuler menggunakan primer CsNitr1-L dan Pup1. Terdapat galur BC2F1-Situ Bagendit::CsNitr1-L-Pup1 mengandung gen CsNitr1-L dan Pup1 berdasarkan analisis molekuler Info Lengkap
38 2011 BC3F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-10; BC3F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-11; BC3F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-21; BC3F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-34; BC3F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-38; BC3F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-47; BC4F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-138; BC4F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-140; BC4F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-142 Seleksi marka molekuler menggunakan primer Cs dan primer Pup1 Toleran pupuk N dan P rendah Info Lengkap
39 2012 BC5F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-23; BC5F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-24; BC5F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-27; BC5F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-28; BC5F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-30; BC5F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-37; BC5F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-38; BC5F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-46; BC5F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-47; BC5F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-57; BC6F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-3; BC6F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-7; BC6F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-11; BC6F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-12; BC6F1 Cherang::CsNtr1-L-Pup1-13; Seleksi marka molekuler menggunakan primer Cs dan primer Pup1 Toleran pupuk N dan P rendah Info Lengkap
40 2012 BC5F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-135; BC5F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-156; BC5F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-172; BC5F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-176; BC5F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-178; BC5F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-179; BC5F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-180; BC5F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-181; BC5F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-182; BC5F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-183; BC6F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-110; BC6F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-111; BC6F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-112; BC6F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-195; BC6F1 Situ Bagendit::CsNtr1-L-Pup1-200; Seleksi marka molekuler menggunakan primer Cs dan primer Pup1 Toleran pupuk N dan P rendah Info Lengkap
41 2010 INPARI HDB Inpari HDB selain tahan HDB berasal dari galur harapan Bio 5-AC-Blas/BLB-03, pada perakitan galur harapan BIO5-AC-Blas/BLB-03 telah diterapkan teknik kultur antera dan seleksi dengan marka molekuler untuk penyakit hawar daun bakteri, yaitu marka untuk deteksi gen Xa7 (Xa7-LD-40 dan Xa7-SNP11). Selain tahan HDB varietas ini juga tahan wereng coklat dan sumber ketahanan OPT diperoleh dari spesies padi liar Oryza rufipogon, sehingga gen ketahanan yang ada pada varietas tersebut berbeda dengan gen ketahanan pada varietas unggul terdahulu. Di samping itu, kepastian keberadaan gen ketahanan dalam VUB juga telah dikonfirmasi dengan seleksi marka molekuler. Dari sisi produksi, Inpari HDB lebih tinggi dibandingkan Ciherang, yaitu 6,621 t/ha dan 6,759 t/ha. VUB tersebut juga diketahui tahan tungro, suatu keunggulan yang tidak dimiliki oleh tetua sebelumnya dan VUB yang sudah dilepas saat ini. Meski Inpari HDB memiliki tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan Ciherang, tetapi mempunyai umur tanaman yang sepadan, yaitu sekitar 80-85 hari. Sedangkan dari segi anakan produktif, persentase gabah hampa per malai pada Inpari HDB 23% telah berhasil ditekan dibandingkan dengan Ciherang (29%) sehingga produksinya bisa lebih tinggi. Dari sisi rendemen beras putih, Inpari HDB masih lebih rendah dibandingkan dengan Ciherang dan Inpari 1, tetapi persentase beras kepalanya sepadan dengan varietas Ciherang. Secara morfologi, beras Inpari HDB mempunyai ukuran panjang, bentuk sedang, dan pengapuran rendah sampai sedang. Kadar amilosa Inpari HDB dikategorikan sedang sehingga masih dianggap bernasi cukup pulen. Inpari HDB sesuai dibudidayakan di lahan sawah irigasi dan tadah hujan pada ketinggian rendah sampai 500 m dari permukaan laut (dpl). Penanaman dengan cara Pengelolaan Tanam Terpadu (PTT) lebih dianjurkan. Karena varietas ini tahan wereng coklat, HDB, dan tungro, maka penanaman VUB bisa dilakukan di daerah endemik wereng coklat, HDB, dan tungro seperti di Bali, Sulawesi Selatan, dan sebagian Jawa Barat (Subang dan Sumedang). Dengan kemampuannya menekan serangan OPT utama di daerah endemik dan produksinya lebih tinggi 0,1-0,25 t/ha dibandingkan dengan Ciherang, kontribusi Inpari HDB dan Inpari Blas dalam mendukung progras swasembada beras sangat signifikan. Info Lengkap
42 2010 INPARI BLAS Inpari Blas berasal dari galur harapan BIO111-BC-Pir7, hasil perakitan berdasarkan metode silang balik, seleksi dengan marka molekuler untuk ketahanan blas yang mendeteksi gen Pir7 (Pi-LD7 dan SNP7). Selain tahan Blas varietas ini juga tahan wereng coklat dan sumber ketahanan OPT diperoleh dari spesies padi liar Oryza rufipogon, sehingga gen ketahanan yang ada pada varietas tersebut berbeda dengan gen ketahanan pada varietas unggul terdahulu. Di samping itu, kepastian keberadaan gen ketahanan dalam VUB juga telah dikonfirmasi dengan seleksi marka molekuler. Dari sisi produksi, Inpari Blas lebih tinggi dibandingkan Ciherang, yaitu 6,621 t/ha dan 6,759 t/ha. VUB tersebut juga diketahui tahan tungro, suatu keunggulan yang tidak dimiliki oleh tetua sebelumnya dan VUB yang sudah dilepas saat ini. Meski Inpari Blas memiliki tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan Ciherang, tetapi mempunyai umur tanaman yang sepadan, yaitu sekitar 80-85 hari. Sedangkan dari segi anakan produtktif, persentase gabah hampa per malai pada Inpari Blas 20% telah berhasil ditekan dibandingkan dengan Ciherang (29%) Inpari Blas masih lebih rendah dibandingkan dengan Ciherang dan Inpari 1, tetapi persentase beras kepalanya sepadan dengan varietas Ciherang. Secara morfologi, beras Inpari Blas mempunyai ukuran panjang, bentuk sedang, dan pengapuran rendah sampai sedang. Kadar amilosa Inpari Blas dikategorikan sedang sehingga masih dianggap bernasi cukup pulen. Inpari Blas sesuai dibudidayakan di lahan sawah irigasi dan tadah hujan pada ketinggian rendah sampai 500 m dari permukaan laut (dpl). Penanaman dengan cara Pengelolaan Tanam Terpadu (PTT) lebih dianjurkan. Karena varietas ini tahan wereng coklat, Blas, dan tungro, maka penanaman kedua VUB bisa dilakukan di daerah endemik wereng coklat, blas dan tungro seperti di Bali, Sulawesi Selatan, dan sebagian Jawa Barat (Subang dan Sumedang). Dengan kemampuannya menekan serangan OPT utama di daerah endemik dan produksinya lebih tinggi 0,1-0,25 t/ha dibandingkan dengan Ciherang, konstribusi Inpari Blas dalam mendukung progras swasembada beras sangat signifikan. Info Lengkap
43 2012 Klon nilam Bio 6 Klon Bio 6 merupakan klon hasil mutasi dengan iradisi sinar gamma den diseleksi secara in vitro menggunakan PEG. Tetua Bio 6 adalah tapaktuan. Bio 6 mempunyai sifat toleran terhadap kekeringan. Info Lengkap
44 2012 Klon Bio 6 Klon Bio 6 merupakan turunan dari nilam varietas tapaktuan hasil mutasi dengan iradiasi sinar gamma dan seleksi in vitro menggunakan PEG untuk menyeleksi sifat toleransi terhadap kekeringan. Klon Bio 6 mempunyai sifat toleran terhadap kekeringan. Info Lengkap
45 2012 Bio 6 Klon Bio 6 merupakan turunan dari varietas tapaktuan yang diberi iradiasi sinar gamma dan di seleksi secara in vitro dan di rumah kaca dengan PEG. Pengujian di Serang : Klon Bio 6 mempunyai persentase hidup lebih besar dibanding tetuanya (tapaktuan), lhoksemauwe dan lokal Serang. Pertumbuhan Bio 6 tidak berbeda dengan varietas yang diuji dan tetua kecuali lokal Serang, tetapi rendemen minyak/tanaman lebih besar daripada varietas lain. Pengujian di Sukabumi : persentase hidup Bio 6 lebih besar dibanding tapaktuan. Pertumbuhan Bio 6 tidak berbeda dengan semua varietas yang diuji tetapi berbeda nyata dengan lokal Sukamulya. Kadar Patchouly alkohol dari Bio 6 lebih besar dari tapaktuan, sidikalang, lhoksemauwe dan lokal Sukabumi. Info Lengkap
46 2013 Klon Bio 6 Klon Bio 6 telah diperbanyak secara vegetatif untuk dilakukan uji daya hasil di 3 lokasi, yaitu Pemalang, Purbalingga dan Kulon Progo. Sebagai pembanding digunakan varietas tetua yaitu tapaktuan dan varietas komersial lainnya yaitu Sidikalang, Lhoksemauwe dan lokal. Klon Bio 6 mempunyai sifat toleran terhadap kekeringan. Info Lengkap
47 2013 AB-1500-5-10 HP-1250-1-11 HP-1250-4-6 HP-1250-4-8 HP-1250-5-10 OA-1250-1-1 0A-1250-2-1 AB-1000-1-3 AB-1000-3-9 HP-1000-4-5 HP-1000-7-3 2HP-1000-2-16 2HP-1000-3-9 3HP-1000-4-1 3HP-1000-4-3 4RB-750-6-8 4RB-750-8-3 2RB-1500-1-2 2RB-1500-2-4 2RB-1500-2-10 3RB-1500-2-2 5RB-1500-3-1 5RB-1500-4-4 5RB-1500-5-7 5RB-1500-6-2 5B-1500-7-3 5RB-1500-7-5 2RB-1250-2-2 1SL-1250-2-1 1SL-1250-5-4 1SL-1250-5-9 2SL-1250-1-14 2SL-1250-2-5 2SL-1250-2-10 2SL-1250-3-5 DW-750-1-3 DW-750-2-1 DW-750-3-1 DW-750-3-3 DW-750-4-17 DW-750-4-28 DW-750-5-5 DW-750-6-12 2DW-750-1-12 3DW-750-1-37 3DW-750-2-12 3DW-750-5-8 3DW-750-6-22 4DW-750-1-6 4DW-750-1-8 4DW-750-2-2 4DW-750-2-3 4DW-750-3-5 4DW-750-3-14 4DW-750-4-3 4DW-750-4-9 1DW-1250-9-16 1DW-1250-10-6 1DW-1250-11-10 Galur mutan gandum generasi M3 Galur-galur ini mempunyai sifat adaptif pada kondisi tropis dan ketinggian dibawah 900 m dpl. Info Lengkap
48 2011 Informasi keragaman agronomi dari galur-galur mutan kedelai M2 a. Galur mutan M2 hasil perlakuan iradiasi sinar gamma Galur mutan M2 - Wilis mempunyai umur berbunga 38-45 (var.cek berbunga 39 hari) Mutan M2-Baluran berbunga pada umur 36-42 hari (var. cek berbunga 36 hari) Mutan M2- Burangrang berbunga pada umur 38-45 hari (var. cek berbunga umur 38 hari) Mutan M2-Grobogan berbunga pada umur 29-34 hari (ver. cek berbunga 29 hari) b. Galur mutan M2 hasil perlakuan mutasi dengan EMS Mutan M2-Wilis berbunga pada umur 38-46 hari (var. cek berbunga umur 39 hari) Mutan M2-Baluran berbunga pada umur 34-4 hari (var. cek berbunga umur 34 hari) Mutan M2- Burangrang berbunga pada umur 34-38 hari )var. cek berbunga 34 hari) Mutan M2-Grobogan berbunga pada umur 30-33 hari (vr. cek berbunga 30 hari) c. Mutan M2 grobogan dengan iradiasi dan EMS mempunyai jumlah polong dan bobot biji/tanaman lebih besar dibandingkan dengan kontrol. Rata-rata jumlah polong dari mutan M2 iradiasi dan EMS adalah 33,9 dan 38,0 sedangkan tanaman kontrol mempunyai rata-rata jumlah polong 22,4. Demikian pula dengan bobot biji/tanaman, dimana rata-rata bobot biji/tanaman dari mutan M2 iradiasi dan EMS adalah 16,7 g dan 17,4 g, sedangkan pada tanaman kontrol hanya 9,8 gram. Galur-galur mutan ada yang mempunyai umur berbunga lebih cepat dibanding tetua (kontrol) serta mempunyai jumlah polong dan bobot biji per tanaman lebih besar dibanding kontrol. Info Lengkap
49 2012 Tanaman putatif transforman (T0) yang toleran terhadap penyakit layu Fusarium di Rumah Kaca Pengujian tanaman putatif transforman mengandung gen kitinase (chi) dilakukan dengan menginvestasikan larutan spora Fusarium oxysporum Strain VCG 01213/16 (Tropical Race 4) densitas 1-10 juta pada tanaman hasil aklimatisasi plantlet yang telah melalui seleksi in vitro. Tanaman yang dihasilkan mempunyai toleransi terhadap penyakit layu fusarium. Info Lengkap
50 2012 Tanaman pisang Ambon Kuning putatif mutan (MV1) yang toleran terhadap penyakit layu Fusarium di lahan endemik Dari 50 galur somaklon pisang Ambon Kuning yang diuji toleransinya terhadap penyakit layu fusarium di lahan endemik, 12 galur somaklon toleran terhadap penyakit layu dan dapat tumbuh sampai masa berproduksi menghasilkan buah. Tanaman pisang Ambon Kuning merupakan salah satu jenis pisang yang rentan terhadap penyakit layu fusarium. Diharapkan dengan diperolehnya tanaman somaklon yang toleran dapat mengatasi penurunan produksi pisang. Info Lengkap
51 2013 Galur pisang Ambon Kuning mutan somaklon (MV3) yang toleran terhadap penyakit layu fusarium di lahan endemik Galur-galur MV3 merupakan anakan dari mutan somaklon MV2 yang telah diuji toleransinya terhadap penyakit layu fusarium sampai masa berproduksi. Tanaman yang toleran terhadap penyakit layu fusarium dapat mengatasi penurunan produktifitas tanaman pisang. Info Lengkap
52 2013 Galur kedelai toleran kekeringan W-A-2-546, W-B-7-722, Bal-B-5-456, W-A-5-540, W-A-1-546, , Bal-A-3-115, Bal-B-4-420, Bal-B-4-430, Bal-B-5-431, dan Bal-B-3-437). Umur genjah (lebih kurang 75 hari), biji sedang hingga besar, cabang dan polong banyak (37-70 polong/tanaman) Umur genjah dan berdaya hasil tinggi Info Lengkap
53 2013 1 BMIP-2 = IPBM-2-3-2 2 BMIP-3 = IPBM-32-1-2-1-1 3 BMIP-29 = BMIP-24-1-4-2 4 BMIP-30 = BMIP-40-2-1-1 5 BMIP-31 = BMIP-40-2-1-2 6 BMIP-42 = BMIP-24-1-1-1-1 7 BMIP-43 = BMIP-24-1-1-1-2 8 BMIP-44 = BMIP-24-1-1-1-3 9 BMIP-45 = BMIP-24-1-1-1-4 Karakterisasi agronomi berdasarkan uji rumah kaca dan lapang Galur BMIP2 = IPBM2-3-2 1. Umur burbunga : 79 hari 2. Umur panen : 105 hari 3. Tinggi tanaman : 90.5 cm 4. Jumlah anakan maksimum : 19 5. Jumlah anakan produktif : 14 6. Panjang malai : 24,4 cm 7. Jumlah gabah isi / malai : 45 8. Jumlah gabah hampa / malai : 72 9. Jumlah gabah total per malai : 117 10. Bobot 100 butir : 1,2 gr Galur-galur tahan penyakit blas daun dan blas leher Info Lengkap
54 2013 M3.153.1/M3.CBio001L M3.153.2/M3.CBio0028L M3.200.2/M3.CBio003L M3.122.1/M3.CBio004L M3.238.1/M3.CBio005L M3.238.2/M3.CBio0029L M3.353.1/M3.CBio006L M3.420.1/M3.CBio007L M3.517.1/M3.CBio008L M3.517.2/M3.CBio0030L Galur mutan tahan ChiVMV dan produksi tinggi Galur mutan ini adalah mutan yang bersifat durable resistance tahan terhadap chivmv strain Lembang dan CKB serta produksi tinggi dan merupakan keturunan dari Mutan generasi 2 yang memiliki sifat yang sama. Sehingga mutan ini bisa dikembangkan lebih lanjut sebagai varietas baru melalui uji multi lokasi Info Lengkap
55 2012 Gandum Putatif Adaptif Panas Gandum tahan panas masih terseleksi dengan higromisin. Toleran panas di daerah tropik Info Lengkap
56 2013 Lini transgenik padi tahan penggerek batang padi: 1. KS 221 2. KS 222 3. KS 231 4. KS 233 5. KS 3211 6. KS 3213 7. KS 3214 8. KS 3221 9. KS 3222 10. KS 3224 11. NB 81 12. NB 82 13. NB 91 Galur tanaman padi transgenik tahan HPBP Galur positif membawa gen Cry1Ac Info Lengkap
57 2012 F4,2, F4,4, F5.5, F6.2, F6.4 Ke lima (5) Galur gandun putatif generasi T2 toleran kekeringan yang ditransformasi menggunakan gen OsDREB1A Galur gandum toleran kekeringan Info Lengkap
58 2013 P-T--16, 10, P-T, P-T-163, P-T-173, P-T-208, P-T-216, P-T-218, P-T-366, F-T-34, F-T- 366. Galur gandum (T0) yang mengandung gen toleran panas tahan higromisin Galur gandum tahan higromisin Info Lengkap
59 2012 Sebanyak 225 Galur M5-6 yang berasal dari mutasi kalus varietas Wilis, Burangrang, Baluran, dan Grobogan (Nama setiap galur berikut karakter agronomisnya dapat di lihat pada file data dukung) Galur yang berasal dari mutasi iradiasi kalus secara fisik (iradiasi) dan kimia pada varietas Wilis, Burangrang, Baluran, dan Grobogan Umur genjah dengan karakter agronomois baik (polong dan cabang banyak) Info Lengkap
60 2012 Sebanyak 50 galur M6 yang berasa dari mutasi kalus (iradiasi dan kimia) pada varietas Wilis, Brangrang, Baluran, dan Grobogan. Data lengkap dapat dilihat pada file data dukung Umur genjah produktivitas lebih tinggi. Info Lengkap
61 2013 CS-BC1F1-176 Galur hasil silang balik pertama Ciherang dengan Swarnalata pembawa gen Bph6 yang merupakan gen ketahanan terhadap wereng batang coklat (WBC) Gen Bph6 tahan terhadap populasi WBC lapang paling virulen yang dikoleksi BB-Biogen Info Lengkap
62 2012 Sebanyak 40 galur M7 kedelai asal iradiasi dan mutasi kimia kalur varietas Wilis, Burangrang, Baluran, dan Grobogan yang berumur genjah dan karakter agronomis baik 40 galur M7 kedelai asal iradiasi dan mutasi kimia kalur varietas Wilis, Burangrang, Baluran, dan Grobogan dengan karakter agronomis 40 galur M7 kedelai asal iradiasi dan mutasi kimia kalur varietas Wilis, Burangrang, Baluran, dan Grobogan yang berumur genjah dan karakter agronomis baik Info Lengkap
63 2013 1000 galur M 3 asal iradiasi kalus yang diberi nama: M3-Rad-F8 ked cina x ked jepang-1-1000 1000 galur M 3 terbaik (M3-Rad-F8 ked cina x ked jepang-1-1000) dengan karakter polong banyak, biji besar, dan umur genjah lebih genjah Polong dan cabang lebih banyak, biji lebih besar, umur relatif lebih genjah Info Lengkap
64 2010 Galur transforman kedelai-GmNFR1a Transforman-transforman diduga telah membawa gen GmNFR1a Transforman mengandung gen untuk efektifitas nodulasi Info Lengkap
65 2010 Galur transforman tembakau-AtCO Galur transforman tembakau yang telah diinsersi dengan gen AtCO untuk karakter umur genjah Galur tembakau transforman yang mengandung gen AtCO akan berumur genjah Info Lengkap
66 2011 Galur kedelai T1-ACOP-2-3, Galur kedelai T1-ACOP-2-5, Galur kedelai T1-ACOP-2-6, Galur kedelai T1-ACOP-2-7 dan Galur kedelai T1-ACOP-2-9 Galur-galur tersebut merupakan galur-galur kedelai Anjasmoro yang telah disisipi dengan gen untuk produktivitas dan umur genjah (AtCO) Galur-galur kedelai transgenik tersebut dapat dikembangkan menjadi galur unggul yang mempunyai umur genjah dan produktivitas tinggi Info Lengkap
67 2011 Galur-galur transforman kedelai Anjasmoro dan Wilis Galur-galur transforman kedelai Anjasmoro dan Wilis merupakan galur-galur hasil transformasi yang disisipi gen untuk karakter target (umur genjah atau produktivitas) Galur-galur transforman tersebut dapat dikembangkan menjadi galur-galur unggul transgenik yang mempunyai karakter yang diinginkan yaitu produktivitas tinggi atau umur genjah Info Lengkap
68 2012 Galur-galur transforman kedelai-GmNFR1a Galur-galur kedelai transforman tersebut dihasilkan melalui transformasi genetik tanaman kedelai menggunakan gen untuk produktivitas tinggi (GmNFR1a). Gen tersebut akan meningkatkan efektifitas pembentukan nodul yang membantu untuk memfiksasi nitrogen sehingga akan berpengaruh pada peningkatan produksi kedelai Galur-galur kedelai transgenik-GmNFR1a dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan efektivitas penambatan N Info Lengkap
69 2012 Galur kedelai transgenik T2-ACOip-2-3-25, T2-ACOip-2-3-32, T2-ACOip-2-3-34, T2-ACOip-2-3-35 dan T2-ACOip-2-3-44 Galur-galur kedelai transgenik tersebut membawa gen AtCO untuk memperbaiki karakter umur genjah Galur-galur kedelai Anjasmoro-AtCO dapat dikembangkan menjadi galur-galur kedelai unggul yang berumur genjah Info Lengkap
70 2012 Galur mutan padi penanda aktivasi cv. IR64 Galur-galur mutan padi penanda aktivasi cv. IR64 merupakan galur padi IR64 yang telah ditransformasi menggunakan konstruk penanda aktivasi sehingga galur-galur mutan-mutan tersebut dapat digunakan sebagai materi untuk mengidentifikasi karakter-karakter penting seperti toleran kekeringan, produktivitas tinggi atau umur genjah Galur-galur mutan penanda aktivasi cv. IR64 dapat mengalami mutasi pada karakter-karakter penting untuk pertanian sehingga dapat diisolasi gennya. Info Lengkap
71 2013 Galur Mutan Penanda Aktivasi cv. T309 Galur-galur mutan penanda aktivasi kultivar T309 merupakan galur-galur padi mutan yang disisipi dengan elemen transposon Ac/Ds untuk menghasilkan galur-galur akan mengalami perubahan fenotipik sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi gen Galur-galur padi mutan penanda aktivasi dapat digunakan untuk mengidentifikasi gen-gen penting untuk pertanian seperti toleran kekeringan, salinitas atau cekaman abiotik lain serta cekaman biotik. Info Lengkap
72 2013 Galur padi transgenik Ciherang-OsDREB1A Galur-galur padi transgenik Ciherang-OsDREB1A merupakan padi Ciherang transgenik yang membawa gen OsDREB1A untuk toleransi terhadap salinitas tinggi. Galur-galur tersebut telah dikembangkan melalui backcross dan saat ini telah sampai pada generasi BC5F2. Galur-galur padi transgenik Ciherang-OsDREB1A tersebut toleran terhadap salinitas tinggi Info Lengkap
73 2012 Lini transgenik padi tahan penggerek batang padi: 1. KS 221, 2. KS 222, 3. KS 231, 4. KS 233, 5. KS 3211, 6. KS 3213, 7. KS 3214, 8. KS 3221, 9. KS 3222, 10. KS 3224, 11. NB 81, 12. NB 82, 13. NB 91, 14. KS 21125, 15. KS 21121, 16. KS 21122, 17. KS 21123, 18. KS 32115, 19. KS 32113, 20. KS 1422, 21. KS32114, 22. NB 13211, 23. C 51123, 24 KS 22, 25 KS 321, dan 26. KS 322. Lini transgenik tanaman padi yang membawa gen cryIAc Tahan terhadap hama PBPK Info Lengkap
74 2011 FD1,FD2,FD3,FD4,FD5,FD6,FD7,FD8,FD9,FD10 PD1,PD2,PD3,PD4,PD5,PD6,PD7,PD8,PD9,PD10 Transforman gandum genotipe fasan dan perdix yang mengandung gen OsDREB1A Transforman yang diperoleh diharapkan toleran terhadap suhu tinggi dan adaptif di dataran rendah Info Lengkap
75 2012 Gtuf1,Gtuf2,Gtuf3,Gtuf4,Gtuf5,Gtuf6,Gtuf7,Gtuf8 Gtuf9,Gtuf10,Gtuf11,Gtuf12,Gtuf13,Gtuf14,Gtuf15,Gtuf16 Galur gandum yang mengandung gen tuf hasil transformasi menggunakan bantuan Agrobacterium tumefaciens Galur gandum yang mengandung gen tuf yang diharapkan toleran terhadap suhu tinggi Info Lengkap
76 2013 BC3F5-Ciherang No. 5 BC3F5-Ciherang No. 70 BC3F5-Ciherang No. 76 BC3F5-Ciherang No. 96 BC3F5-Ciherang No. 102 Enam galur BC3F5-Ciherang telah diuji fenotip di lahan terbatas menggunakan dua kondisi perlakuan pupuk yaitu setara dengan 150 kg urea/ha dan 300 kg urea/ha. Kondisi pemupukan setara dengan 300 kg urea/ha merupakan yang umum diaplikasikan oleh petani. Lima galur BC3F5-Ciherang menunjukkan produktivitas, biomassa akar dan biomassa batang cenderung lebih besar dibandingkan dengan tanaman kontrol, varietas Ciherang, namun tidak berbeda nyata. Info Lengkap
77 2013 Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tahun 2014. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tahun 2014. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tahun 2014 Info Lengkap
78 2013 Telah diperoleh 1 set data toleransi tanaman gandum transgenik generasi T1 terhadap suhu tinggi di rumah kaca FUT (suhu 20 dan 30 derajat celcius). Tanaman gandum transgenik generasi T1 yang toleran suhu tinggi (30 derajat celcius) masih mampu menghasilkan biji. Tanaman gandum transgenik generasi T1 toleran pada suhu 30 derajat celcius (di FUT). Info Lengkap
79 2013 benih B3F2 turunan dari tanaman BC3F1 no 33 hasil persilangan antara Gajah Mungkur dan IR64 Uji kebenaran menggunakan marka SSR menunjukkan bahwa individu BC3F1 no. 33 benar merupakan turunan dari hasil persilangan antara IR64 dan galur BC2F8. Dari hasil selfing individu BC3F1 no. 33 ini sudah didapatkan benih 188 galur BC3F2. Benih BC3F2 telah diperoleh dari tanaman BC3F1 no 33 yang telah dianalisis molekuler menggunakan marka SSR yang diduga terpaut dengan segmen introgresi dari Gajah Mungkur yang terkait dengan karakter jumlah gabah per malai. Info Lengkap
80 2013 BC1F1 turunan dari persilangan antara galur Padi Tipe Baru dan Ciherang no 1 BC1F1 turunan dari persilangan antara galur Padi Tipe Baru dan Ciherang no 2 BC1F1 turunan dari persilangan antara galur Padi Tipe Baru dan Ciherang no 3 BC1F1 turunan dari persilangan antara galur Padi Tipe Baru dan Ciherang no 4 sampai dengan BC1F1 turunan dari persilangan antara galur Padi Tipe Baru dan Ciherang no 34 Sebanyak 50 tanaman BC1F1 diseleksi molekuler menggunakan marka SSR polimorfik. Telah terpilih 34 galur BC1F1 yang disilang balik dengan Ciherang sehingga telah diperoleh 34 kantung benih BC2F1 Ciherang x galur Padi Tipe Baru Info Lengkap
81 2013 BC1F1 turunan dari persilangan antara padi Code dan NIL-QTL-hasil no 1 sampai dengan no 14. Uji kebenaran menggunakan marka SSR polimorfik menunjukkan bahwa dari 15 individu F1 yang diuji semuanya benar merupakan turunan dari hasil persilangan antara Code dan NILQTL- hasil. Dari hasil silang balik F1 dan Ciherang sudah didapatkan benih 200 galur BC1F1. Telah diperoleh 14 galur BC1F1 hasil persilangan antara Code dan NIL-QTL-hasil yang telah dianalisis molekuler menggunakan marka SSR polimorfik. Info Lengkap
82 2014 DCF1-Cih-21 DCF1-Cih-288 DCF1-Cih-303 DCF1-Inp13-13 DCF1-Inp13-51 DCF1-Inp13-61 DCF1-Inp13-198 BC1F1-Cih-71-37 BC1F1-Cih-71-48 BC1F1-Cih-288-1 BC1F1-Cih-288-5 BC1F1-Cih-288-7 BC1F1-Cih-303-24 BC1F1-Inp13-13-5 BC1F1-Inp13-13-26 BC1F1-Inp13-13-33 BC1F1-Inp13-61-2 BC1F1-Inp13-61-41 BC1F1-Inp13-198-41 BC1F1-Inp13-198-56 Galur-galur padi sawah turunan Ciherang dan Inpari 13 ini merupakan golongan Cere, umur tanaman 120-125 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 81-100 cm, anakan produktif 8-12 batang. Galur-galur padi sawah turunan Ciherang dan Inpari 13 yang telah mengandung 3 gen ketahanan berdasarkan uji ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan seleksi marka molekuler Info Lengkap
83 2014 Benih-benih BC1F1 turunan Ciherang dan Inpari 13 Benih-benih BC1F1 turunan Ciherang dan Inpari 13 yang merupakan hasil silang balik pertama dengan tetua Padi Ciherang dan Tetua padi Inpari 13 Benih-benih BC1F1 turunan Ciherang dan Inpari 13 terpilih yang mengandung gen ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri Info Lengkap
84 2014 Populasi F1 cabai merah hasil persilangan tetua tahan dan peka antraknose Pada awal kegiatan penelitian ini dikembangkan 2 populasi cabai hasil persilangan tetua peka dan tahan antraknose (Tanjung-2 x 0207 dan Kencana x 0207). Pada tahun ini telah dilakukan identifikasi karakter kualitatif berdasarkan marka morfologi yang mengacu pada PPI cabai dan karakter kuantitatif yang diamati dengan pengukuran dan dianalisis secara statistik. Berdasarkan hasil pengamatan, generasi F1 hasil persilangan Tanjung-2 x 0207 maupun Kencana x 0207 sudah seragam. Keseragaman yang dicapai oleh generasi F1 disebabkan oleh tetua yang telah homozigot dan keberhasilan persilangan. Data kesaragaman fenotipe populasi F1 kedua hasil persilangan tersebut sejalan dengan karakterisasi molekuler dengan marka SSR. Pola pita menunjukkan bahwa tanaman F1 yang diuji heterosigot (mengandung pita yang berasal dari kedua tetua). Mengingat saat ini Kencana lebih disukai petani dan mempunyai ideotipe lebih baik daripada tetua Tanjung-2, maka dipilih satu populasi yaitu Kencana x 0207 untuk dikembangkan generasi F2-nya. Populasi cabai yang telah menunjukkan heterosigot yang dikembangkan tersebut dapat dijadikan sumber materi genetik untuk mendapatkan galur-galur tahan antraknose. Info Lengkap
85 2014 Populasi pemuliaan hasil persilangan kentang tahan virus Sebanyak 500 seedling F1 putatif yang paling vigor diperoleh berdasarkan seleksi dari 1000 seedling yang tumbuh dari F1 biji putative. Tanaman F1 putatif berumur 50 hari sudah dipindahkan ke pollybag. Kegiatan ini dilakukan duplikasi (diulang dua kali) sehingga terdapat lagi 500 individu tanaman F1 lainnya. Umbi benih hasil tuber family disimpan digudang setelah sebelumnyan dilakukan seed treatment sampai massa dormansi atau keluar tunas dan umbi ditanam dilapangan untuk proses seleksi galur. Umbi benih tersebut rencananya akan ditanam pada bulan Januari 2015. Sebanyak 200 individu populasi F1 telah dipilih secara acak, DNA genomiknya diisolasi dan dianalisis menggunakan marka SSR/STS terpilih dari database dan disain baru yang digunakan untuk genotyping tetua-tetua kentang dan menentukan heterosigositas populasi F1 yang telah dibentuk. Keragaman genetik tetua-tetua kentang cukup tinggi sesuai genetik backgroundnya. Tanaman F1 menunjukkan pola pita DNA dari kedua tetuanya (Granola dan Atlantik). Populasi kentang F1 hasil persilangan tetua peka (Atlantic) dan tahan (Granola) yang dikembangkan tersebut dapat dijadikan sumber materi genetik untuk mendapatkan galur/klon tahan virus (PLRV,PVA, PVY). Info Lengkap
86 2014 Populasi F1 hasil persilangan DR1 dan Sca12 Populasi F1 dikembangkan dengan melakukan menyilangkan tetua tahan penyakit Phytophthora (Sca12) dan tetua peka (DR1). Sampai saat ini telah diperoleh hampir 50 seedling F1 yang sudah ditanaman di lapang dan sedang menunggu panen buah hasil persilangan lanjutannya untuk memenuhi jumlah populasi pemetaan kakao. Populasi F1 juga telah dikonfirmasi menggunakan primer SSR/SNP yang terverifikasi dan menunjukkan adanya alel dari kedua tetua persilangan. Populasi F1 kakao yang dikembangkan tersebut dapat dijadikan sumber materi genetik untuk mendapatkan galur-galur tahan busuk buah dan karakter lain yang superior hasil seleksi. Info Lengkap
87 2014 Populasi F1 pisang hasil persilangan tetua tahan dan peka penyakit layu Fusarium dan karakter molekulernya Pembentukan populasi F1 (benih) dilakukan dengan menyilangkan tetua tahan, Calcuta dengan tetua peka penyakit layu Fusarium, Microcarpa untuk membuat persilangan Calcuta X Microcarpa. Sejumlah benih F1 sudah dikulturkan pada media MS dan sebagian ditumbuhkan di tray di rumah kaca. F1 putatif telah diuji heterosigositasnya dengan menggunakan marka kodominan (SSR) polimorfik antara kedua tetua persilangan. Populasi F1 pisang yang dikembangkan tersebut merupakan sumber materi genetik untuk mendapatkan galur-galur tahan penyakit layu Fusarium. Info Lengkap
88 2014 M4.1 Galur turunan dari M3.122.1. Memiliki tinggi tanam 60 cm, tinggi dikotmus 30 cm, jumlah buah per tanaman 285 buah, dan bobot buah 620.35 gram, serta warna buah merah dan permukaan halus. Toleran ChiVMV dan memiliki sifat agonomi dan komponen hasil yang baik. Info Lengkap
89 2014 M4.2 Galur turunan dari M3.238.2. Memiliki tinggi tanam 68 cm, tinggi dikotmus 29 cm, jumlah buah per tanaman 337 buah, dan bobot buah 670,48 gram, serta warna buah merah dan permukaan halus. Tahan ChiVMV dan memiliki sifat agonomi dan komponen hasil yang baik. Info Lengkap
90 2014 M4.3 Galur turunan dari M3. 238.3. Memiliki tinggi tanam 63 cm, tinggi dikotmus 23 cm, jumlah buah per tanaman 283 buah, dan bobot buah 521.92 gram, serta warna buah merah dan permukaan halus. Tahan ChiVMV dan memiliki sifat agonomi dan komponen hasil yang baik. Info Lengkap
91 2014 M4.4 Galur turunan dari M3.353.1 Memiliki tinggi tanam 62 cm, tinggi dikotmus 26 cm, jumlah buah per tanaman 269 buah, dan bobot buah 486.34 gram, serta warna buah merah dan permukaan halus. Tahan ChiVMV dan memiliki sifat agonomi dan komponen hasil yang cukup baik. Info Lengkap
92 2014 M4.5 Galur turunan dari M3.420.1 Memiliki tinggi tanam 59 cm, tinggi dikotmus 20 cm, jumlah buah per tanaman 175 buah, dan bobot buah 364.78 gram, serta warna buah merah dan permukaan halus. Tahan ChiVMV Info Lengkap
93 2014 M4.6 Galur turunan dari M3.517.1 Memiliki tinggi tanam 54 cm, tinggi dikotmus 26 cm, jumlah buah per tanaman 91 buah, dan bobot buah 209.66 gram, serta warna buah merah dan permukaan halus. Tahan ChiVMV dan memiliki sifat agonomi sama dengan tanaman kontrol Tanjung 2. Info Lengkap
94 2014 M4.7 Galur turunan dari M3.517.2 Memiliki tinggi tanam 65 cm, tinggi dikotmus 24 cm, jumlah buah per tanaman 278 buah, dan bobot buah 577,06 gram, serta warna buah merah dan permukaan halus. Tahan ChiVMV dan memiliki sifat agonomi dan komponen hasil yang baik. Info Lengkap
95 2014 M4.8 Galur turunan dari M3.801.1 Memiliki tinggi tanam 49 cm, tinggi dikotmus 12 cm, jumlah buah per tanaman 103 buah, dan bobot buah 278.07 gram, serta warna buah merah dan permukaan halus. Tahan ChiVMV Info Lengkap
96 2014 M4.9 Galur turunan dari M3.113.3 Memiliki tinggi tanam 57 cm, tinggi dikotmus 19 cm, jumlah buah per tanaman 140 buah, dan bobot buah 286.6 gram, serta warna buah merah dan permukaan halus. Tahan ChiVMV Info Lengkap
97 2014 M4.10 Galur turunan dari M3.200 Memiliki tinggi tanam 49 cm, tinggi dikotmus 21 cm, jumlah buah per tanaman 278 buah, dan bobot buah 647.6 gram, serta warna buah merah dan permukaan halus. Tahan ChiVMV dan memiliki sifat agonomi dan komponen hasil yang baik. Info Lengkap
98 2014 M4.Ab-1500-5-10 M4.Hp-1000-6-2 M4.2Rb-1250-2-2 M4.1SL-1250-2-2 M4.1SL-1250-5-4 M4.1SL-1250-5-9 M4.SL-1250-2-5 M4.SL-1250-3-5 M4.Dw-750-1-3 M4.Dw-750-2-1 M4.Dw-750-3-1 M4.Dw-750-4-17 M4.Dw-750-4-28 M4.Dw-750-5-5 M4.Dw-750-6-12 M4.3Dw-750-1-37 M4.4Dw-750-2-3 M4.4Dw-750-3-5 M4.4Dw-750-4-9 M4.HP-1250-1-11 M4.HP-1250-4-6 M4.HP-1250-4-8 M4.HP-1250-5-10 24.M4.OA-1250-2-1 M4.AB-1000-1-3 M4.AB-1000-3-9 M4.HP-1000-4-5 M4.HP-1000-6-2 29. M4.HP-1000-7-3 M4.2HP-1000-3-9 M4.3HP-1000-4-1 M4.3HP-1000-4-3 M4.4RB-750-6-8 34. M4.4RB-750-8-3 M4.2RB-1500-2-4 M4.2RB-1500-2-10 M4.3RB-1500-2-2 M4.5RB-1500-3-1 39. M4.5RB-1500-4-4 M4.5RB-1500-5-7 M4.5RB-1500-7-3 M4.5RB-1500-7-5 M4.2RB-1250-2-2 M4.1SL-1250-5-9 M4.2SL-1250-1-14 M4.Dw-750-1-3 M4.Dw-750-4-28 M4.4Dw-750-1-8 M4.4Dw-750-2-3 M4.4Dw-750-3-5 M4.4Dw-750-4-3 M4.4Dw-750-4-9 - jumlah biji per malai di dataran menengah (Sukabumi) berkisar antara 3- 38.67 dengan bobot 100 biji antara 3,5 - 62,5 gram - jumlah biji per malai di dataran rendah (Bogor) berkisar antara 7- 40 dengan bobot 100 biji antara 14 - 77 gram - 19 galur mutan somaklon gandum yang dapat tumbuh dan menghasilkan biji di dataran menengah (sukabumi) - 33 galur mutan somaklon gandum yang dapat tumbuh dan menghasilkan biji di dataran rendah (Bogor) Info Lengkap
99 2014 B5P1 B5P3 B4P5 B4P1 B6P4 B6P5 toleran penyakit layu fusarium sampai umur produksi Toleran penyakit layu Fusarium Info Lengkap
100 2014 Bal (R) 431 - 20 - 2, Bal (R) 431 - 20 - 3, Bal (R) 431 - 20 - 6, Bal (R) 431 - 20 - 7, Bal (R) 431 - 32 - 1 - 1, Bal (R) 431 - 32 - 1 - 2, Bal (R) 431 - 32 - 2 - 1, Bal (R) 431 - 32 - 2 - 2, Bal (R) 431 - 32 - 2 - 3, Bal (R) 431 - 43 - 1 - 1, Bal (R) 431 - 43 - 1 - 2, Bal (R) 431 - 43 - 1 - 4, Bal (R) 431 - 43 - 1 - 5, Bal (R) 431 - 43 - 1 - 6, Bal (R) 431 - 43 - 1 - 7, Bal (R) 431 - 43 - 1 - 8, Bal (R) 431 - 43 - 2 - 1, Bal (R) 431 - 43 - 2 - 2, Bal (R) 431 - 43 - 2 - 3, Bal (R) 431 - 43 - 2 - 4, Bal (R) 431 - 43 - 2 - , Bal (R) 431 - 43 - 2 - 6, Bal (R) 431 - 43 - 2 - 7, Bal (R) 431 - 43 - 2 - 8, Bal (R) 431 - 43 - 2 - 9, (Secara lengkap tercantum dalam Tabel ROPP 1, Sub Ropp3, Laporan akhir) bobot biji per tanaman 1,66 - 47,2 g. produktivitas tinggi Info Lengkap
101 2014 Ped-M5-AI-3-1, Ped-M5-AI-3-1-um , Ped-M5-AI-9-1, Ped-M5-AI-28-2, Ped-M5-AI-30-1, Ped-M5-AI-31-1, Ped-M5-AI-31-2, Ped-M5-AI-3-8, Ped-M5-AI-34-2, Ped-M5-AI-44-2, Ped-M5-AI-95-1, Ped-M5-AI-106-, Ped-M5-AI-208-2, Ped-M5-AI-267-1, Ped-M5-AI-370-2, Ped-M5-AI-420-1, Ped-M5-AI-484-1, Ped-M5-AI-484-2, Ped-M5-AI-485-1, Ped-M5-AI-488-1, Ped-M5-AI-489-1, Ped-M5-AI-489-2, Ped-M5-AI-492-1, (nama2 galur lainnya tercantum dalam laporan akhir 2014) Diantara galur M5 ada 2 galur memiliki karakter agronomis sangat baik (polong isi sekitar 200 bh/tanaman) yaitu galur Ped-M5-AI-161-1 dan Ped-M5-AI-420-3 umur sedang dan produktivitas tinggi Info Lengkap
102 2014 BC3F1-5 Galur BC3F1 tanaman nomor 5 yang membawa gen Bph6 berdasarkan analisis foreground menggunakan marka molekuler SSR pengapit gen tersebut dengan latar belakang genetik Ciherang yang besar berdasarkan analisis background menggunakan marka molekuler SSR. Penampakan morfologi mirip Ciherang Tanaman padi pembawa gen Bph6 diharapkan memiliki ketahanan yang tinggi terhadap wereng batang coklat yang ada di lapang Info Lengkap
103 2014 1. BC6F3-Ciherang No.70.16 2. BC6F3-Ciherang No.115.22 3. BC6F3-Ciherang No.165.4 4. BC6F3-Ciherang No.165.9 5. BC6F3-Ciherang No.165.33 6. BC6F3-Ciherang No.157.13 7. BC6F3-Situbagendit No.195.1 8. BC6F3-Situbagendit No.195.2 9. BC6F3-Situbagendit No.195.3 10. BC6F3-Situbagendit No.195.4 11. BC6F3-Situbagendit No.200.1 12. BC6F3-Situbagendit No.200.2 13. BC6F3-Situbagendit No.111.1 14. BC6F3-Situbagendit No.111.2 15. BC6F3-Situbagendit No.111.3 16. BC6F3-Situbagendit No.111.4 17. BC6F3-Situbagendit No.112.1 18. BC6F3-Situbagendit No.112.2 19. BC6F3-Situbagendit No.110.1 20. BC6F3-Situbagendit No.110.2 Galur-galur BC6F3-Ciherang dan BC6F3-Situbagendit ini memiliki gen Pup1 berdasarkan pengujian molekuler menggunakan marka SSR. Enam nomor galur BC6F3-Ciherang memiliki sifat toleran terhadap defisiensi Fosfor berdasarkan pengujian fenotipe menggunakan dosis pemupukan P. Galur-galur BC6F3-Ciherang ini pada perlakuan pupuk P 30 kg/ha memiliki potensi hasil yang sama dibandingkan dengan kontrol (perlakuan pupuk P 110 kg/ha). Info Lengkap
104 2014 1. Galur Nipponbare::CsNitr1-L event 3 2. Galur Nipponbare::CsNitr1-L event 5 3. Galur Nipponbare::CsNitr1-L event 6 4. Galur Nipponbare::CsNitr1-L event 11 5. Galur Nipponbare::CsNitr1-L event 13 6. Galur Nipponbare::CsNitr1-L event 14 7. Galur Nipponbare::CsNitr1-L event 20 8. Galur Nipponbare::CsNitr1-L event 22 9. Galur Nipponbare::CsNitr1-L event 143 10. Galur Nipponbare::CsNitr1-L event 144 Sepuluh galur Nipponbare::CsNitr1-L merupakan generasi T0 hasil transformasi dengan bantuan Agrobacterium tumefaciens. Sepuluh galur Nipponbare::CsNitr1-L positif mengandung gen target CsNitr1-L dan gen seleksi HPT (seleksi antibiotik Higromisin) berdasarkan pengujian molekuler menggunakan primer spesifik gen CsNitr1-L dan HPT. Info Lengkap
105 2014 1. Galur Ciherang::CsNitr1-L event 3 2. Galur Ciherang::CsNitr1-L event 6 3. Galur Ciherang::CsNitr1-L event 11 4. Galur Ciherang::CsNitr1-L event 20 Empat galur Ciherang::CsNitr1-L tersebut merupakan generasi T1 turunan T0 hasil transformasi dengan bantuan Agrobacterium tumefaciens. Empat galur Ciherang::CsNitr1-L tersebut mengandung gen target CsNitr1-L dan gen seleksi HPT (seleksi antibiotik Higromisin) berdasarkan pengujian molekuler menggunakan primer spesifik gen CsNitr1-L dan HPT, serta memiliki single copy berdasarkan pengujian Southern Blot menggunakan probe HPT. Info Lengkap
106 2014 Galur-galur haploid ganda yang bersifat tahan terhadap penyakit blas telah diketahui profil genotipenya Dari 50 galur haploid Ganda yang dirakit, telah diketahui 29 galur bersifat tahan penyakit blas dan memiliki patotipe yang sama dengan varietas monogenic lines : IRBLz5-CA (Piz5), IRBL1-CL (Pi1),IRBL5-M (Pi5) dan IRBLkm-Ts (Pikm). Galur-galur haploid ganda yang bersifat tahan terhadap penyakit blas telah diketahui profil genotipenya Info Lengkap
107 2014 Galur IR64-T2-4.5.1.4.1; galur IR64-T2-4.5.1.37.1; galur IR64-T2-5.3.2.21.1; galur IR64-T2-5.3.2.21.2 dan galur IR64-T2-5.3.2.21.4 5 galur tanaman tersebut menunjukkan respon terbaik pada seleksi toleran kekeringan dengan skor daun menggulung antara 3-5 dan daun mengering skor 3. Berdasarkan hasil skoring tersebut, 5 tanaman tersebut dikategorikan sebagai tanaman yang toleran terhadap cekaman kekeringan. 5 galur tanaman penanda aktivasi dapat dikembangkan untuk merakit galur tanaman padi toleran terhadap cekaman kekeringan. Selain itu, galur-galur penanda aktivasi yang telah diperoleh dapat digunakan untuk mengidentifikasi gen-gen terkait toleransi terhadap kekeringan. Info Lengkap
108 2014 Galur BC5F2-K14-23-3; Galur BC4F3-K14-47-3 dan Galur BC4F3-K15-123-3 Galur BC5F2-K14-23-3; Galur BC4F3-K14-47-3 dan Galur BC4F3-K15-123-3 adalah galur-galur padi transgenik yang menunjukkan toleransi terhadap cekaman salinitas setelah diberi perlakuan cekaman salinitas 12 dS/m-1 (setara dengan 6 gr/L NaCl). Galur BC5F2-K14-23-3; Galur BC4F3-K14-47-3 dan Galur BC4F3-K15-123-3 adalah galur-galur padi transgenik yang toleran terhadap cekaman salinitas dan dapat ditanam pada lahan-lahan yang mempunyai kendala cekaman salinitas tinggi Info Lengkap
109 2014 Galur gandum T1 varietas Fasan dan Perdix ini hasil transformasi menggunakan A.tumefasciens berhasil di aklimatisasi mengandung gen csp Galur ini diduga mempunyai sifat adaptif di daerah panas Info Lengkap
110 2014 BC2F1-P/R-28-30, BC2F1-P/R-28-39, BC2F1-P/R-28-44, BC2F1-P/R-28-61, BC2F1-P/R-30-62, BC2F1-P/R-30-64, BC2F1-P/R-30-73, BC2F1-P/R-30-88 Galur-galur hasil silang-balik ke-2 terhadap Pelita asal persilangan Pelita x Rathu Heenati Galur-galur tersebut positif uji marka SSR RM589 dan RM190 terkait gen ketahanan terhadap wereng batang coklat Bph3 Info Lengkap
111 2014 BC2F1-P/S-49-1, BC2F1-P/S-49-7, BC2F1-P/S-49-8, BC2F1-P/S-49-17, BC2F1-P/S-49-24, BC2F1-P/S-49-33, BC2F1-P/S-69-49, BC2F1-P/S-69-64 Galur-galur hasil silang balik ke-2 terhadap Pelita asal persilangan Pelita x Swarnalata Galur-galur tersebut positif uji marka SSR RM5742 dan RM6997 terkait gen ketahanan terhadap wereng batang coklat Bph6 Info Lengkap
112 2015 1. Galur BC3F1 Ciherang-HDB no. 288-24-1-5 2. Galur BC3F1 Inpari 13-HDB no. 198-56-22-22 1. Galur BC3F1 Ciherang-HDB no. 288-24-1-5 Galur tersebut merupakan galur hasil persilangan Code/Angke//Ciherang/IRBB21 melalui metode pemuliaan silang balik dengan seleksi berbantu marka (MABc) 2. Galur BC3F1 Inpari 13-HDB no. 198-56-22-22 Galur tersebut merupakan galur hasil persilangan Code/Angke//Inpari 13/IRBB21 melalui metode pemuliaan silang balik dengan seleksi berbantu marka (MABc) 1. Galur BC3F1 Ciherang-HDB no. 288-24-1-5 Galur tersebut mengandung tiga gen ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri, memiliki karakter agronomis yang tidak berbeda dengan Ciherang (Tinggi tanaman, jumlah anakan, umur berbunga, panjang malai, panjang daun bendera, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, bobot 100 butir, bobot total). 2. Galur BC3F1 Inpari 13-HDB no. 198-56-22-22 Galur tersebut mengandung tiga gen ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri memiliki karakter agronomis yang berbeda pada karakter panjang malai, jumlah gabah isi, bobot 100 butir dan bobot total dimana individu terpilih memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan Inpari 13 dan tidak berbeda pada karakter tinggi tanaman, jumlah malai, panjang daun bendera, umur berbunga, dan jumlah gabah hampa. Info Lengkap
113 2015 BC3F1 Dodokan-Pup1+Alt-106 BC3F1 Situ Bagendit-Pup1+Alt-64 BC3F1 Situ Bagendit-Pup1+Alt-81 BC3F1 Batur-Pup1+Alt-69 BC3F2 Dodokan-Pup1+Alt BC3F2 Situ Bagendit-Pup1+Alt BC3F2 Batur-Pup1+Alt Galur-galur terpilih tersebut telah dianalisis secara molekuler dan mengandung lokus Pup1 dan Alt. Toleran defisien P dan keracunan Al Info Lengkap
114 2015 B5P1 dan B6P4 - Galur somaklon pisang Ambon Kuning hasil seleksi in vitro yang telah diuji di lahan endemik penyakit layu fusarium (KP. Pasirkuda, PKHT-IPB Bogor) - Hasil pengujian pada generasi 1 s/d 4 (MV1 s/d MV4) tanaman dapat tumbuh dan menghasilkan buah, dengan berat tandan 11-18 kg (B5P1) dan 14,5-22,3 kg (B6P4). Toleran terhadap penyakit layu fusarium Info Lengkap
115 2015 Ped-M6-A1-28-2, Ped-M6-A1-31-3, Ped-M6-A1-44-2, Ped-M6-A1-488-1, Ped-M6-A1-420-3, Ped-M6-A1-487-1, Ped-M6-B2-2109-2, Bulk-Ped-M6-A-5-18, Bulk-Ped-M6-B-5-10, dan Bulk-Ped-M6-B-5-24. Umur sedang 83-85 hari, potensi hasil tinggi >3 t/ha), cocok untuk lahan sawa setelah padi dan lahan tegalan. Umur sedang 83-85 hari, potensi hasil tinggi >3 t/ha), cocok untuk lahan sawa setelah padi dan lahan tegalan. Info Lengkap
116 2015 BC2F2-IC (BC2F2-IC-I-39-62-113 dan BC2F2-IC-I-39-62-120) dan F4-IC (F4-IC-CL-34-2-2-30/F4-IC-CL-34-2-2-C1-78 dan F4-IC-CL-34-2-9-45/F4-IC-CL-34-2-9-E1-29) Dua galur BC2F2-IC (BC2F2-IC-I-39-62-113 dan BC2F2-IC-I-39-62-120) merupakan galur tomat hasil persilangan ganda yang berlatar genetik Intan. Dua galur F4-IC (F4-IC-CL-34-2-2-30/F4-IC-CL-34-2-2-C1-78 dan F4-IC-CL-34-2-9-45/F4-IC-CL-34-2-9-E1-29) merupakan galur tomat hasil persilangan ganda yang berlatar genetik CL6046. Galur-galur BC2F2-IC dan F4-IC berasal dari tanaman F1-TYLCV dan F1-CMV terpilih yang telah disilang-gandakan dan didapatkan benih F1-silang ganda (F1-IC) yang membawa dua gen ketahanan terhadap Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV) dan Cucumber mosaic virus (CMV). Galur-galur tersebut merupakan galur lanjutan (selfing dan backcrossing) hasil skrining dan analisis molekuler penelitian sebelumnya dan diuji kembali di Lapangan Uji Terbatas (LUT) Balitsa, Lembang. Hasil pengujian menunjukkan galur-galur tersebut teridentifikasi sebagai tahan TYLCV dan masih membawa gen CP-CMV. Info Lengkap
117 2015 BC3F2-5-46 Galur hasil silang-balik Ciherang dengan Swarnalata generasi ke-3 (BC3) turunan ke-2 (F2) yang memiliki latar belakang genetik tinggi dari Ciherang berdasarkan analisis menggunakan marka molekuler dan membawa alel gen ketahanan Bph6 yang telah homozigot dari Swarnalata berdasarkan analisis menggunakan marka molekuler yang terpaut gen tersebut, yaitu RM5472 dan RM16994 Tahan terhadap wereng batang coklat populasi JWDL dengan uji bulk menggunakan benih BC3F3 Info Lengkap
118 2015 5 populasi F1 kedele biji besar hasil silangan baru dari: 1. Tetua Wilis x Ped-M6-B2-2109-2-(62), 2. Introduksi korea 1 x Ped-M6-B2-2109-2-(62), 3. Wilis x Ped-M6-AII-485-2-(57), 4. Wilis x Bulk-Ped-M6-B-5-24-(94), 5. Introduksi korea 1 x Ped-M6-AII-485-2-(57) 3 populasi/galur galur kedele berbiji besar, jumlah polong banyak vegetatif baik dari: 1. Populasi Double cross (F4) F783-Bp x Grob)//Ked.cina x Wilis, 2. F783-A-Bp x Wilis//K cina x Grobogan 3. F783-A-Bp x Wilis//K cina x Tanggamus 5 populasi/galur-galur asal single cross (F6): 1. F783-Bp x Grob, 2. F783-Bp x Wilis, 3. Ked.cina x Wilis, 4. Ked.cina x Grobogan, 5. F783-A-c-bu x Wilis 5 populasi F1 kedele biji besar hasil silangan baru dari: 1. Tetua Wilis x Ped-M6-B2-2109-2-(62), 2. Introduksi korea 1 x Ped-M6-B2-2109-2-(62), 3. Wilis x Ped-M6-AII-485-2-(57), 4. Wilis x Bulk-Ped-M6-B-5-24-(94), 5. Introduksi korea 1 x Ped-M6-AII-485-2-(57) 3 populasi/galur galur kedele berbiji besar, jumlah polong banyak vegetatif baik dari: 1. Populasi Double cross (F4) F783-Bp x Grob)//Ked.cina x Wilis, 2. F783-A-Bp x Wilis//K cina x Grobogan 3. F783-A-Bp x Wilis//K cina x Tanggamus 5 populasi/galur-galur asal single cross (F6): 1. F783-Bp x Grob, 2. F783-Bp x Wilis, 3. Ked.cina x Wilis, 4. Ked.cina x Grobogan, 5. F783-A-c-bu x Wilis Kedelai biji besar dan produktifitas tinggi Info Lengkap
119 2015 Inbrida jagung S6 asal populasi Jagung BKSN Inbrida jagung S6 ini sudah memiliki karakter toleran kekeringan dan adaptif input rendah Inbrida jagung toleran kekeringan dan adaptif input rendah Info Lengkap
120 2015 no name no information no information Info Lengkap
121 2015 Populasi/galur padi beras hitam: 1. F4 TC dan F4BC1 asal persilangan Aen metan rad 400 GY /Inpari 13//Melik, 2. F4 TC dan F4BC1 asal persilangan Aen metan rad 400 GY /Inpari 13//Inpari 13 3. F4 TC dan F4BC1 asal persilangan Melik2/Fatmawati, 4. F4 TC dan F4BC1 asal persilangan Melik2/Inpari 13 Empat galur dihaploid homozigote padi beras hitam umur genjah hasil seleksi kultur antera (DH) asal populasi BC1F1 persilangan padi beras hitam lokal Melik dengan varietas unggul Galur padi tahan blas, padi beras merah tahan HDB, dan galur padi beras hitam umur genjah mutu tinggi Padi tahan blas, padi beras merah tahan HDB, dan galur padi beras hitam umur genjah mutu tinggi Info Lengkap
122 2015 no name no information no information Info Lengkap
123 2015 Diperoleh 7 galur tunas in vitro yang sudah diukur tingkat ploidinya yaitu 1. Jeruk keprok KT1 2, Jeruk keprok KT4 3. Jeruk keprok KT7 4. Jeruk keprok KT8 5. Jeruk keprok KT9 6. Jeruk keprok KT10 7. Jeruk keprok KT22 7 Tunas jeruk keprok kandidat triploid diregenerasikan dari sel-sel endosperma jeruk keprok, berdasarkan pengukuran DNA inti dengan flow cytometer menunjukkan bahwa kandungan DNA intinya lebih tinggi dari kandungan DNA inti tanaman kontrol diploidnya, sehingga kemungkinan tingkat ploidinya triploid Tanaman dengan tingkatan ploidi triploid akan sulit membentuk biji karena ketidak seimbangan perpasangan kromosom saat gamtogenesis sehingga buah yang dihasilkan hanya akan memiliki biji sedikit atau tidak ada bijinya. Info Lengkap
124 2015 Lima (5) nomor yaitu event 3,6,20,22 dan 143 transforman (T1) padi Nipponbare Lima (5) nomor yaitu event 3,6,20,22 dan 143 transforman (T1) padi Nipponbare telah diseleksi secara molekuler menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR), kelima nomor event tersebut menunjukkan positif mengandung gen HPT (higromisin aminotransferase) dan gen CsNitr1-L (nitrite transporter). T1 yang positif mengandung gen HPT dan CsNitr1-L dianalisis jumlah salinan gen target menggunakan Southern Blot, nomor galur (T1) yang memiliki salinan tunggal gen target yaitu event 3 nomor 1, 2 dan 19 , event 6 nomor 2 dan 3, event 22 nomor 1, 3 dan 4 dan event 143 nomor 1 dan 2 Tanaman T2 event 3(1) memiliki potensi sifat efisien dalam penggunaan Nitrogen Info Lengkap
125 2015 1.Benih galur BC3F3 28.13-1-1, 2. Benih galur BC3F3 28.13-1-16, 3. Benih galur BC3F3 28.13-1-39, 4. Benih galur BC3F3 37.12-8-17, 5. Benih galur BC3F3 37.12-8-59, 6. Benih galur BC3F3 1.15-1-3, 7. Benih galur BC3F3 1.15-1-7, Benih galur BC3F3 merupakan turunan dari tanaman BC3F2 hasil persilangan antara Ciherang dan galur B11143D (tetua donor yang termasuk Padi Tipe Baru) yang menjadi dasar untuk pengembangan populasi Galur Substitusi Segmen Kromosom (CSSL). 1. Setiap galur BC3F3 memiliki segmen introgresi donor sesuai dengan kromosom targetnya untuk keperluan pembentukan populasi Galur Substitusi Segmen Kromosom (CSSL) Info Lengkap
126 2015 MBal430 MBal 431 Mbal 470 M C11 Galur mutan generasi M5 terpilih mempunyai penampilan morfologi baik, seragam dalam satu populasi, umur panen lebih genjah dan polong banyak, Galur mutan genenerasi M5 terpilih menghasilkan polong banyak, bobot biji per tanaman tinggi dan umur lebih genjah atau sama dengan tetuanya Info Lengkap
127 2015 Code-qTSN4 Code-qDTH8 Code-qTSN4 memiliki jumlah bulir per malai lebih banyak Code-qDTH8 memiliki umur berbunga lebih genjah Code-qTSN4, memiliki hasil lebih tingg9i 10-20% dibandingkan tetua Code Code-qDTH8 memiliki umur berbunga lebih genjah 8-13 hari dibandingkan Code Info Lengkap
128 2015 Lima Galur : Nomor : 3, 6, 20, 22 dan 143 Transforman (T2) Padi Nipponbare Lima 5 nomor galur T2 (3, 6, 20, 22 dan 143 ) telah diseleksi secara molekuler menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR), kelima nomor galur tersebut menunjukkan positif mengandung gen HPT (higromisin aminotransferase) dan gen CsNitr1-L (nitrite transporter). Lima nomor galur T2 yang positif mengandung gen HPT dan CsNitr1-L telah dianalisis jumlah salinan gen target menggunakan Southern Blot, menunjukkan hasil bahwa nomor galur (T2) yang memiliki salinan tunggal gen target yaitu event 3 nomor 1, 2 dan 19 , event 6 nomor 2 dan 3, event 22 nomor 1, 3 dan 4 dan event 143 nomor 1 dan 2 Tanaman T2 event 3(1) memiliki potensi sifat efisien dalam penggunaan Nitrogen Info Lengkap
129 2015 1. BC3F2 Dodokan-Pup1+Alt 2. BC3F2 Situ Bagendit-Pup1+Alt 3. BC3F2 Batur-Pup1+Alt 1. BC3F2 Dodokan-Pup1+Alt memiliki keunggulan menangkap P lebih banyak pada kondisi cekaman Al. 2. BC3F2 Situ Bagendit-Pup1+Alt memiliki keunggulan menangkap P lebih banyak pada kondisi cekaman Al. 3. BC3F2 Batur-Pup1+Alt memiliki keunggulan menangkap P lebih banyak pada kondisi cekaman Al. Pengurangan dosis pupuk P tidak mengurangi hasil, terutama pada kondisi tercekam Al. Info Lengkap
130 2015 Galur BC1F1 No. 1 - 20 Galur-galur tersebut telah terseleksi secara molekuler membawa alel aromatik yang berasal dari donornya (Mentik Wangi) Galur-galur terseleksi memiliki butiran beras berwarna merah dan secara molekuler membawa alel dari gen penyandi sifat aroma Info Lengkap
131 2015 Galur-galur jagung F3:4 no. 1-42 toleran kekeringan Galur F3:4 turunan dari persilangan antara CML 440 dan Mr13 yang diuji memiliki tingkat toleransi kekeringan yang sangat beragam, mulai dari respon yang peka hingga toleran terhadap cekaman kekeringan. Dari 153 galur inbrida yang diuji, sebanyak 27.45% (42 galur) menunjukkan respon toleran terhadap cekaman kekeringan. Sedangkan sisanya, yaitu sebanyak 41.18% (63%) agak toleran dan sebanyak 31.37% (48 galur) peka terhadap cekaman kekeringan Galur-galur jagung yang toleran terhadap cekaman kekeringan memiliki tingkat pengisian biji tongkol yang sempurna. Tingkat pengisian biji yang sempurna pada galur-galur toleran kekeringan tersebut menunjukkan bahwa proses fertilisasi pada fase pembungaan tetap berlangsung secara sempurna meskipun kondisi lingkungan sedang mengalami cekaman kekeringan Info Lengkap
132 2016 M238.2 M353.1 M517.2 1. Tahan terhadap virus belang cabai (ChiVMV), memiliki kadar capcaisin 555,625 ppm, provitasnya 26 ton/ha. ID sidikjari DNAnya adalah : TT AA GGCA CC TTGGTTTAATAT 2. Tahan terhadap virus belang cabai (ChiVMV), memiliki kadar capcaisin 305,380 ppm, provitasnya 29 ton/ha. ID sidikjari DNAnya adalah : TT AAGGCA CATTGG TTTAATAT 3. Tahan terhadap virus belang cabai (ChiVMV), memiliki kadar capcaisin 2600.96 ppm, provitasnya36 ton/ha. ID sidikjari DNAnya adalah : TT AA GG CACCTTGGTTTGATAT Tahan terhadap virus belang cabai (ChiVMV) Info Lengkap
133 2016 1. F5-IC-CL-34-2-9-E2-2 2. F5-IC-CL-34-2-9-E2-46 1. Tomat generasi F5 hasil persilangan ganda antara tomat CL6046 dan tanaman tomat non transgenik yang tahan Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV) dan tanaman tomat transgenik (mengandung gen CP-CMV) tahan Cucumber mosaic virus (CMV). Rata-rata: tinggi tanaman = 93,38 cm, umur berbunga = 60,06 hari, jumlah buah per tandan = 5,38 buah, jumlah buah per tanaman = 18,05 buah, berat buah per panen = 132,718 g, diameter buah = 4,02 cm, jumlah lokul buah = 2,24 buah, warna buah muda = hijau muda keputihan, warna buah tua = merah-oranye, dan bentuk buah-ujung buah = bentuk telur sungsang-datar, bentuk telur-datar, silinder-datar. 2. Tomat generasi F5 hasil persilangan ganda antara tomat CL6046 dan tanaman tomat non transgenik yang tahan Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV) dan tanaman tomat transgenik (mengandung gen CP-CMV) tahan Cucumber mosaic virus (CMV). Rata-rata: tinggi tanaman = 101,60 cm, umur berbunga = 60,08 hari, jumlah buah per tandan = 4,96 buah, jumlah buah per tanaman = 15,88 buah, berat buah per panen = 155,47 g, diameter buah = 4,48 cm, jumlah lokul buah = 2,84 buah, warna buah muda = hijau muda keputihan, warna buah tua = merah-oranye, dan bentuk buah-ujung buah = bulat-datar, bulat-melekuk, persegi-datar. 1. Mempunyai ketahanan terhadap TYLCV dan CMV 2. Mempunyai ketahanan terhadap TYLCV dan CMV Info Lengkap
134 2016 1. 143(1) 2. 143(2) Hasil analisis molekuler: Analisis PCR mengandung gen target CsNitrl-1 dan hpt II dan analisis Soutern blot:single copy gen Berpotensi efisien terhadap penggunaan pupuk nitrogen Info Lengkap
135 2016 1. A26 2. A71 3. B15 4. B68 5. C28 6. C41 1. BC3F3 Dodokan-Pup1+Alt 2. BC3F3 Dodokan-Pup1+Alt 3. BC3F3 Situ Bagendit-Pup1+Alt 4. BC3F3 Situ Bagendit-Pup1+Alt 5. BC3F3 Batur-Pup1+Alt 6. BC3F3 Batur-Pup1+Alt 1. Toleran defisiensi P dan keracunan Al 2. Toleran defisiensi P dan keracunan Al 3. Toleran defisiensi P dan keracunan Al 4. Toleran defisiensi P dan keracunan Al 5. Toleran defisiensi P dan keracunan Al 6. Toleran defisiensi P dan keracunan Al Info Lengkap
136 2016 Transforman Atlantic mengandung RNAi Transforman Atlantic positif mengandung konstruksi RNAi untuk ketahanan terhadap Phytophtora infestans Tahan terhadap Phytophthora infestans secara durable Info Lengkap
137 2016 1 BAL ® 470-11 2 BAL ® 470-36 3 BAL ® 471-38 4 BAL ® 472-39 5 C11-46 6 Biosoy-3 7 Biosoy-4 8 Biosoy-5 9 Biosoy-6 10 Biosoy-7 11 Biosoy-8 12 Biosoy-10 13 Biosoy-11 1. Galur M6, hasil mutasi kalus mutan Bal-470. Umur masak 76 hari Jumlah polong/ tanaman 59, bobot 100 biji 10,5 g, bobot biji/5 tan 132,5 g. 2. Galur M6, hasil mutasi kalus mutan Bal-470. Umur masak 76 hari, jumlah polong/ tanaman 50, bobot 100 biji 11 g, bobot biji/5 tan 128,6 g. 3. Galur M6, hasil mutasi kalus mutan Bal-471. umur masak 76 hari, jumlah polong/ tanaman 45, bobot 100 biji 10 g, bobot biji/5 tan 118 g, 4. Galur M6, hasil mutasi kalus mutan Bal-472. umur masak 76 hari, jumlah polong/ tanaman 46, bobot 100 biji 10,5 g, bobot biji/5 tan 109 g. 5. Galur M6, hasil mutasi kalus F8 ked.cinaxked.jepang, umur masak 85 hari, jumlah polong/ tanaman 27, bobot 100 biji 19,5 g, bobot biji/5 tan 132,1 g. 6. Galur Harapan, hasil mutasi biji F8:ked cina x ked jepang. Umur masak 84 hari, jumlah polong 37, bobot 100 biji 20,3 g, rata-rata hasil 2,56 t/ha, potensi hasil 3,63 7. Galur Harapan, hasil mutasi biji F8:ked cina x ked jepang. Umur masak 83 hari, jumlah polong 39, bobot 100 biji 19,6 g, rata-rata hasil 2,59 t/ha, potensi hasil 3,31 8. Galur Harapan, hasil mutasi biji F8:ked cina x ked jepang. Umur masak 84 hari, jumlah polong 35, bobot 100 biji 20,3 g, rata-rata hasil 2,53 t/ha, potensi hasil 3,56 9. Galur Harapan, hasil mutasi biji F8:ked cina x ked jepang. Umur masak 84 hari, jumlah polong 37, bobot 100 biji 20,52 g, rata-rata hasil 2,55 t/ha, potensi hasil 3,24 10. Galur Harapan, hasil mutasi biji F8:ked cina x ked jepang. Umur masak 83 hari, jumlah polong 39, bobot 100 biji 20,0 g, rata-rata hasil 2,48 t/ha, potensi hasil 3,40 11. Galur Harapan, hasil mutasi biji F8:ked cina x ked jepang. Umur masak 84 hari, jumlah polong 36, bobot 100 biji 20,76 g, rata-rata hasil 2,72 t/ha, potensi hasil 3,29 12. Galur Harapan, hasil mutasi biji F8:ked cina x ked jepang. Umur masak 84 hari, jumlah polong 35, bobot 100 biji 20,61 g, rata-rata hasil 2,53 t/ha, potensi hasil 3,58 13. Galur Harapan, hasil mutasi biji F8:ked cina x ked jepang. Umur masak 84 hari, jumlah polong 38, bobot 100 biji 20,93 g, rata-rata hasil 2,53 t/ha, potensi hasil 3,58 1. Ukuran biji sedang, produktivitas tinggi 2. Ukuran biji sedang, produktivitas tinggi 3. Ukuran biji sedang, productivitas tinggi 4. Ukuran biji sedang, produktivitas tinggi 5. Ukuran biji besar, produktivitas tinggi 6. Ukuran biji besar, umur sedang, produktivitas dan potensi hasil tinggi 7. Ukuran biji besar, umur sedang, produktivitas dan potensi hasil tinggi 8. Ukuran biji besar, umur sedang, produktivitas dan potensi hasil tinggi 9. Ukuran biji besar, umur sedang, produktivitas dan potensi hasil tinggi 10. Ukuran biji besar, umur sedang, produktivitas dan potensi hasil tinggi 11. Ukuran biji besar, umur sedang, produktivitas dan potensi hasil tinggi 12. Ukuran biji besar, umur sedang, produktivitas dan potensi hasil tinggi 13. Ukuran biji besar, umur sedang, produktivitas dan potensi hasil tinggi Info Lengkap
138 2016 1. Ciherang-HDB BC3F2-C2.86 2. Inpari 13-HDB BC3F2-A3.11 1. Ciherang-HDB BC3F2-C2.86 Galur ini merupakan hasil dari persilangan Code/Angke//CiherangxIRBB21 dengan nomor seleksi 288-24-17-14-86. Termasuk ke dalam golongan Cere dengan umur tanaman 101 hari. Bentuk tanaman adalah tegak dengan tinggi ±95 cm. Warna kaki, warna batang dan warna daun adalah hijau dan warna telinga daun dan dan lidah daun tidak berwarna dengan permukaan daun kasar pada sebelah bawah dan posisi daun bendera tegak. Bentuk gabah ramping dan berwarna kuning bersih dengan kerontokan sedang. Bobot 100 butir sekitar 2,49 g. 2. Inpari 13-HDB BC3F2-A3.11 Galur ini merupakan hasil dari persilangan Code/Angke//Inpari 13xIRBB21 dengan nomor seleksi 198-56-22-16-11. Termasuk ke dalam golongan Cere dengan umur tanaman 104 hari. Bentuk tanaman adalah tegak dengan tinggi ±100 cm. Warna kaki, warna batang dan warna daun adalah hijau dan warna telinga daun putih dan lidah daun hijau dengan permukaan daun kasar pada sebelah bawah dan posisi daun bendera tegak. Bentuk gabah ramping dan berwarna kuning bersih dengan kerontokan sedang. Bobot 100 butir sekitar 2,51 g. 1. Ciherang-HDB BC3F2-C2.86 Galur ini memiliki keunggulan tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain IV (belum diuji dengan strain lain) dan mengandung alel gen ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri gen Xa7, Xa21, xa5 dan Xa4 dengan pemulihan genom 94.8% telah kembali mendekati tetua Ciherang. 2. Inpari 13-HDB BC3F2-A3.11 Galur ini memiliki keunggulan tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain IV (belum diuji dengan strain lain) dan mengandung alel gen ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri gen Xa7, Xa21, dan xa5 dengan pemulihan genom 94.4% telah kembali mendekati tetua Inpari 13. Info Lengkap
139 2016 Galur mutan sorgum generasi ke -6 (M6) asal numbu. Dari hasil observasi daya hasil yang dilakukan di KP Cikeumeuh Bogor BIO.MN.1.1 , BIO.MN.1.4, BIO.MN.1.5 ,BIO.MN.2.1,BIO.MN.2.2,BIO.MN.2.3 BIO.MN.2.4,BIO.MN.2.5,BIO.MN.3.1,BIO.MN.3.4,BIO.MN.4.2,BIO.MN.4.3 BIO.MN.4.4,BIO.MN.6.2,BIO.MN.6.3,BIO.MN.7.1,BIO.MN.7.2,BIO.MN.7.4,BIO.MN.8.1 BIO.MN.9.1,BIO.MN.17.1,BIO.MN.17.3,BIO.MN.19.2,BIO.MN.19.5,BIO.MN.20.1 BIO.MN.20.2,BIO.MN.21.2,BIO.MN.21.5,BIO.MN.22.2,BIO.MN.22.4,BIO.MN.22.5 BIO.MN.25.1,BIO.MN.25.2. Diameter batang ≥ 2 cm. tinggi tanaman ≥ 2m , kandungan brik gula ≥ 14% , malai panjang dan berisi penuh Kandungan gula pada batang ≥ 14%, lebih tinggi dibanding tetuanya (10%) Info Lengkap
140 2016 Galur-galur terseleksi calon VTE / VUB Situ Patenggang plus. Selesi galur dilakukan menggunakan marka STS sebagai marka foreground terkait dengan gen-gen target ketahanan terhadap penyakit blas dan seleksi menggunakan marka SNP (set 384 SNP chip-2014 dan set 384 SNP chip-2015) sebagai marka background untuk seleksi genotipe sesuai tetua Situpatenggang Galur-galur terpilih merupakan calon VTE ataupun VUB yang memiliki keragaan agronomi dan produktivitas mirip dengan varietas Situ Patenggang tetapi lebih tahan terhadap cekaman biotik, terutama penyakit blas. Info Lengkap
141 2016 Galur terseleksi calon VTE / VUB varietas Situ Patenggang Respon ketahanan dilakukan di rumah kaca menggunakan ra uji : Ras133, Ras 073, Ras033, Ras173,Ras001, Ras013, Isolat STP (Ras 303). Galur-galur terseleksi memiliki ketahanan terhadap 6-7 ras blas hasil uji di rumah kaca yang lebih tahan dibanding varietas Situ Patenggang yang hanya tahan terhadap 5 ras uji. Info Lengkap
142 2016 Galur-galur toleran keracunan Fe teradaptasi di lahan rawa Galur-galur terpilih adalah hasil seleksi foreground (berbasis gen OsIRT1, NAS, FRO) dan background menggunakan marka molekuler . Galur-galur terseleksi tersebut toleran keracunan Fe teradaptasi di lahan rawa dengan agroekosistem yang berbeda (lahan rawa lebak atau lahan rawa pasang surut) Info Lengkap
143 2016 Galur-galur terseleksi toleran keracunan Fe teradaptasi di lahan rawa Seleksi dan karakterisasi terkait karakter toleran keracunan Fe telah dilakukan di beberapa agroekosostem lahan rawa, yaitu rawa pasang surut (Karang Agung, MT 2014/2015) dan lahan rawa lebak (Taman Bogo, Lampung, MT2015/2016) Galur-galur terseleksi dengan karakter agroekosistem lahan rawa yan berbeda-beda (spesifik lokasi lahan rawa) Info Lengkap
144 2016 Galur calon VTE / VUB varietas Situ Patenggang Evaluasi / seleksi ketahanan galur-galur terpilih dilakukan di lahan gogo (dan juga sawah) di Taman Bogo Lampung Galur terseleksi merupakan calon varietas amfibi yang teradaptasi baik di lahan kering (gogo) ataupun lahan tergenan (sawah) Info Lengkap
145 2016 Jeruk keprok putative triploid hasil kultur endosperma Populasi tanaman jeruk keprok triploid STG diperoleh 12 tanaman yang memiliki tingkat ploidi lebih tinggi dari tanaman diploidnya berdasarkan pengukuran dengan flowcytometry, Guava, MERCK, 10 tanaman memiliki jumlah kromosom lebih dari 20 dan 13 nomor tanaman memiliki ketebalan daun hampir dua kali dari ketebalan daun diploidnya. Jeruk keprok putative triploid hasil kultur endosperma yang dapat memproduksi buah jeruk seedless Info Lengkap
146 2016 E2, E5, E16, E19, E33, E34,E36,E37, E43,dan E48 Ke sepuluh galur terpilih berasal dari IR64 yang dimutasi dengan sinar gamma dan telah diseleksi dengan PEG6000. Galur-galur tersebut memiliki potensi hasil 6,42-7,45 t/ha atau sekitar 7-23,8% lebih tinggi dibandingkan induknya IR64 (6t/ha) Galur-galur tersebut merupakan galur putatif toleran kekeringan Info Lengkap
147 2016 1. BC3F3-A26, 2. BC3F3-A47, 3. BC3F3-A71, 4. BC3F3-A128, 5. BC3F3-B5, 6. BC3F3-B8, 7. BC3F3-B15, 8. BC3F3-B16, 9. BC3F3-B20, 10. BC3F3-B21, 11. BC3F3-B25, 12. BC3F3-B32, 13. BC3F3-B33, 14. BC3F3-B35, 15. BC3F3-B45, 16. BC3F3-B46, 17. BC3F3-B86, 18. BC3F3-C138, 19. BC3F4-11(A26), 20. BC3F4-11(A47),21. BC3F4-11(A71), 22. BC3F4-11(A128), 23. BC3F4-11(B5), 24. BC3F4-11(B8), 25. BC3F4-11(B15), 26. BC3F4-11(B16), 27. BC3F4-11(B20), 28. BC3F4-11(B21), 29. BC3F4-11(B25), 30. BC3F4-11(B32), 31. BC3F4-11(B33), 32. BC3F4-11(B35), 33. BC3F4-11(B45), 34. BC3F4-11(B46), 35. BC3F4-11(B86), 36. BC3F4-11(C138). Kode A = Dodokan-Pup1+Alt, Kode B = Situ Bagendit-Pup1+Alt, Kode C = Batur-Pup1+Alt. BC3F3 = galur BC3F3, BC3F4 = galur BC3F4. Galur-galur tersebut toleran terhadap defisiensi Fosfor (P) dan toleran terhadap keracunan Aluminium (Al). Info Lengkap
148 2016 Galur padi mutan CRISPR/Cas9 cv. Kitaake Galur padi mutan CRISPR/Cas9 cv Kitaake merupakan galur padi yang telah diintroduksi dengan kaset CRISPR/Cas9-gRNA gen OsGA20ox-2 dengan tujuan untuk mengedit atau memodifikasi gen GA20ox-2 sehingga menghasilkan galur padi mutan dengan fenotipik berupa pengurangan tinggi tanaman. Galur padi mutan CRISPR/Cas9 mempunyai keunggulan berupa penampilan postur tinggi tanaman yang menjadi lebih pendek karena termutasinya gen GA20 oxidase-2 Info Lengkap
149 2016 Galur-galur backcros generasi BC1F6, BC1F7, BC2F5 , BC2F6, BC3F4 dan BC3F5 Galur-galur tersebut berasal dari hasil persilangan antara varietas padi Code dengan galur induk asal IRRI (Dinamakan NIL-QTl Hasil (donor karakter hasil) dan NIL-QT-DTH8 (donor umur berbunga pendek/genjah)) 1. Galur-galur tersebut terseleksi memiliki potensi hasil tinggi dan tahan penyakit HDB 2. Beberapa galur tersebut memiliki umur berbunga lebih pendek dan tahan penyakit HDB Info Lengkap
150 2016 Galur padi merah aromatik generasi BC2F1 dan BC3F1 Galur-galur tersebut berasal dari persilangan antara varietas Cendana dan Mentik Wangi...Padi cendana memiliki butiran beras merah dan Mentik Wangi merupakan sumber/donor karakter aroma Galur-galur tersebut telah terseleksi memiliki warna butiran beras merah dan beraroma Info Lengkap
151 2016 Galur Ciherang aromatik Galur-galur tersebut berasal dari persilangan antara Ciherang dan dua varietas donor aromatik (Mentik Wangi dan Pandan Wangi). Galur-galur terseleksi tersebut telah dikembangkan secara silang balik pada generasi BC5F6 Memiliki karakter aroma Info Lengkap
152 2016 Galur Ciherang aromatik berumur genjah Galur tersebut berasal dari persilangan antara ciherang dan mentik wangi Galur tersebut memiliki umur genjah Info Lengkap

Teknologi

Daftar Teknologi
No Tahun Nama Teknologi Deskripsi Keunggulan
1 2013 Marka molekuler Ketahanan Tungro-SF Marka molekuler gen ketahanan padi terhadap terhadap tungro didesain berdasarkan gen ketahanan pada varietas Utri Merah. Marka ini terletak pada sekuen translation initiation factor 4g gene yang dikenal sebagai gen ketahanan yang bersifat resesif terhadap tungro. Primer spesifik yang bisa mengamplifikasi sekuen ini sebagai marka ketahanan adalah pasangan primer SF (ATTGGTGCCTCAGAG-AGTCTTG dan GGACTTGGGTGATC-AACAA) Teknologi marka dapat mendeteksi secara spesifik gen ketahanan yang menjadi target. Marka ini sangat penting untuk mendukung percepatan program pemuliaan presisi tinggi untuk menghasilkan padi tahan tungro. Gen ketahanan akan terus terpantau keberadaannya pada galur-galur hasil persilangan hingga diperoleh varietas unggul tahan tungro. Sehingga setiap proses pemuliaan tidak perlu lagi diuji memalui bioasai dengan virus tungro kecuali kalau diperlukan konfirmasi diawal dan diahir tahapan persilangan. Info Lengkap
2 2013 Marka molekuler Ketahanan Tungro-RSA Marka molekuler gen ketahanan padi terhadap terhadap tungro didesain berdasarkan gen ketahanan pada varietas Utri Merah. Marka ini terletak pada sekuen translation initiation factor 4g gene yang dikenal sebagai gen ketahanan yang bersifat resesif terhadap tungro. Primer spesifik yang bisa mengamplifikasi sekuen ini sebagai marka ketahanan adalah pasangan Primer RSA (TTTGGCCGGA-AAGTCTTA dan TGGCAGTGCACCA-GCCAAATGG Teknologi marka dapat mendeteksi secara spesifik gen ketahanan yang menjadi target. Marka ini sangat penting untuk mendukung percepatan program pemuliaan presisi tinggi untuk menghasilkan padi tahan tungro. Gen ketahanan akan terus terpantau keberadaannya pada galur-galur hasil persilangan hingga diperoleh varietas unggul tahan tungro. Sehingga setiap proses pemuliaan tidak perlu lagi diuji memalui bioasai dengan virus tungro kecuali kalau diperlukan konfirmasi diawal dan diahir tahapan persilangan. Info Lengkap
3 2013 Marka molekuler Ketahanan Tungro-RS Marka molekuler gen ketahanan padi terhadap terhadap tungro didesain berdasarkan gen ketahanan pada varietas Utri Merah. Marka ini terletak pada sekuen translation initiation factor 4g gene yang dikenal sebagai gen ketahanan yang bersifat resesif terhadap tungro. Primer spesifik yang bisa mengamplifikasi sekuen ini sebagai marka ketahanan adalah pasangan Primer RS (TTG-TTGATCACCCAAGTCC dan TCGTGGA-TTCCTCATAACTCCT). Teknologi marka dapat mendeteksi secara spesifik gen ketahanan yang menjadi target. Marka ini sangat penting untuk mendukung percepatan program pemuliaan presisi tinggi untuk menghasilkan padi tahan tungro. Gen ketahanan akan terus terpantau keberadaannya pada galur-galur hasil persilangan hingga diperoleh varietas unggul tahan tungro. Sehingga setiap proses pemuliaan tidak perlu lagi diuji memalui bioasai dengan virus tungro kecuali kalau diperlukan konfirmasi diawal dan diahir tahapan persilangan Info Lengkap
4 2013 MCdAk01 Marka RM 1282 bersifat polimorfik pada kromosom 1 Marka-marka tersebut dapat digunakan untuk membedakan tetua Code vs Angke Info Lengkap
5 2013 MCdAk02 Marka OSR 17; RM 438; dan RM 1942 bersifat polimorfik pada kromosom 2 Marka-marka tersebut dapat digunakan untuk membedakan tetua padi varietas Code vs Angke Info Lengkap
6 2013 MCdAk03 Marka RM 545; RM468 bersifat polimorfik pada kromosom 3 Marka-marka tersebut dapat digunakan untuk membedakan tetua padi varietas Code vs Angke Info Lengkap
7 2013 MCdAk04 Marka RM401; RM471; RM 142; RM 119; RM273; RM 252; RM 127 bersifat polimorfik pada kromosom 4 Marka-marka tersebut dapat digunakan untuk membedakan tetua padi varietas Code vs Angke Info Lengkap
8 2013 MCdAk05 Marka RM548; RM289; RM 291; RM 440; RM 233B; RM 406 bersifat polimorfik pada kromosom 5 Marka-marka tersebut dapat digunakan untuk membedakan tetua padi varietas Code vs Angke Info Lengkap
9 2013 MCdAk06 Marka RM508; RM 465B; RM235; OSR 21 bersifat polimorfik pada kromosom 6 Marka-marka tersebut dapat digunakan untuk membedakan tetua padi varietas Code vs Angke Info Lengkap
10 2013 MCdAk07 Marka RM 1186; RM336; RM320; RM473C; RM 118; RM248 bersifat polimorfik pada kromosom 7 Marka-marka tersebut dapat digunakan untuk membedakan tetua padi varietas Code vs Angke Info Lengkap
11 2013 MCdAk08 Marka RM 310; RM 531; RM 80 bersifat polimorfik pada kromosom 8 Marka-marka tersebut dapat digunakan untuk membedakan tetua padi varietas Code vs Angke Info Lengkap
12 2013 MCdAk09 Marka RM 316; RM 107; RM 1026 bersifat polimorfik pada kromosom 9 Marka-marka tersebut dapat digunakan untuk membedakan tetua padi varietas Code vs Angke Info Lengkap
13 2013 MCdAk10 Marka RM171 bersifat polimorfik pada kromosom 10 Marka-marka tersebut dapat digunakan untuk membedakan tetua padi varietas Code vs Angke Info Lengkap
14 2013 MCdAk12 Marka RM19; RM247; RM 1986; RM270; RM235 bersifat polimorfik pada kromosom12 Marka-marka tersebut dapat digunakan untuk membedakan tetua padi varietas Code vs Angke Info Lengkap
15 2013 CiIRB01 Marka RM 580; RM493; RM 165 bersifat polimorfik pada kromosom 1 Marka-marka tersebut dapat digunakan untuk membedakan tetua padi varietas Ciherang vs IRBB21 Info Lengkap
16 2012 Fero-Grayak Fero-Grayak mengandung bahan aktif sintetik yang bersifat atraktif menangkap imago jantan. Bahan aktif ini digunakan sebagai perangkap untuk mengendalikan ulat grayak pada tanaman sayuran Fero-Grayak sangat ramah lingkungan dan penggunaannya dapat mengurangi pemakaian pestisida kimia dalam budidaya sayuran. Info Lengkap
17 2012 Teknik Perangkap Fero-Grayak Perangkap berferomon Fero-Grayak sebanyak 8 - 16 perangkap per hektar yang digunakan sebagai perangkap masal efektif untuk pengendalian hama ulat grayak di lapang. Pemasangan perangkap ini dilakukan pada umur tanaman 7 hari setelah tanam dan mampu bertahan sampai 2 bulan setelah pemasangan. Mampu mengurangi penggunaan pestisida kimia, mudah dipakai, lebih murah dan tidak berdampak negatif terhadap organisme bukan sasaran Info Lengkap
18 2013 Sidikjari DNA berbasis teknologi genotyping Teknologi sidikjari DNA dikembangkan sebagai penciri genetik yang bersifat spesifik pada tingkatan sub spesifik pada plasma nutfah padi, yaitu Indica, Japonica atau Tropical Japonica Teknologi sidikjari DNA dapat melacak kemurnian benih, mempermudah seleksi progeni dari tetua berkerabat dekat (inter sub spesies) ataupun jauh (intra subspesies) Info Lengkap
19 2013 Sistem seleksi berbasis marka molekuler Sistem seleksi ini dapat membantu meningkatkan presisi seleksi padi terkait karakter umur genjah dan jumlah gabah total Teknologi ini dapat diaplikasikan pada fase awal tanaman (seedling) tanaman padi sehingga sistem seleksi menjadi lebih efektif dan efisien. Info Lengkap
20 2010 Gen pG-OsERA1 Diisolasi dari Oryza sativa Gen penyandi toleran kekeringan Info Lengkap
21 2010 Gen pC-OsGS3 Diisolasi dari Oryza sativa Gen penyandi produktivitas tinggi Info Lengkap
22 2010 Gen pC-OsMADS18 Diisolasi dari Oryza sativa Gen penyandi umur genjah Info Lengkap
23 2010 Fragmen gen pC-OsCKX1-Sense Diisolasi dari Oryza sativa Penyandi produktivitas Info Lengkap
24 2010 Fragmen gen pC-OsCKX2-Antisense Diisolasi dari Oryza sativa Penyandi produktivitas Info Lengkap
25 2010 Fragmen gen pG-WRKY47 Diisolasi dari Arabidopsis thaliana Penyandi umur genjah Info Lengkap
26 2011 Gen pC-BsCsp Diisolasi dari Oryza sativa Penyandi toleran kekeringan Info Lengkap
27 2011 Gen pC-OsDREB1A Diisolasi dari Oryza sativa Gen penyandi toleran cekaman abiotik Info Lengkap
28 2011 Gen pC-OsWRKY76 Diisolasi dari Oryza sativa Gen untuk toleran cekaman abiotik Info Lengkap
29 2011 Gen pC-OsERF1 Diisolasi dari Oryza sativa Penyandi toleran cekaman abiotik Info Lengkap
30 2011 Gen pG-AtCO Diisolasi dari Arabidopsis thaliana Penyandi umur genjah Info Lengkap
31 2011 Gen pG-OsDep1 Diisolasi dari Oryza sativa Penyandi produktivitas tinggi Info Lengkap
32 2013 Sidik jari DNA 288 aksesi padi Directory mapa pencirian varietas berdasarkan sidikjari DNA SNP map memuat informasi genetik dari 384 marka SNP yang digunakan. Beberapa informasi yang ditampilkan pada SNP map ini adalah : no index, ID SNP, kromosom, posisi genetik dalam genom padi dan gene train. IRRI-Set memuat informasi 384 marka SNP yang digunakan oleh IRRI untuk kegiatan genotyping sub set sampel plasma nutfah padi Indonesia. ICABIOGRAD-Set memuat informasi 384 marka SNP yang digunakan oleh ICABIOGRAD untuk kegiatan pencirian varietas plasma nutfah padi Indonesia berdasarkan sidikjari DNA-nya. Hasil ICABIOGRAD-Set telah memuat informasi profil genotipe 288 aksesi plasma nutfah padi berdasarkan 384-SNP genotyping ICABIOGRAD. 384-SNP dalam bentuk chip di atas dilakukan dengan beberapa pertimbangan : 1. Marka-marka SNP dipilih menyebar di total 12 kromosom genom padi dengan rata-rata jarak per SNP-nya bervariasi untuk masing-masing kromosom. 2. Marka-marka SNP dipilih tanpa ada pertimbangan gen-gen target tertentu sehingga marka-marka tersebut dapat membentuk profile genotipe umum. Info Lengkap
33 2013 Data fenotipe 467 aksesi padi lokal Directory yang berisi data-data untuk tujuan analisis assosiasi genome (GWAS) dengan karakter komponen hasil dan umur tanaman 1. SNP map : memuat informasi genetik dari 1536 marka SNP yang digunakan. Beberapa informasi terkait SNP map ini adalah : no index, ID SNP, kromosom, posisi genetik dalam genom padi dan gene train. 2. Sampel map : memuat informasi tentang total aksesi plasma nutfah yang digunakan yaitu, 467 aksesi. Beberapa informasi terkait dengan sampel map ini adalah : no index, ID plasma nutfah, background genetik dan sentrix position. 3. Final Report : memuat informasi profil genotipe 467 aksesi plasma nutfah padi berdasarkan 1536-SNP. 4. Phenotype : memuat informasi keragaan fenotipe 467 aksesi plasma nutfah padi untuk karakter komponen hasil serta umur di rumah kaca dan lapang. Pembuatan dan pengembangan database padi ditujukan untuk mendokumentasikan sekaligus mempublikasikan hasil penelitian genom padi sehingga dapat dimanfaatkan secara lebih optimal bagi para stakeholder per-padi-an di Indonesia. Secara bertahap Database Genom-Padi ini ditampilkan dalam bentuk WebSite sehingga dapat diakses secara terbuka. Info Lengkap
34 2013 Gen pengaturan waktu pembungaan sampai pemasakan Salah satu marka SNP signifikan adalah TBGI068738 dan kandidat gen yang terdeteksi adalah LOC-Os01g72220, yang terpetakan di kromosom 1 pada posisis genetik: 41,837,949-41,880,601, yaitu gen WD domain, G-beta repeat domain. Gen ini berfungsi dalam pengaturan waktu pembungaan sampai pemasakan (fase generatif lanjut). Untuk mengidentifikasi gen ini telah didisain primer : (1) : F 5’ ATG CAA GTA CAA GGT TCA TCA AAC CAG ATG 3’ -R 5’ AAT AAT TCT CAG CAT GTG AGC AAC ATA AAT ATA TAA CAA AAT CA 3’ dan (2) : F - 5’ ATG GGT GGA TTC CAG ATG CCT GAA C 3’, R : 5 ’AAT TAC CAT TGG GTG AGG CAT AGG TGG TAG 3’. Hasil amplifikasi menggunakan primer ini pada sampel DNA FWS22-2-2 sebagai template diperoleh fragmen yang berukuran 300-400bp. Gen ini bisa menjadi marka molekuler untuk mendeteksi umur pembungaan dan waktu pemasakan dalam perakitan padi umur genjah. Info Lengkap
35 2013 Gen penetuan jumlah gabah isi per malai (grain filled) Pada kromosom 1 juga terdeteksi marka SNP signifikan TBGI068738 dan kandidat gen yang terdetksi adalah gen GYF domain containing protein (LOC_Os01g69990) yang terpetakan pada kromosom 1: 40,489,660-40,483,305. Gen ini berperan dalam penetuan jumlah gabah isi per malai (grain filled). Untuk mengidentifikasi gen ini telah didisain beberapa primer, beberapa diantaranya adalah primer (1) : F-5’ ATG ATG CAC GAT GCT TGT TTG CAG A 3 ’ - R 5’ACA AAA TGT TAC CTC CTC ATC AGT ATC AGG TG 3’ dan (2) : F- 5’ ATG CAT GAG CTA CCG TCA CAA GGG TTC 3’- R 5’ ACC TTC AGC ATC CAG ACT CAC TGA TTC AG 3’ (3) F: 5’CCA TGG GTG TTC TGC AAA TGC TTA ACA GAG 3’; R: 5’AGA TAA CCA AAG GAA ACT TAC TGT GCC TTG G3’, dan (4) F: 5’ATG AGC TTG TGT GGG AGC CCA ATT TG3’; R: 5’AGA TAA CCA AAG GAA ACT TAC TGT GCC TTC GG 3’. Diantara hasil amplifikasi menggunakan primer 3 dan 4 pada sampel DNA silugonggo dan Dodokan sebagai template diperoleh fragmen berukuran 888bp Gen ini bisa menjadi marka spesifik untuk penentuan komponen hasil pengisian bulir dalam perakitan padi produktivitas tinggi Info Lengkap
36 2010 Metode regenerasi manggis Kultur in vitro manggis dapat dilakukan dengan menggunakan biji sebagai bahan tanaman. Induksi tunas dapat dilakukan dengan cara memotong biji secara melintang dan menumbuhkannya secara aseptik pada media kultur in vitro menggunakan media MS yang diperkaya dengan BA konsentrasi tinggi dan thidiazuron + GA3. Sub kultur dilakukan pada media yang sama dan untuk pemanjangan, konsentrasi BA diturunkan menjadi 1 -2 mg/l. Metoda ini dapat digunakan untuk meningkatkan tingkat multiplikasi manggis secara in vitro (21 - 25 tunas per eksplan) Info Lengkap
37 2010 Metode regenerasi durian melalui kultur in vitro Durian merupakan tanaman tahunan berkayu, sehingga perbanyakannya secara konvensional sangat lambat. Metoda kultur jaringan dapat digunakan untuk memperbanyak batang atas durian dari klon unggul. Bahan tanaman yang digunakan adalah mata tunas yang juvenil. Formulasi media yang digunakan adalah media dasar WPM dengan penambahan BA pada konsentrasi tinggi dan thidiazuron 0.2 mg/l. Metoda ini dapat mempercepat laju perbanyakan tunas in vitro, yaitu 4 tunas/3 bulan. Info Lengkap
38 2010 Inisiasi transformasi manggis menggunakan gen gus. Tahapan transformasi terdiri atas prekultur, inokulasi, kokultivasi dan pemulihan. Bahan tanaman yang digunakan adalah kalus. Prekultur dilakukan selama 2 hari menggunakan media terbaik untuk induksi kalus. Inokulasi dilakukan dengan cara merendam kalus pada lsuspensi bakteri yang mengandung gen gus selama 30 menit, setelah itu dilakukan kokultivasi selama 9 hari dalam keadaan gelap. Kalus yang sudah dikokultivasi kemudian dipindahkan pada media pemulihan. Dengan menggunakan metoda ini diperoleh kalus positif gus sebesar 50%. Info Lengkap
39 2010 Metode inisiasi transformasi durian menggunakan gen gus. Prekultur dilakukan selama 2 hari. Inokulasi dilakukan dengan cara merendam kalus selama 30 menit pada suspensi bakteri yang mengandung gen gus. Kokultivasi dilakukan selama 12 hari dalam kondisi gelap. Selanjutnya kalus dipindahkan pada media pemulihan. Dengan menggunakan metoda ini diperoleh kalus positif gus sebasar 75%. Info Lengkap
40 2011 Metode regenerasi kalus manggis Metode regenerasi kalus dilakukan dengan menggunakan kalus yang sudah bersifat embriogenik. Kalus yang embriogenik dapat diperoleh apabila kalus ditumbuhkan pada media induksi kalus yang menginduksi perkembangan kalus membentuk struktur embriosomatik. Formulasi media untuk meregenerasikan kalus tersebut yaitu dengan menggunakan media dasar WPM dengan penambahan BA 0. 5 mg/l) dan glutamin 500 mg/l. Penggunaan metoda ini dapat menginduksi pembentukan tunas dari kalus sebesar 4.9 tunas.Metoda ini dapat digunakan dalam transformasi genetik dengan menggunakan gen traget dengan pendekatan regenerasi melalui embriogenesis somatik. Info Lengkap
41 2011 Metode induksi tunas durian Metode ini dapat digunakan dengan menggunakan daun atau bunga durian sebagai bahan tanaman (eksplan). Formulasi media yang digunakan dengan menggunakan eksplan daun adalah MS dengan penambahan BA 5 mg/l dan NAA 5 mg/l, sedangkan dengan menggunakan eksplan bunga adalah adalah media dasar B5 dengan penambahan picloram 3-5 mg/l. Formulasi media ini dapat menginduksi pembentukan struktur globular dan torpedo sebesar 7/kalus. Info Lengkap
42 2011 Metode induksi tunas durian Metode ini dapat digunakan dengan menggunakan daun atau bunga durian sebagai bahan tanaman (eksplan). Formulasi media yang digunakan dengan menggunakan eksplan daun adalah MS dengan penambahan BA 5 mg/l dan NAA 5 mg/l, sedangkan dengan menggunakan eksplan bunga adalah adalah media dasar B5 dengan penambahan picloram 3-5 mg/l. Formulasi media ini dapat menginduksi pembentukan struktur globular dan torpedo sebesar 7/kalus. Info Lengkap
43 2011 Metode transformasi manggis menggunakan gen defH9-iaaM. Prekultur kalus dilakukanselama 2 hari menggunakan media induksi kalus terbaik. Inokulasi dilakukandengan merendam kalus pada larutan bakteri mengandung defH9-iaam (tanpa asetosiringon) selama 15 menit. Kokultivasi dilakukan selama 3-5 hari. Selanjutnya kalus dipindahkan pada media pemulihan dengan penambahan kanamisin sebagai marka seleksi. Seleksi dilakukan secara bertahap dan kalus yang tetap hidup dipindahkan pada media regenerasi untuk menumbuhkannya menjadi tanaman. Penggunaan metoda ini menghasilkan tunas positif PCR dengan menggunakan marker npt II. Info Lengkap
44 2011 Metode transformasi durian menggunakan gen defH9-iaaM. Metoda dilakukan secara in planta dengan mengunakan tunas in vitro sebagai eksplan. Prekultur dilakukan selama 2 hari. Inokulasi dilakukan dengan cara menusuk bagian meristem atau titik tumbuh tunas dengan suspensi bakteri yang mengandung gen defH9-iaaM sebanyak 1-3 tusukan). Kokultivasi dilakukan selama 7 hari. Selanjutnya tunas yang tetap hidup dipindahkan pada media regenerasi tunas dengan penambahan kanamisin sebagai marka seleksi. Penggunaan metoda ini cukup efisien dan mudah dilakukan. Dengan menggunakan metoda tersebut telah diperoleh tunas positif PCR dengan menggunakan marker npt II. Info Lengkap
45 2013 Formulasi media untuk perbanyakan pisang ambon kuning dan kepok kuning secara in vitro. Perbanyakan pisang secara in vitro memerlukan tingkat multiplikasi (perbanyakan) yang tinggi, akan tetapi harus diperhatikan jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang digunakan agar tidak menyebabkan perubahan sifat genetik pada turunannya. Formulasi media yang digunakan yaitu MS dengan penambahan BA (1-5 mg/l) dikombinasikan dengan thidiazuron 0.1 mg/l dapat menginduksi inisiasi pembentukan tunas yang lebih cepat pada pisang ambon kuning dan kepok kuning. Formulasi media ini dapat menginduksi pertumbuhan tunas in vitro pisang ambon kuning dan kepok kuning yang lebih cepat dan lebih banyak. Info Lengkap
46 2013 Informasi jumlah sub kultur optimum pada perbanyakan in vitro pisang ambon kuning dan kepok kuning. Sub kultur yang dilakukan pada biakan in vitro pisang dapat mempengaruhi tingkat multiplikasi pisang, akan tetapi jumlah sub kultur yang terlalu banyak dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan genetik. Pada penelitian ini baru dievaluasi jumlah sub kultur biakan selama 1 - 4 kali yang dilakukan setiap 6 minggu. Semakin banyak sub kultur dapat meningkatkan jumlah tunas yang dihasilkan. Info Lengkap
47 2013 Metode multiplikasi biakan Ubi kelapa (Dioscorea alata L.) dan Gembili (Dioscorea esculenta L.) secara in vitro sebagai bahan kriopreservasi serta metode penyimpanannya melalui kriopreservasi. 1. Multiplikasi biakan Ubi kelapa (Dioscorea alata L.) secara in vitro sebagai bahan kriopreservasi dicapai pada umur 4 bulan dengan tinggi tunas 3,5 cm dan panjang akarnya 5,86 cm pada perlakuan B 3 mg/l + Thidiazuron 0,2 mg/l + Kinetin 2 mg/l. Sedang jumlah tunas, jumlah daun dan jumlah akar tertinggi berturut-turut 1,75; 4,75; dan 1,71 pada perlakuan B 5 mg/l + Thidiazuron 0,2 mg/l + Kinetin 2 mg/l. 2. Multiplikasi biakan Gembili (Dioscorea esculenta L.) secara in vitro sebagai bahan kriopreservasi dicapai pada umur 4 bulan dengan tinggi tunas 2,36 cm, jumlah tunas 2,0 dan jumlah daun 6,45 pada perlakuan B 5 mg/l + Thidiazuron 0,2 mg/l + Kinetin 2 mg/l. Sedang akar hanya terbentuk pada perlakuan B 3 mg/l + Thidiazuron 0,2 mg/l + Kinetin 2 mg/l dengan jumlah dan panjang akar berturut-turut 0,22 dan 0,17 cm. 3. Media terbaik untuk kriopreservasi Ubi kelapa adalah: perendaman dalam larutan LS selama 20 menit dan PVS 2 selama 10-30 menit. 4 Media terbaik untuk kriopreservasi Gembili adalah: perendaman dalam larutan LS selama 20-30 menit dan PVS 2 selama 30-45 menit. 5. Respon pertumbuhan Ubi kelapa yang diberi perlakuan kriopreservasi lebih lambat dibanding Gembili. - Metode multiplikasi biakan Ubi kelapa (Dioscorea alata L.) dan Gembili (Dioscorea esculenta L.) secara in vitro dapat digunakan sebagai bahan kriopreservasi. - Penyimpanan dengan metode kriopreservasi, bahan tanaman dapat disimpan dalam waktu yang lama (20 tahun) Info Lengkap
48 2012 Metode perbanyakan tiga spesies Dioscorea (Dioscorea alata, D. hispida dan D. esculenta) melalui pembelahan umbi. - Pembelahan umbi hingga delapan bagian (ubi kelapa dan gadung) serta menjadi 4 bagian (gembili) masih dapat menghasilkan produksi yang baik - Perlakuan pembelahan umbi tidak mempengaruhi hasil/karakter produksi yang diamati (bobot umbi, diameter umbi, panjang umbi dan jumlah umbi). Pembelahan umbi dapat dilakukan untuk memperbanyak jumlah bibit pada ubi kelapa, gadung dan gembili. Info Lengkap
49 2012 Metode perbanyakan 3 spesies Dioscorea (Dioscorea alata, D. esculenta, dan D. hispida) masing-masing 1 aksesi melalui kultur in vitro. 1.. Inisiasi tunas Ubi kelapa, Gembili dan Gadung dimulai pada umur 2 minggu setelah tanam, dengan media terbaik untuk Ubi kelapa MS + BA 5 mg/l, Gembili dan Gadung pada media MS. 2. Pada media MS baik pada Ubi kelapa maupun Gembili biakan dapat bermultiplikasi. Untuk Gadung multiplikasi terbaik pada media MS + Thidiazuron 1 mg/l. 3. Inisiasi akar Ubi kelapa, Gembili dan Gadung dapat terjadi pada umur 1 bulan setelah tanam pada media MS tanpa penambahan zat pengatur tumbuh IBA. Faktor multiplikasi tunas ubi kelapa adalah 5 dalam waktu 2 bulan. Untuk gembili 9 dalam waktu 3 bulan dan gadung 2 dalam waktu 2 bulan. Info Lengkap
50 2012 Metode studi awal penyimpanan tiga spesies Dioscorea (masing-masing 1 aksesi) melalui kriopreservasi. Perendaman dalam larutan LS selama 10 menit dan dalam larutan PVS 60 menit baik dari eksplan pucuk maupun tunas Gembili (Dioscorea esculenta) meberikan respon yang paling tinggi yaitu 100 % eksplan hijau dan 66,7 % eksplan bertunas. Dengan metoda kriopreservasi bahan tanaman dapat disimpan dalam waktu yang lama (sampai 20 tahun) Info Lengkap
51 2012 Metode seleksi in vitro putatif transforman pisang T0 untuk ketahanan terhadap layu Fusarium Biakan tanaman pisang Ambon Kuning putatif transforman mengandung gen chi diuji ketahanannya terhadap toksin penyakit layu fusarium secara in vitro menggunakan media kultur yang mengandung asam fusarat 30-45 mg/l. Tanaman yang terseleksi kemudian diuji kembali ketahanannya di Rumah Kaca menggunakan larutan spora Fusarium oxysporum Strain VCG 01213/16 (Tropical Race 4) densitas 1-10 juta. Hasil pengujian diperoleh 44% tanaman tidak menunjukan gejala serangan dan 56% menunjukan gejala serangan penyakit layu. Metode ini merupakan metode seleksi dini untuk mengetahui toleransi tanaman transforman yang dihasilkan terhadap penyakit layu fusarium. Info Lengkap
52 2013 Metode induksi scalp (high proliferating meristem) pisang Barangan Induksi scalp dapat dilakukan dengan menggunakan media yang mengandung BA pada taraf tinggi. Perlakuan induksi scalp yang terbaik adalah BA 100 uM. Perlakuan tersebut mampu penginduksi pembentukan nodul tunas lebih dari 16 tunas/eksplan. Tunas-tunas yang dihasilkan berkelompok menyerupai susunan daun pada tanaman kubis (cauliflower-like structure). Scalp yang dihasilkan mengandung banyak meristem sehingga cukup memadai untuk dapat disimpan secara kriopreservasi Info Lengkap
53 2010 De novo sekuensing genom kelapa sawit (Draft awal) Kelapa sawit Tenera generasi 4 (F4) yang berumur 3 tahun (kode BA91/04) yang berasal dari koleksi PPKS Medan digunakan untuk de novo sekuensing. Dalam hal ini, beberapa optimasi awal untuk clustering DNA telah dilakukan dan menunjukkan nilai kepadatan klaster DNA (DNA cluster density) yang cukup baik ditunjukkan dengan rataan flowcell antara 96.000-127.000 klaster DNA/mm2 flow cell. Nilai kepadatan DNA klaster yang diharapkan mencapai kisaran 200.000-300.000 klaster DNA/mm2 flow cell. Kualitas data total genom kelapa sawit Tenera secara ringkas ditentukan berdasarkan parameter cluster density dan %PF CLuster. Beberapa parameter seperti cluster density, persentase error rate, persentase phase/preph, persentase PF Cluster, dan lain-lain dijadikan acuan dalam menentukan kualitas hasil bacaan sekuen nukleotida. Draft awal hasil sekuensing kelapa sawit ini menjadi dasar penyusunan sekuen genom total rujukan kelapa sawit Info Lengkap
54 2010 Peta genetik 1536 SNP terkait dengan gen pengendali karakter komponen hasil dan umur genjah pada padi yang didisain dalam bentuk chip. Peta genetik berupa sebaran 1536 marka SNP yang didisain dalam bentuk chip berdasarkan peta genetik beberapa gen/QTL pengatur sifat tingkat produksi (komponen hasil) dan umur genjah. Beberapa acuan yang digunakan adalah SNP chip penelitian sebelumnya yang terpetakan di setiap kromosom pada genom padi. 1536 marka SNP dalam bentuk chip ini dapat digunakan untuk scanning genom plasma nutfah padi sehingga dapat diketahui aksesi-aksesi yang memiliki alel potensial terkait karakter komponen hasil unggul dan umur genjah. Info Lengkap
55 2010 Sekuensing Draft awal genom total jarak pagar (IP3) Draft awal sekuen genom total jarak pagar IP3 dilakukan secara Paired-End sequencing dengan ilumina Hiseq. Data mentah sekuen yang diperoleh memberikan informasi awal genom jarak pagar. Disamping itu, beberapa optimasi pada pembuatan clustering DNA juga telah diperoleh. Data sekuen hasil Hiseq ini masih harus dianalisis lebih lanjut secara bioinformatik untuk mendapatkan peta kontig dan scaffold dari sekuen genom jarak pagar. NGS (next generation sequencing) merupakan teknologi cepat dan high throughput dalam memperoleh sekuen de novo total genom jarak pagar. Tersedianya sekuen genom jarak pagar akan mempermudah dan membantu program pemuliaan jarak sesuai karakter yang diinginkan. Info Lengkap
56 2011 Struktur populasi 272 aksesi plasma nutfah padi dan peta genetik marka SNP terkait komponen hasil dan umur genjah berbasis sub spesies plasma nutfah padi Struktur populasi dari 272 aksesi plasma nutfah padi didasarkan pada keragaman genotipenya menggunakan 1536 marka SNP-chip terkait dengan karakter komponen hasil uggul dan umur genjah. Dari informasi struktur populasi aksesi-aksesi plasma nutfah yang dianalisis ini selanjutnya dapat diperoleh peta genetik 1536 marka SNP pada kelompok aksesi berbasis subspesies, yaitu Indica, Japonica, TopicalJaponica dan juga kelompok introgres antar subspesies yang berbeda. Informasi struktur populasi plasma nutfah padi ini dapat mendukung analisis selanjutnya yaitu analisis asosiasi antara data fenotipe dan genotipe sehingga dapat diketahui marka SNP signifikan terpaut dengan karakter komponen hasil unggul dan umur genjah. Sedangkan peta genetik berbasis subspesies yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk melacak pewarisan (tipe introgresi) pada populasi turunan tetua dengan subspesies yang berbeda. Info Lengkap
57 2012 Peta genetik marka SNP terkait karakter komponen hasil dan umur genjah. Peta genetik marka SNP terkait karakter komponen hasil dan umur genjah diperoleh dari hasil analisis asosiasi antara data fenotipe dan genotipe dari 272 aksesi plasma nutfah padi menggunakan 1536 SNP. Dari hasil analisis asosiasi ini diperoleh beberapa marka signifikan terpaut dengan beberapa karakter komponen hasil unggul, seperti panjang malai dan jumlah gabah per malai serta dengan karakter umur genjah, seperti umur berbunga. Marka-marka SNP yang terpaut (signifikan) dengan karakter target setelah divalidasi dapat membantu meningkatkan presisi proses seleksi konvensional karena berbasis gen target. Info Lengkap
58 2010 Formulasi media untuk perkecambahan struktur embriosomatik kedelai varietas Baluran, Burangrang, Wilis dan Grobogan. Kedelai merupakan tanaman yang bersifat rekalsitran pada kultur in vitro, khususnya untuk pembentukan planlet melalui embriogenesis somatik, sehingga diperlukan formulasi media yang tepat dan bersifat spesifik untuk setiap genotipe yang digunakan. Formulasi media terbaik untuk induksi perkecambahan embriosomatik kedelai varietas Baluran, Burangrang, Wilis dan Grobogan adalah MS + vitamin Morrel & Weetmore + GA3 0.1 mg/l +glutamin 100 mg/l + sukrosa 2%. Formulasi media ini dapat digunakan untuk perkecambahan struktur embriosomatik dari empat varietas kedelai yang digunakan sebagai tetua untuk induksi mutasi melalui kultur in vitro, yaitu Baluran, Burangrang, Wilis dan Grobogan. Info Lengkap
59 2012 Data stabilitas gen RB Klon-klon terpilih menunjukkan masih mengandung gen RB Kentang tahan hawar daun Info Lengkap
60 2012 Data dampak terhadap organisme non-target (secondary effect) khususnya mikroba tanah seperti pelarut P dan penambat N2, serta penyakit lainnya seperti early blight dan bakteri layu, dari 12 galur terseleksi tanaman kentang transgenik yang tahan terhadap penyakit hawar daun (P. infestans). Studi tidak menunjukkan dampak buruk thd mikroba tanah serta penyakit lain Kentang tahan hawar daun Info Lengkap
61 2010 Formulasi media untuk induksi perakaran tunas putatif mutan kedelai yang dihasilkan dari embriogenesis somatik. Penggunaan mutagen seringkali menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel sehingga menurunkan daya regenerasinya membentuk tunas dan akar. Oleh karena itu diperlukan tahap induksi perakaran pada pembentukan planlet melalui embriogenesis somatik .Formulasi media terbaik untuk menginduksi perakaran dari tunas putatif mutan hasil iradiasi sinar gamma dan EMS adalah MS + IBA 0.1-0.5 mg/l. Formulasi media tersebut dapat digunakan untuk menginduksi terbentuknya akar pada tunas in vitro kedelai. Info Lengkap
62 2012 Data karakter hortikultura di lapang dari 12 galur terseleksi tanaman kentang transgenik yang tahan terhadap penyakit hawar daun (P. infestans). Studi karakter hortikultura di lapangan dari 12 galur terseleksi Tahan hawar daun Info Lengkap
63 2010 Somaklon kedelai hasil perlakuan mutagen fisik (sinar gamma) dan mutagen kimia (Ethyl Methan Sulphonate). Planlet dengan perakaran yang sempurna diaklimatisasi, menggunakan media campuran antara tanah, pasir dan arang sekam, selanjutnya dilakukan penyungkupan bibit selama 6-8 minggu. Tanaman yang tumbuh dengan baik setelah aklimatisasi, 29% berasal dari perlakuan EMS, 43% berasal dari perlakuan iradiasi sinar gamma dan 30% tanpa perlakuan mutagen (kontrol). Metoda aklimatisasi yang digunakan dapat meningkatkan persentase hidup bibit hasil kultur in vitro. Info Lengkap
64 2013 Dossier Keamanan lingkungan galur kentang tahan hawar daun Dossier keamanan lingkungan empat galur kentang transgenik tahan terhadap penyakit hawar daun (P. infestans) Kentang tahan hawar daun Info Lengkap
65 2013 Ketetapan aman lingkungan empat galur kentang transgenik yang tahan terhadap penyakit hawar daun (P. infestans) Kegiatan 2. Pengajuan aplikasi pengkajian keamanan lingkungan kepada Menteri Pertanian. Lembaga otoritas pengkajian keamanan hayati yaitu Komisi Keamanan Hayati (KKH) Produk Rekayasa Genetik (PRG) yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 39/2010 masa tugasnya telah berakhir pada bulan Juni 2013, sedangkan draft Peraturan Presiden pembentukan KKH PRG baru, saat ini masih berada di Kementerian Hukum dan HAM. Disamping itu, Tim Teknis Keamanan Hayati (TTKH) PRG yang dibentuk melalui SK Ketua KKH No. 01/2011 masa tugasnya berakhir pada bulan Desember 2013. Sedangkan Pengkajian Keamanan Lingkungan tanaman PRG dilakukan oleh KKH PRG dan TTKH PRG, maka penyelesaian kegiatan yang menyangkut Pengkajian keamanan lingkungan terhadap kentang PRG baru dapat dilakukan setelah KKH dan TTKH PRG terbentuk dan berdasarkan keadaan tersebut maka permohonan pengkajian keamanan lingkungan belum dikirim ke Mentan cq. Kepala Balitbangtan. Kentang tahan hawar daun Info Lengkap
66 2010 Chip SNP50K untuk sapi Chip SNP Bovine densitas tinggi dari Illumina yang mengandung sekitar 54.000 SNP digunakan untuk genotyping 48 genotipa sapi (sapi perah dan potong) yang meliputi sapi kembar (twinning) secara histori dan sapi tidak kembar. Bovine HD Bead chip telah disintesis berdasarkan sekuen genom berbagai genotipa sapi yang meliputi genotipa Holstein maupun Brahman. Sapi perah yang digunakan adalah dari genotipa Holstein, sedangkan sapi potong merupakan sapi yang berasal dari jenis peranakan ongole (PO). Variasi SNP pada genotipa sapi yang diamati telah berhasil diidentifikasi berdasarkan genom total sapi (bovine). Chip SNP ini berhasil membedakan kelompok sapi perah dan sapi potong, namum hasil analisis tidak menunjukkan asosiasi antara SNP dengan histori genotipa sapi kembar. SNPChip50K Bovine bisa mendeteksi dan membedakan genotipa sapi dengan cepat, termasuk analisis asosiasi dengan karakter yang diinginkan Info Lengkap
67 2011 De novo genome sequencing pada tiga genotipa kelapa sawit (Dura, Pisifera, Oleifera) Sekuen genom total tiga genotipa kelapa sawit (Dura, Pisifera, dan Oleifera) berhasil diperoleh dengan kualitas tinggi. Informasi awal dari jumlah read, jumlah total contigs and scaffold masing-masing genotipa juga diperoleh. Ukuran genom yang tersusun pada ketiga kelapa sawit tersebut adalah 365Mb untuk Elaeis oliefera, 95.4Mb untuk E. guinensis (Pisifera), dan 176Mb E. guinensis (Dura) Sekuen genom total tiga genotipa kelapa sawit sangat berguna dalam penelusuran gen-gen potensial dan menjadi dasar dalam pengembangan marka DNA untuk tujuan pemuliaan Info Lengkap
68 2011 De novo sequencing genom total jarak pagar IP3 Sekuen genom total jarak pagar IP3 diperoleh sekitar 202Mb (40% total genom jarak pagar) menggunakan pair-end. Sekuen genom total jarak pagar IP3 bermanfaat sebagai referensi (sekuen rujukan) Info Lengkap
69 2011 Resequencing genom total 2 genotipa kelapa sawit (Psifera dan Elais oleifera) Dua genotipa kelapa sawit (Psifera dan Elais oleifera) diresequensing secara pair-end (gabungan pembacaan kedua untai DNA) menggunakan ilumina Hiseq. Hasil sekuen genom total kedua genotipa dialign dengan sekuen rujukan kelapa sawit untuk identifikasi variasi nukleotida meliputi SNP, INDEL, SSR dan lain-lain. Informasi data hasil resekuensing bermanfaat untuk pengembangan marka DNA (universal dan fungsional), termasuk untuk deteksi gen-gen penting pada pemuliaan kelapa sawit. Info Lengkap
70 2011 Resequencing genom total 2 genotipa kelapa sawit (Psifera dan Elais oleifera) Dua genotipa kelapa sawit (Psifera dan Elais oleifera) diresequensing secara pair-end (gabungan pembacaan kedua untai DNA) menggunakan ilumina Hiseq. Hasil sekuen genom total kedua genotipa dialign dengan sekuen rujukan kelapa sawit untuk identifikasi variasi nukleotida meliputi SNP, INDEL, SSR dan lain-lain. Informasi data hasil resekuensing bermanfaat untuk pengembangan marka DNA (universal dan fungsional), termasuk untuk deteksi gen-gen penting pada pemuliaan kelapa sawit. Info Lengkap
71 2011 Resekuensing genom total tiga genotipa jarak pagar (Jatropha F2, NP-2, HS49) Genome total 3 genotipe Jarak pagar (jatropha F2, NP-2, dan HS49) dire-sekuensing secara pair-end dan disejajarkan dengan sekuen rujukan jarak pagar yang telah tersedia (Thailand). Hasil alignment ini dapat menghasilkan variasi nukleotida pada ketiga genotipa sebagai dasar pengembangan marka DNA. Informasi variasi nukleotida penting dalam pengembangan marka DNA dan pencarian gen-gen penting terkait karakter yang diinginkan Info Lengkap
72 2011 Re-sekuensing genom total dua genotipa kakao Genom total 2 genotype kakao yang diperoleh dari Puslitbangbun diresekuensing dengan single read sequencing (hanya satu untaian fragmen DNA yang disekuen). Diperoleh data sekuen genom total kakao sebanyak 59,2 milyar basa (59,2 GB) dan hasil alignment/pensejajaran dengan data sekuen rujukan kakao yang telah tersedia di data base digunakan menemukan dan mengoleksi marka SNP kakao. Informasi variasi SNP sangat bermanfaat untuk pengembangan marka dan SNP chip, mendeteksi gen-gen penting yang bernilai ekonomi tinggi seperti ketahanan terhadap hama penyakit penting dan gen pengendali produktivitas dan mutu biji kakao. Info Lengkap
73 2011 Genotiping berbasis genom dengan BovineSNP700K pada sapi Sebanyak 770.000 marka SNP asal Bovine high density (Bovine HD SNP Whole - genome Genotyping Bead Chip ) digunakan untuk menganalisis genotipe sapi dengan variasi luas untuk karakter terkait twinning dan karakter laju pertumbuhan pada sapi, Holstein (sapi perah) dan PO (silangan Brahman dan Indonesia). Chip digunakan untuk analisis microarray untuk studi asosiasi antara marka SNP dan karakter-karakter yang menentukan twinning pada sapi. Identifikasi QTL atau gen karakter pengontrol twinning dan laju pertumbuhan akan dilakukan menggunakan metode association mapping untuk mendapatkan QTL atau gen yang mengontrol karakter-karakter ini. Analisis microarray menggunakan mesin iScan. Hasil studi asosiasi dengan marka SNP, kandidat gen pengendali twinning akan diidentifikasi dan gen dapat diisolasi dari genom sapi. Kandidat-kandidat gen ini akan dikonfirmasi fungsinya dalam menentukan fenotipa twinning . Gen pengendali twinning ini kemudian akan digunakan dalam pembuatan sebuah kit yang diharapkan dapat digunakan untuk membedakan suatu genotipa sapi betina produktif mana yang punya potensi twinning dan genotipa sapi mana yang tidak menunjukkan potensi twinning . Telah diperoleh data genotipe 96 genotipa sapi hasil analisis menggunakan 740.000 marka SNP. Meskipun belum diperoleh marka yang berasosiasi dengan karakter target mengingat belum lengkapnya data fenotip, akan tetapi marka SNP yang terkait erat dengan laju pertumbuhan telah akan sangat bermanfaat bagi pemuliaan terutama sebagai sistem seleksi berbasis DNA untuk pembentukan galur sapi pembawa karakter dengan pertumbuhan cepat. Info Lengkap
74 2012 De novo sekuensing genom total jarak pagar IP3 De novo sekuensing genom total jarak pagar IP3 dilakukan untuk memperoleh satu draf awal sekuen rujukan (draf awal peta genetik). Sekuen genom jarak pagar IP3 (sekuen genom Biogen.Jc.Draft.01) dianalisis secara bioinformatik dengan meng-align sekuen genome total jarak pagar IP3 dengan sekuen rujukan yang ada pada database/genebank NCBI sehingga diperoleh informasi besarnya daerah yang mengandung celah ( gap ) berupa urutan DNA yang tidak diketahui (N atau non-ATGC) pada sekuen genom jarak pagar IP3. Hasil sekuensing telah meliputi sebesar 70 persen dari seluruh sekuen Jarak Pagar rujukan yang ada di BankGen NCBI. Sekuen genom Draft.01 ini telah memiliki N50 yang setara dengan genom rujukan dan menghasilkan sekuen terpanjang dengan ukuran 2 kali lipat dari sekuen terpanjang dalam database.Draft awal sekuen (Biogen.Jc.Draft.01) ini akan menjadi dasar penyusunan sekuensing Draft.02 sehingga sekuen yang tidak diketahui (basa N/non-ATGC) dan kesalahan read dapat dikoreksi. Dengan demikian akan meningkatkan kualitas perakitan sekuen (memperpanjang contigs/ scaffolds serta memperbanyak sekuen-sekuen panjang) yang akan menutup celah (gap) yang terdapat pada Draft.01. Info Lengkap
75 2012 Pengembangan data base marka SNP kakao Marka SNP kakao dikembangkan berdasarkan SNP discovery pada hasil alignment antara sekuen genom total 5 genotipa kakao (ICCR02, ICCR03, ICCR04, ICS13, dan SUL-2) dengan sekuen rujukan untuk mengidentifikasi marka SNP. Alignment sekuen tersebut dilakukan secara bioinformatik menggunakan software Bowtie2. Disamping itu, dilakukan juga analisis variasi DNA dari kelima sekuen genom total kakao tersebut menggunakan software Samtools. Variasi DNA yang diperoleh selanjutnya dianotasi menggunakan software snpEff. Variasi DNA yang terletak dalam gen dipisahkan menggunakan software awk dan analisis keragaman kelima genotipa kakao dilakukan menggunakan software DarWin. - variasi genom antar varietas dan sekuen rujukan cukup besar sehingga jutaan marka polimorfik dapat dikembangkan - Jenis dan letak variasi DNA yang dihasilkan dari sekuen 5 genotipe kakao lokal dengan sekuen kakao rujukan sangat tinggi (lebih dari 20 variasi diperoleh). - Teknik ini mampu mengidentifikasi keunikan variasi dna variasi DNA pada masing-masing genotipa yang dapat menjadi marka penciri spesifik Info Lengkap
76 2012 Resekuensing genom total 4 genotipe sapi lokal Indonesia Empat genotype sapi yang disekuen meliputi 2 genotipe sapi bali (masing-masing 1 jantan dan betina) dan 2 genotipe sapi jawa-brebes (jantan dan betina). Data sekuen total yang diperoleh adalah sebesar 258,1 GB (80X ukuran genom sapi) dengan depth-coverage cukup tinggi. Hasil sekuen dialing dengan genom Bovine rujukan untuk mendeteksi variasi SNP yang pada akhirnya akan diaplikasikan sebagai marka dalam kegiatan genotyping sapi-sapi potong lainnya. Hasil alignment sekuen genom empat genotipe sapi lokal penting dalam pengembangan marka DNA (SNP) yang dapat diasosiasikan dengan karakter yang diinginkan seperti laju pertumbuhan sapi Info Lengkap
77 2012 De novo sekuensing genom total kelapa sawit Dura Data sekuen genom total lebih lengkap telah diperoleh termasuk analisis 'anotasi fungsi sekuen scaffold yang terakit'. Berdasarkan database nukleotida genebank, database enzim dan motif serta gene ontology (GO), proses anotasi ini dapat diperoleh informasi berapa banyak bagian genom kelapa sawit yang telah terakit yang mengkode protein atau memiliki fungsi tertentu. Anotasi GO mengelompokkan fungsi sekuen berdasarkan 3 kriteria, yaitu proses biologis, komponen seluler dan fungsi molekuler. Bagian genom kelapa sawit yang diperoleh semakin lengkap sehingga dapat diperoleh informasi genom penting lebih detil seperti jenis dan jumlah gen, anotasi scaffold (termasuk GO, enzim dan domainnya) dan dapat dimanfaatkan dalam mendukung secara keilmuan dan aplikasinya dalam pemuliaan kelapa sawit. Info Lengkap
78 2012 Gen kaset OsPPCK, gen OsCKX dan gen OsRKY47 Gen OsPPCK untuk sifat toleran kekeringan, gen OsCKX untuk produktivitas tinggi dan gen OsWRKY47 untuk umur genjah telah dikonstruksi ke vektor ekspresi sehingga dapat digunakan untuk merakit tanaman-tanaman dengan sifat atau karakter yang diinginkan. Kaset gen OsPPCK dapat digunakan untuk merakit tanaman toleran kekeringan, kaset gen OsCKX dapat digunakan untuk merakit tanaman dengan produktivitas tinggi dan kaset gen OsWRKY47 dapat digunakan untuk merakit tanaman berumur genjah Info Lengkap
79 2012 Konstruk gen pCamb-OsERA1, pCamb-OsGS3 dan pCamb-AtCO Konstruk gen pCambia-OsERA1 untuk toleran kekeringan, pCambia-OsGS3 untuk produktivitas tinggi (terkait ukuran biji) dan pCambia-AtCO untuk umur genjah Masing-masing konstruk yaitu konstruk pCambia-OsERA1, pCambia-OsGS3 dan pCambia-AtCO dapat digunakan untuk mengembangkan tanaman dengan karakter target Info Lengkap
80 2012 Gen Tca dan gen Tcd Gen Tca dan gen Tcd diisolasi dari S. marcescens (bakteri entomopatogen) strain wbc koloni Sukamandi Gen Tca dan gen Tcd dapat digunakan untuk merakit padi tahan wereng coklat Info Lengkap
81 2013 Marka-marka SSR padi polimorfis untuk toleransi cekaman genangan Marka-marka SSR yang terseleksi merupakan hasil survei polimorfisme pada padi tetua toleran genangan Siam Arjuna dan padi Ciherang Marka-marka SSR ini dapat digunakan untuk membantu menyeleksi populasi hasil persilangan antara Siam Arjuna dan CIherang Info Lengkap
82 2013 Klon-klon gen kandidat untuk toleran kekeringan dan produktivitas Klon-klon gen kandidat yang telah diperoleh merupakan klon gen yang diamplifikasi dari beberapa tanaman padi yang diantaranya diketahui toleran terhadap kekeringan. Amplifikasi klon gen dilakukan menggunakan primer spesifik gen untuk toleran kekeringan dan produktivitas. Klon-klon gen kandidat dapat digunakan untuk mengkonstruksi kaset gen toleran kekeringan dan produktivitas dan selanjutnya dapat digunakan untuk merakit tanaman toleran kekeringan dan produktivitas tinggi Info Lengkap
83 2013 De novo sekuensing genom total kelapa sawit Dura Data sekuen genom total kelapa sawit Dura yang diharapkan dapat dipakai sebagai rujukan sekuen kelapa sawit indonesia. Mengingat telah adanya informasi sekuen rujukan yang ada di genebank (Singh et al. 2013), maka penyelesaian kegiatan de novo sekuensing kelapa sawit Dura Indonesia dapat dipercepat. Oleh sebab itu, data sekuen final genotipe kelapa sawit Dura Indonesia dijajarkan dengan data sekuen genom rujukan kelapa sawit Dura pada genebank menggunakan software Bowtie2. Dari hasil penjajaran tersebut maka assembly data sekuen kelapa sawit telah dapat diselesaikan karena lokasi dari setiap fragmen DNA sudah terpetakan pada sekuen rujukan kelapa sawit. Pemetaan data sekuen genom total kelapa sawit Dura dengan sekuen genom rujukan kelapa sawit yang ada di GeneBank menunjukkan bahwa data sekuen Dura terpetakan sebanyak 90%. Selain itu, peta genom kloroplas dari genotipa Dura Indonesia telah diperoleh berdasarkan hasil penjajaran dengan genom kloroplas rujukan (sekuen rujukan kloroplas Elaeis guinnensis No. Acc. JF274081.1) Sekuen rujukan genom kelapa sawit Dura sangat penting sebagai peta referensi untuk analisis genom genotipe-genotipe (koleksi plasma nutfah) kelapa sawit Indonesia dalam rangka mengidentifikasi variasi genom, pengembangan marka, penemuan gen penting untuk mendukung percepatan dan presisi pemuliaan kelapa sawit berbasis genom. Peta kloroplas kelapa sawit Dura penting untuk membantu pelacakan silsilah suatu varietas/genotipe karena kloroplas diturunkan dari garis ibu, mengidentifikasi klon/varietas, dan rekayasa genetika menggunakan gen-gen dari genom kloroplas, Rekayasa genetika dengan gen-gen kloroplas mencegah kontaminasi tanaman transgenik melalui kontaminasi pollen (gene flow). Info Lengkap
84 2013 De novo sekuensing genom total jarak pagar IP3 De novo sekuensing genom total jarak pagar IP3 dilakukan untuk memperoleh satu draf lanjutan sekuen rujukan (draf lanjutan peta genetik). Sekuen genom jarak pagar IP3 (sekuen genom Biogen.Jc.Draft.02) dianalisis secara bioinformatik dengan meng-align sekuen genome total jarak pagar IP3 dengan sekuen rujukan yang ada pada database/genebank NCBI (Accession number BABX01). Untuk penyusunan Draft.02 diperlukan tambahan data dari software penutup celah (gap closer) dan pengoreksi kesalahan baca (error correction). Penutup celah dapat mengurangi jumlah sekuen yang tidak diketahui (basa N/non-ATGC) dan pengoreksi kesalahan akan meningkatkan kualitas perakitan sekuen (memperpanjang contigs/scaffolds serta memperbanyak sekuen-sekuen panjang). Genome Browser peta rujukan (reference sequence) dan data informasi genom lainnya telah tersedia hasil kerjasama antara BB Biogen dan Seoul National University, Korea (www.plantgenomics.snu.ac.kr). Dengan sekuen rujukan dapat dilakukan identitifikasi variasi genom koleksi plasma nutfah jarak pagar nasional untuk penemuan gen, QTL, dan marka terkait karakter penting jarak pagar untuk percepatan dan meningkatkan akurasi pemuliaan jarak pagar nasional. Genom Browser mempermudah pemulia jarak pagar menyeleksi gen maupun marka untuk diaplikasikan pada program pemuliaannya. Info Lengkap
85 2013 Sistem back-up dan data base data genom Server yang diinstall back-up system mempunyai IP address 10.1.1.129 dan 10.1.1.130. Server-server tersebut diinstall dengan Debian Free Operating System, salah satu distro Linux yang dinilai stabil. Server dengan address 10.1.1.129 melakukan sinkronisasi data dengan iSilon Storage sehingga pada server ini mempunyai konten data yang sama dengan iSilon Storage. Server dengan IP address 10.1.1.130 melakukan kompresi data dari iSilon Storage sehingga didapatkan data terkompresi di server ini. Proses kompresi/backup dilakukan secara manual dan proses backup dapat dilakukan dengan perintah ./backupdata. Sistem manajemen data base berdasarkan Web telah dibentuk untuk menyediakan platform yang aman, customized, reliable, dan efisien di BB Biogen. Sistem mengamankan data yang dihasilkan dari high throughput sequencing dan genotyping berbagai komoditas pertanian penting. Sistem back-up idealnya berada di luar server utama penampung data untuk menjamin keamanan data genom yang telah dihasilkan. Data base data genom memudahkan akses data genom untuk aplikasi pemuliaan dan studi genetik tanaman dan ternak. Keuntungan dari data base berdasarkan Web antara lain cost effective, dapat diakses dari mana saja, dapat di customized dengan mudah, dapat diakses luas menggunakan perangkat berbeda, mudah diinstalasi dan pemeliharaannya, dapat diadaptasikan dengan beban kerja yang meningkat dari data base, aman, teknologi utama penyusunnya fleksibel. Info Lengkap
86 2013 Identifikasi marka SNP untuk pembentukan SNP chip kedelai Marka SNP kedelai dikembangkan berdasarkan SNP discovery pada hasil alignment antara sekuen genom total 8 genotipa kedelaai (Willis, Tanggamus, Anjasmoro, Grobogan, B3293, Tambora, Davros, dan Malabar) dengan sekuen rujukan varietas ‘William 82’ untuk mengidentifikasi marka SNP. Alignment sekuen tersebut dilakukan secara bioinformatik menggunakan software Bowtie2. Disamping itu, dilakukan juga analisis variasi DNA dari kelima sekuen genom total kakao tersebut menggunakan software Samtools. Variasi DNA yang diperoleh selanjutnya dianotasi menggunakan software snpEff. Variasi DNA yang terletak dalam gen dipisahkan menggunakan software awk dan analisis keragaman kelima genotipa kakao dilakukan menggunakan software DarWin. Dari analisis tersebut, telah diperoleh sekitar 2,6 juta SNP dan INDELS. Diantara marka SNP tersebut telah terpilih 9500 SNP yang ada di gen sebagai kandidat pembentukan high density SNP chip kedelai. SNP discovery dilakukan dalam rangka penemuan kandidat gen dan koleksi marka SNP untuk pembentukan SNP chip kedelai. SNP chip dapat digunakan untuk genotyping dengan cepat dan akurat koleksi plasma nutfah dan populasi persilangan kedelai dan deteksi gen dan QTL karakter bernilai ekonomi tinggi pada kedelai. Marka terkait kemudian digunakan untuk percepatan pemuliaan kedelai berdasarkan MAS dan genomic-assisted selection. Info Lengkap
87 2013 Resekuensing genom total tetua-tetua pemuliaan jagung Total 20 genotipe tetua-tetua pemuliaan jagung dipilih berdasarkan karakter-karakter yang menjadi target pemuliaan jagung nasional seperti toleran kekeringan, toleran genangan, toleran tanah masam, dan tahan bulai. Resekuensing genom totalnya dilakukan menggunakan NGS HiSeq2000 secara paired-end read. Penyiapan DNA jagung tidak mudah karena DNA genomik mudah terdegradasi sehingga perlu modifikasi protokol. Tiap spesies tanaman mempunyai kespesifikan komponen dalam jaringannya, jadi memerlukan optimasi metode dalam memperoleh DNA utuh dan mencegah degradasinya. Duapuluh genotipe telah dibuat pustaka DNAnya, dan 4 genotipe telah diresekuen. Pustaka genom genotype lainnya siap disekuen setelah kendala alat HiSeq yang mengalami ‘error’ sudah normal kembali. Data sikuen genom total 4 genotipe tersebut kualitasnya sangat baik dan siap dianalisis bioinformatika. Data resekuen marka SNP nantinya dikembangkan berdasarkan hasil resekuensing 20 genotipe jagung tersebut. Untuk pemetaan QTL karakter toleran kekeringan pada jagung, telah dibentuk populasi F2 hasil persilangan tetua toleran kekeringan (CML 440) dan tetua peka kekeringan (MR13). Data sikuen genom total tetua-tetua pemuliaan jagung penting sebagai dasar untuk analisis variasi genomnya (SNP, indels) yang bermanfaat sebagai kandidat untuk pengembangan marka dalam membantu proses seleksi pemuliaan jagung tropis. Info Lengkap
88 2013 Resekuensing genom total tetua-tetua pemuliaan pisang Sebanyak 20 genotipe pisang dipilih sebagai materi genetik resekuensing dan pembentukan populasi persilangan pisang. Genotipe-genotipe tersebut meliputi adalah sbb: (1) Calcuta-4, (2) BSK-29, (3) Kole, (4) Klutuk Wulung, (5) Jari Buaya (6) Dingin Balige, (7) Rejang, (8) Ameh Pasaman, (9) Muli, (10) Kelat Air, (11) Mas, (12) Manis Kerinci, (13) Telur, (14) Lidi, (15) Jarum, (16) M accuminata subsp. microcarpa, (17) Tongkat Langit, (18) Tanduk, (19) Candi, (20) Kepok Tanjung. Data sekuen genom total genotipe-genotipe pisang tersebut diperoleh menggunakan teknologi NGS HiSeq dengan paired-end read. Sebanyak dua populasi F1 telah dibentuk hasil persilangan tetua tahan dan tetua peka terhadap penyakit fusarium. Pada persilangan pertama, Cole digunakan sebagai tetua tahan, sedangkan Ameh Pasaman sebagai tetua peka. Sedangkan pada persilangan kedua, tetua tahan yang digunakan adalah Calcuta dan tetua pekanya Ameh. Populasi lengkap kedua populasi tersebut (sedikitnya mengandung 200 tanaman F1 per populasi) diharapkan diperoleh pada tahun 2014. Individu populasi F1 akan dikonfirmasi heterosigositasnys dengan menggunakan marka SSR. Data sekuen genom total beberapa genotipe tetua persilangan pisang merupakan dasar untuk análisis variasi DNA dalam pengembangan marka pisang (misalnya marka untuk ketahanan terhadap penyakit) Info Lengkap
89 2013 Resekuensing genom total genotipe cabai merah dan pembentukan populasi pemetaan gen ketahanan penyakit antraknosa Total 20 genotipe tetua-tetua pemuliaan cabai merah dipilih berdasarkan karakter-karakter yang menjadi target pemuliaan cabai nasional seperti karakter ketahanan penyakit (antraknosa, virus gemini, layu bakteri), komponen hasil, dan kualitas buah. Genotipe yang diuji yaitu Perisai, 7558, 6729, 6719, 6741,7651, Tanjung2, Lembang-1, 0735-7641-B, 0737-7651-B, 0836-6729-1, PP0537-7558, 3, 0735-5670-1, 0735-5632-1, 0735-5608-1, 0735-5601-1, Kupay, B03, B04, K05, 0207. Resekuensing genom total tetua-tetua pemuliaan cabai dilakukan menggunakan NGS HiSeq2000 secara paired-end read. Isolasi DNA genomika cabai dan konstruksi pustaka genom 20 genotipe cabai telah diperoleh dan 12 genotipe yang telah diresekuen genom totalnya. Pustaka genom genotype lainnya siap disekuen setelah kendala alat HiSeq yang mengalami ‘error’ sudah normal kembali. Data sikuen genom total 12 genotipe tersebut kualitasnya sangat baik dan siap dianalisis bioinformatika. Data resekuen Marka SNP yang nantinya dikembangkan berdasarkan hasil resekuensing 20 genotipe cabai tersebut. Untuk pemetaan QTL karakter ketahanan penyakit antraknosa pada cabai, telah dibentuk populasi F1 hasil persilangan tetua tahan dan tetua peka penyakit antraknosa. Data sikuen genom total tetua-tetua pemuliaan cabai penting sebagai dasar untuk dianalisis variasi genomnya (SNP, indels) yang bermanfaat sebagai kandidat untuk pengembangan marka dalam membantu proses seleksi pemuliaan cabai nasional. Populasi hasil persilangan tetua tahan dan peka antraknose digunakan untuk melabel QTL ketahanan penyakit antraknosa pada cabai. Info Lengkap
90 2013 Resekuensing genom total genotipe kakao dan pembentukan populasi pemetaan gen ketahanan penyakit penting kakao Sebanyak 20 genotipe tetua-tetua pemuliaan kakao dipilih berdasarkan karakter-karakter yang menjadi target pemuliaan kakao nasional seperti karakter ketahanan hama dan penyakit (PBK, VSD, busuk buah Phytophthora), hasil dan komponen hasil, dan kualitas kakao. Genotipe yang diuji yaitu (1) RCC70, (2) PA303, (3) GC7, (4) SD6225, (5) NIC7, (6) PA300, (7) TSH858, (8) ICS13, (9) UIT1, (10) ICS60, (11) DRC16, (12) GC7, (13) ICS60, (14) SCA6, (15) DRC15, (16) ICCRI1, (17) SCA12, (18) PA300, (19) DR38, (19) DR1, (20) DR2. Resekuensing genom total tetua-tetua pemuliaan kakao dilakukan menggunakan NGS HiSeq2000 secara paired-end read. Isolasi DNA genomika kakao dan konstruksi pustaka genom 20 genotipe kakao telah diperoleh dan 10 genotipe yang telah diresekuen genom totalnya. Pustaka genom genotype lainnya siap disekuen setelah kendala alat HiSeq yang mengalami ‘error’ sudah normal kembali. Data sikuen genom total 10 genotipe tersebut kualitasnya sangat baik dan siap dianalisis bioinformatika. Data resekuen akan digunakan untuk penemuan marka SNP. Untuk pemetaan QTL karakter ketahanan penyakit VSD, phytopthora, dan kualitas biji kakao, sedang dibentuk populasi F1 hasil persilangan tetua tahan dan tetua peka penyakit penting kakao di atas. Data sekuen genom total tetua-tetua pemuliaan kakao penting sebagai dasar untuk dianalisis variasi genomnya (SNP, indels) yang bermanfaat sebagai kandidat untuk pengembangan marka dalam membantu proses seleksi pemuliaan kakao nasional. Populasi hasil persilangan tetua tahan dan peka antraknose digunakan untuk melabel QTL ketahanan penyakit antraknosa pada kakao Info Lengkap
91 2013 Resekuensing genom total genotipe kentang dan pembentukan populasi pemetaan terkait ketahanan virus Sebelas genotipe tetua-tetua pemuliaan kentang meliputi (1) Atlantik, (2) Granola, (3) Merbabu 17, (4) Amudra, (5) Repita, (6) Tenggo, (7) Margahayu, (8) CIP 392781.1, (9) CIP 397077.16; (10) CIP 394613.139; dan kerabat liar kentang Bolbosum castanum digunakan dalam kegiatan paired-end re-sekuensing dengan teknik NGS. Sampai saat ini sebanyak 4 dari 11 genotipe kentang yang telah dikonstruksi pustaka genomnya telah berhasil dire-sekuen. Dua dari 11 genotipe kentang tersebut, yaitu genotipe yang memberikan respon kontras antara yang tahan dengan yang tidak tahan terhadap penyakit virus PLRV dipilih sebagai materi genetik tetua persilangan untuk tujuan pemetaan gen ketahanan terhadap penyakit virus PLRV pada kentang. Data sekuen genom total beberapa genotipe tetua persilangan kentang merupakan dasar untuk análisis variasi DNA. Variasi DNA tersebut menjadi dasar dalam pengembangan marka DNA terkait penyakit virus kentang Info Lengkap
92 2013 Resekuensing genom total sapi lokal Indonesia Materi genetik rumpun sapi yang digunakan pada penelitian ini berasal dari berbagai institusi di Indonesia. Oleh karenanya diperlukan koordinasi yang intensif dengan instansi terkait untuk ijin pengambilan sampel darah 20 genotipe rumpun sapi-sapi lokal Indonesia. Rumpun sapi lokal yang diteliti meliputi rumpun sapi PO dan sapi Jawa Brebes (dari Loka Sapo Grati, Jatim), rumpun sapi Aceh (dari Aceh melalui BPTP Aceh), rumpun sapi Sumba Ongol (dari Sumba melalui BPTP NTT), rumpun sapi Pesisir Selatan (melalui Dinas Peternakan Pesisir Selatan, Sumbar), rumpun sapi Madura (melalui Disnak Kabupaten Bangkalan, Jatim), rumpun sapi Katingan (melalui BPTP Kalteng), rumpun sapi Bali (melalui BPTU Bali). Pada setiap rumpun sapi terdiri dari 2-4 genotipe yang diresekuen genom totalnya sehingga jumlah total yang diresekuen sebanyak 20 genotipe sapi lokal Indonesia. Pengambilan sampel darah 20 genotipe rumpun sapi local untuk isolasi DNA genomik. Isolasi DNA genomik, penyiapan pustaka genom, dan resekuensing genom total 20 genotipe sapi lokal Indonesia dilakukan menggunakan pada mesin HiSeq2000 menggunakan protokol dan kit Illumina. Data resekuen 20 genotipe sapi local Indonesia telah tersedia dan analisis data sekuen genom total secara bioinformatika dilakukan pada tahun 2014. Koleksi data resekuen genom total 20 genotipe rumpun-rumpun sapi lokal Indonesia digunakan untuk análisis dalam rangka penemuan dan mengidentifikasi variasi genom, gen, dan alel rumpun-rumpun sapi lokal Indonesia. Koleksi variasi genom (SNP, INDELS) digunakan untuk penyiapan marka dan indentifikasi gen-gen unggul untuk mendukung percepatan program pemuliaan sapi nacional. Pemuliaan sapi berbasis data genom kan lebih efisien dan akurat untuk mempercepat swasembada daging nacional. Info Lengkap
93 2013 Senyawa Feromon sek H. armigera Dua senyawa seks feromon dari imago betina Helicoverpa armigera telah diketahui sebagai cis-9-heksadecenal dan cis-11-heksadecenal. Senyawa tersebut bersifat seks atraktan terhadap imago jantan Helicoverpa armigera Info Lengkap
94 2013 Formulas seks feromon Armigera Bersifat seks atraktan terhadap imago jantan Helicoverpa armigera Efektif, efisien dan ramah lingkungan untuk pengendalian H. armigera Info Lengkap
95 2014 koleksi mikroba agensia bioindustri dari kelompok fungsi direjuvenasi dan dipreservasi isolat yang dikarakterisasi terhadap pemghasil IAA, kitinase dan glukanase bisa dimanfaatakan dalam biokontrol Info Lengkap
96 2014 koleksi entomopatogen karakterisasi molekuler identitas B. bassiana isolat lokal agen biokontrol hama Info Lengkap
97 2014 isolat entomopatogenik isolat entomopatogen B. bassiana terkarakterisasi potensi agen biokontrol Info Lengkap
98 2014 Set marka SNP untuk umur genjah dan komponen hasil unggul TBGI066976, id12007629, id12008894, id3018559 : penanda untuk gen WD domain yang berkontribusi pada karakter pengaturan lamanya waktu pembungaan. id3017469 : penanda QTL qph3-1 yang berkontribusi pada karakter tinggi tanaman. id1010973 : penanda QTLqnt1.1 yang berkontribusi pada karakter jumlah anakan TBGI048522, id12003066 : penanda untuk QTL qpl1-1 dab qpl12-1 yang berkontribusi pada karakter panjang malai id8003808 : penanda untuk QTL qgn8-1 dan IPA1 (ideal Plant Architecture1) yang berkontribusi pada karakter jumlah bitir per malai. TBGI272511, id10004689 : penanda QTL qtgw10 yang berkontribusi pada karakter berat 1000 butir Deteksi dapat dilakukan di fase awal tanaman Info Lengkap
99 2014 Set marka SNP sebagai penciri sidikjari DNA tanaman padi terkait dengan karakter morfologi tanaman id2001831 : marka penciri karakter permukaan daun TBGI424381, TBGI427505, TBGI129273 : marka penciri karakter sudut daun bendera id2010357 : marka penciri karakter diameter ruas batang bawah, poros malai dan arna leher daun. Dapat digunakan untuk mendeteksi pada fase awal tanaman. Info Lengkap
100 2014 Karakterisasi total 467 aksesi plasma nutfah padi untuk karakter komponen hasil dan umur tanaman (umur berbunga dan umur panen) berdasarkan pengujian di rumah kaca dan lapang (3 lokasi, selama 2 musim). Karakterisasi total 288 aksesi plasma nutfah padi untuk karakter morfologi dan agronomi di rumah kaca Karakterisasi total 467 aksesi plasma nutfah padi untuk karakter komponen hasil dan umur tanaman (umur berbunga dan umur panen) berdasarkan pengujian di rumah kaca dan lapang (3 lokasi, selama 2 musim). Data-data ini diperlukan untuk studi asosiasi dengan data genotyping menggunakan marka SNP dengan total jumlah 1536 marka. Karakterisasi total 288 aksesi plasma nutfah padi untuk karakter morfologi dan agronomi di rumah kaca. Data-data ini diperlukan untuk tujuan analisis profil sidik jari plasma nutfah padi yang dianalisis menggunakan marka SNP dengan total jumlah 384 marka. Marka SNP terpilih dapat digunakan untuk menentukan penciri genetik terkait dengan beberapa karakter target, baik itu karakter komponen hasil unggul dan umur genjah atupun karakter morfologi-agronomi untuk tujuan sidikjari DNA plasma nutfah padi. Info Lengkap
101 2014 1. Set marka 1536 SNP-chip untuk seleksi karakter komponen hasil unggul dan umur genjah. 2. Set marka 384 SNP-chip untuk karakterisasi sidikjari DNA plasma nutfah padi. Untuk tujuan mencari marka penseleksi terkait karakter komponen hasil unggul dan umur genjah maka telah didisain chip yang berisi 1536 total marka SNP. Marka-marka ini didisain berdasarkan gen / QTL untuk karakter komponen hasil dan umur tanaman yang telah terpetakan di genom padi. Untuk tujuan identifikasi profile genotipe (sidikjari DNA) 288 aksesi plasma nutfah padi sebagai penciri varietas, maka telah di-disain chip yang berisi 384 total marka SNP. Marka SNP ini tersebar di ke-12 kromosom genom padi dengan rata-rata jumlah marka perkromosomnya 20-30 marka SNP. Dapat membantu seleksi dan karakterisasi penciri varietas dalam program pemuliaan tanaman berbasis molekuler (molecular breeding program). Info Lengkap
102 2014 Profil sidikjari (genotipe) 288 aksesi plasma nutfah padi berdasarkan 384 marka SNP Profile genotipe yang diperoleh diasosiasikan dengan data fenotipe hasil karakterisasi morfologi dan agronomi di rumah kaca sehingga diperoleh marka SNP yang berasosiasi dengan karakter morfologi spesifik pada tiap varietas/aksesi yang dianalisis. Hasil dari analisis ini terdapat karakter bagian daun, malai dan batang yang dapat menjadi pembeda secara genetik dengan dukungan karakterisasi molekuler. Pemanfaatan marka SNP dalam bentuk chip akan diaplikasikan dalam upaya menentukan sidik jari DNA plasma nutfah padi sebagai penciri genetik suatu aksesi (variety identity). Pada era sekarang teknologi sidik jari DNA dapat diaplikasikan di berbagai aspek biologi tanaman, salah satunya adalah identifikasi kultivar yang penting untuk mengecek kemurnian secara genetik dari varietas/galur. Pembuatan ID varietas berdasarkan profil sidik jari DNA ini dapat diaplikasikan pada kasus duplikasi, “missing” ataupun “mis-labelling”. Dalam konteks kegiatan pemuliaan tanaman, pembuatan ID varietas dapat melindungi hak-hak pemulianya. Pembuatan ID varietas dapat membantu karakterisasi varietas yang akan dilepas dalam memenuhi kriteria NDUS (novelty, distinctness, uniformity, and stability) yang disyaratkan oleh kantor PVT (Perlindungan Varietas Tanaman). Penanda molekuler dapat menyediakan profil unik DNA dari varietas-varietas yang akan dilindungi. Info Lengkap
103 2014 Struktur populasi dan peta genotipe 467 dan 288 aksesi plasma nutfah padi Struktur populasi 467 aksesi plasma nutfah padi berdasarkan program STRUCTURE dengan nilai variasi K=5, diketahui terdapat 4 subpopulation utama, yaitu : Indica, Temperate Japonica, Tropical Japonica, Aromatic/Aus dan 2 kelompok segregasi yang merupakan kombinasi antara : Tropical Japonica and Indica (Tropical Japonica / Indica); dan Indica dengan wild rice species Oryza rufipogon (Indica / O. rufipogon). Struktur populasi dari 288 aksesi plasma nutfah, terdiri dari 2 set informasi, sesuai dengan tujuannya, yaitu : 1. Set informasi untuk tujuan deteksi kemurnian benih varietas baru Inpari HDB dan Inpari Blas Varietas Inpari Blas dan Inpari HDB dianalisis keragaan genotypingnya untuk uji kemurnian varietas dalam rangka pembuatan breeder seed. Berdasarkan profile keragaan genotipe yang diperoleh dapat dipilih nomor tanaman yang memiliki keseragaman alel (homozigot) untuk setiap lokus SNP yang digunakan pada masing-masing kromosomnya (12 kromosom). 2. Set informasi untuk tujuan deteksi penciri varietas Sejumlah aksesi plasma nutfah yang terdiri dari set kelompok aksesi Indica-Japonica-TropicalJaponica telah dianalisis keragaan genotipenya. Informasi struktur populasi diperlukan untuk menentukan model untuk analisis asosiasi yang akan dilakukan pada tahap selanjutnya. Info Lengkap
104 2014 Profil genotipe 467 aksesi plasma nutfah padi berdasarkan 1536 marka SNP dan 288 aksesi berdasarkan 384 marka SNP Profil genotipe 467 aksesi plasma nutfah padi berdasarkan 1536 marka SNP terkait dengan karakter komponen hasil unggul dan umur tanaman sedangkan 288 aksesi berdasarkan 384 marka SNP terkait dengan tujuan analisis sidikjari DNA tanaman. Profile genotipe diperlukan untuk melengkapi data fenotipe yang seringkali bervariasi karena waktu dan tempat yang berbeda Info Lengkap
105 2014 Optimasi Kriopreservasi dan Regenerasi biakan Dioscorea alata L. dan Dioscorea esculenta L. - Respon eksplan Dioscorea alata L. Dioscorea esculenta L. terhadap perlakuan kriopreservasi tergantung pada aksesi (morfologi/fenotipe). - Metode kriopreservasi Dioscorea alata L. dan Dioscorea esculenta L. adalah dengan perendaman dalam larutan LS selama 20 menit dan PVS2 30 menit sebelum eksplan direndam dalam nitrogen cair selama 1 jam. - Media pemulih untuk induksi tunas baru in vitro Dioscorea alata L. dan Dioscorea esculenta L. setelah disimpan secara kriopreservasi adalah MS dan ½ MS. - Multiplikasi tunas trerbaik untuk ubi kelapa (Dioscorea alata L.) pada media MS, tetapi untuk gembili (Dioscorea esculenta L.) tinggi tunas dan jumlah buku tertinggi pada perlakuan MS, jumlah daun tertinggi pada perlakuan MS + B1 + K 2 mg/l, jumlah tunas/eksplan tertinggi pada perlakuan MS + B5 + K 2 mg/l. - Induksi perakaran terbaik untuk ubi kelapa pada media MS+ NAA 1-3 mg/l dan 1/2 MS + NAA 3mg/l. Untuk gembili (Dioscorea esculenta L.) pada media ½ MS. Teknik kriopreservasi merupakan teknik penyimpanan bahan tanaman dalam suhu yang sangat rendah (-196 0C) di dalam nitrogen cair. Penyimpanan dengan pembekuan dalam nitrogen cair merupakan metode yang potensial untuk penyimpanan jangka panjang plasma nutfah tumbuhan (20 tahun). Dengan kriopreservasi, pembelahan sel dan proses metabolisme dalam sel, jaringan atau organ yang disimpan dapat dihentikan sehingga bahan tanaman dapat disimpan tanpa terjadi modifikasi atau perubahan dalam waktu yang tidak terbatas. Info Lengkap
106 2014 Satu peta genetik (koleksi marka SNP) tetua-tetua persilangan cabai merah Satu peta genetik marka yang berupa koleksi marka SNP/SSR berdasarkan analisis bioinformatika pensejajaran sikuen genom dari satu set tetua-tetua pemuliaan cabai Indonesia dengan data genom rujukan cabai telah diperoleh. Koleksi marka tersebut diseleksi dari jutaan marka SNP/SSR/Indel yang teridentifikasi pada genom cabai. Berdasarkan analisis awal, sebagian besar merupakan SNP umum diantara genotipe, dan sejumlah SNP merupakan private SNP yang spesifik pada genotipe tertentu. Peta genetik tersebut mengandung 500 SNP dan 90 SSR yang sebagian besar terkait gen pada daerah koding dan telah didisai primernya untuk siap diaplikasikan pada kegiatan tahun depan. Koleksi marka SNP/SSR barbasis genom tetua-tetua pemuliaan cabai Indonesia akan mempunyai presisi lebih tinggi dalam membantu proses seleksi pemuliaan cabai nasional khususnya tetua yang telah disikuen genomnya. Koleksi marka berbasis genom tersebut dapat diaplikasikan untuk melabel QTL terkait karakter yang dinginkan termasuk ketahanan terhadap antraknosa dan genotyping plasma nutfah cabai. Info Lengkap
107 2014 Peta genetik (koleksi marka SNP/SSR) satu paket tetua-tetua pemuliaan kentang Bedasarkan analisis bioinformatika pensejajaran data resekuen satu pakettetua-tetua pemuliaan kentang Indonesia dengan data genom rujukan kentang, tellah diidentifiksi variasi struktural dalam genom. Sejumlah SNP/Indel/SSR dari total kromosom sepanjang genom kentang berhasil diidentifikasi. Peta genom yang berisi indel dari tetua-tetua kentang telah diperoleh dan memudahkan dalam identifikasi variasi indel. Peta genetik SNP sebanyak hampir 600 SNP dan 60 an SSR di daerah koding dan diduga terkait gen-gen penting pada kentang berhasil diperoleh. Primer pada total koleksi situs SNP dan SSR yang diidentifkasi tersebut telah didisain dan siap divalidasi tahun berikutnya pada tetua-tetua kentang yang direskuen genomnya. Marka tervalidasi akan digunakan untuk genotyping populasi F2 untuk tujuan pemetaan genetik. Koleksi marka SNP/SSR barbasis genom tetua-tetua pemuliaan kentang Indonesia akan mempunyai presisi lebih tinggi dalam membantu proses seleksi pemuliaan kentang nasional khususnya tetua yang telah disikuen genomnya. Koleksi marka berbasis genom tersebut dapat diaplikasikan untuk melabel QTL terkait karakter yang dinginkan termasuk ketahanan terhadap virus dan genotyping plasma nutfah kentang. Info Lengkap
108 2014 Marka molekuler kelapa sawit berbasis genom yang terverifkasi dengan teknik molekuler sederhana Satu set marka molekuler yang dikembangkan berdasarkan sikuen genom kelapa sawit telah diperoleh. Marka molekuler tersebut terdiri dari SNP yang dibuat dalam bentuk SNAP dan marka indel pada daerah koding yang mempengaruhi komposis protein yang dihasilkan oleh gen-gen dimana variasi SNP dan Indel itu berada.Hasil ini diperoleh dari analisis lebih detil penjajaran data resekuen kelapa sawit genotipe Dura Indonesia dengan sekuen genom rujukan kelapa sawit. Variasi yang diamati pada genom kelapa sawit umumnya berada pada intergenik, intragenik, intron, dan pada hulu (upstream) dan hilir (downstream) dari gen. Variasi yang ditemukan bisa menyebabkan perubahan asam amino yang merubah susunan protein (non synonymous) dan tidak merubah susunan asam amino (synonymous). Data SNP dan Indel yang diidentifikasi dari sekuen genom total tiga genotipe kelapa sawit Indonesia telah ditata dan ditampilkan dalam Genome browser data base. Sekitar 1500 SNP/Indel di daerah koding telah diidentifikasi dan diseleksi dan dipetakan pada tiap kromosom dimana situs tersebut berada. Lebih dari 30 primer indel dan SNAP telah didisain dan berhasil berhasil diverifikasi pada beberapa genotip kelapa sawit. Lebih dari 80% menunjukkan konsistensi dengan hasil analisis bioinformatik. Paket marka SNP/Indel berhasil dikembangkan dengan cepat berdasarkan analisis alignment sikuen genom genotipe kelapa sawit Indonesia dan genom rujukan. GenomeBrowser merupakan database koleksi variasi genom yang memudahkan identifikasi SNP pada posisi target dengan cepat dan tepat. Dengan genome browser ini peneliti dapat menampilkan setiap SNP dan Indel dan menggunakan data SNP dan Indel yang menjadi target penelitiannya. Marka yang dikembangkan juga dapat diaplikasikan dengan mudah menggunakan PCR dan gel-based method. Info Lengkap
109 2014 Peta genom jarak pagar Peta genom jarak pagar dari resekuen genom 3 genotipe jarak pagar (HS49, F2 IP3-3,NP2) saat ini telah diperoleh dan variasi genomnya yang dihasilkan ditata dan ditampilkan pada genome browser. Variasi dalam genom kloroplas jarak pagar juga telah ditata dalam genome Browser. Database ini masih off line. Selain itu data sikuen genom jarak pagar Indonesia juga ditampilkan pada database genom jarak pagar (plantgenomics.snu.ac.kr) bekerja sama dengan Seoul National University (SNU). Genom browser ini mengandung banyak tampilan terkait data genom jarak pagar yang dapat diakses oleh publik. Peta genom jarak pagar yang ditampilkan dalam GenomeBrowser berupa graphical interface dapat mengakomodir total variasi dalam genom yang umumnya komplek dan banyak data. Genome Browser juga memudahkan pengguna/peneliti untuk mencari situs variasi yang diprediksi, gennya, posisinya dan lainnya sesuai dengan kelengkapan data genom dalam genome browser. Info Lengkap
110 2014 Paket marka SNP/Indel/SSR kakao terverifikasi dengan teknik molekuler sederhana Berdasarkan analisis bioinformatika pensejajaran data resekuen satu paket tetua-tetua pemuliaan kakao Indonesia dengan data genom rujukan kakao, telah diidentifikasi variasi nukleotida seperti SNP, indel dan SSR. Data dari setiap SNPdan Indel yang telah diidentifikasi disajikan dalam bentuk genome browser data genom kakao Indonesia. Sejumlah primer didisain spesifik pada sikuen yang mengandung situs SNP/indel/SSR untuk verifikasi menggunakan PCR dan agarose gel based method. Mengingat kesulitan dalam verifikasi SNP dengan metode Tetra Arm PCR yang menggunakan dua pasang primer (terdiri dari dua inner primer dan dua outer primer), maka marka modifikasi dilakukan dengan primer SNAP (single nucleotide amplified polymorphism) yang memerlukan hanya sepasang primer untuk mengamplifikasi satu alel SNP target. Selain itu satu set primer Indel dan SSR di daerah koding dan terkait gen telah didisain untuk verifikasi variasi tersebut. Primer indel dan SSR tersebut berhasil mengamplifikasi DNA genom tetua persilangan (DR1 dan Sca12) dan genotipe kakao lainnya. Keberhasilan analisis in silico dalam memprediksi variasi nukleotida cukup tinggi dengan dihasilkannya amplikon dari primer pada genotipe yang disekuen genomnya. Generasi F1 juga dikonfirmasi menggunakan primer indel/SSR terverifikasi dan menunjukkan polimorpisme pada kedua tetua persilangan. Paket marka SNP/Indel/SSR yang dikembangkan dari data genom dapat diaplikasikan dengan mengembangkan marka berbasis PCR dan diverifikasi menggunakan metode molekuler sederhana agarose gel. GenomeBrowser kakao merupakan database koleksi variasi genom yang komplek namun memudahkan identifikasi SNP/indel pada posisi target dengan cepat dan tepat. Paket marka tersebut dapat membantu proses seleksi dalam pemuliaan kakao Info Lengkap
111 2014 Peta genetik dari satu paket tetua-tetua pemuliaan pisang Berdasarkan analisis alignment sikuen genom satu paket tetua-tetua pemuliaan pisang dengan genom rujukan, diperoleh jutaan variasi SNP. Sebagian besar variasi yang diperoleh lokasinya pada intergenic region (26,04%), di hulu (upstream) gen (29,23%), di hilir (downstream) gen (28,76%) dan intron (13,18%). Hanya sebagian kecil variasi (1,62%) variasi ada di protein coding region (exon). Peta genetik yang berisi informasi SNP dan Indel yang diidentifikasi dari sekuen genom total genotipe pisang lokal Indonesia telah ditata dan ditampilkan dalam genome browser data base. Dengan genome browser ini peneliti dapat menampilkan setiap SNP dan Indel yang jumlahnya sangat banyak dan memudahkan peneliti menggunakan data tersebut sesuai target penelitiannya. Info Lengkap
112 2014 Peta genetik dari satu paket tetua-tetua persilangan jagung Hasil resekuensing satu paket tetua-tetua persilangan jagung dengan kualitas basa baik berdasar Q30, menunjukkan distribusi mirip dengan kebanyakan bacaan dengan panjang sekitar 95 bp. Peta genetik yang mengandung variasi di genom jagung seperti SNP/ndel/SSR telah diperoleh dan menjadi informasi penting sebagai sumber marka molekuler untuk diaplikasikan dalam evaluasi dan seleksi dalam populasi persilangan jagung. Sejumlah variasi berdasar dampak pada gen tinggi ada 0.53% dan sebagian besar mutasi adalah silent ( 53.3%) dan missense (46%). Selain itu DNA 262 individu F2 jagung populasi MR13 X CML440 telah diperoleh dengan kuantitas dan kualitas yang bervariasi. Konsentrasi DNA berkisar antara 50-248 ng/µl, sedangkan tingkat kemurniannya berkisar antara 1.006-2.067 (260/280). DNA tersebut akan digunakan untuk genotyping menggunakan 50K maize SNP chip yang membutuhkan kuantitas dan kualitas sesuai rekomendasi iScan analisis. Hasil uji dengan SSR phi233376 menunjukkan bahwa DNA tersebut sangat baik dengan hasil amplifikasi yang sangat baik, seragam, dan dengan pita SSR yang besar. (Gambar 14). DNA F2 ini akan digunakan untuk uji genotyping menggunakan 50K maize SNP chip yang akan dilakukan pada tahun 2015. Rencananya, genotyping ini dilakukan pada tahun 2014, akan tetapi karena adanya keterbatasan (kebijakan pemotongan anggaran) penelitian genotyping tidak bisa dilakukan pada tahun 2014. Variasi dalam genom seperti SNP/indel/SSR dari tetua-tetua pemuliaan jagung Indonesia bermanfaat sebagai sumber marka baik yang universal maupun fungsional. Marka yang dikembangan berbasis genom tersebut mempunyai presisi lebih tinggi dalam membantu proses seleksi pemuliaan jagung khususnya tetua yang telah disikuen genomnya dan aplikasi lebih luas. Info Lengkap
113 2014 Set informasi data fenotipe beberapa karakter toleran kekeringan populasi segregasi F2:3 jagung. Populasi F3 telah diperoleh yang terdiri dari 263 tongkol (263 individu F3). Keragaan fenotipe tanaman F3 di lapang telah diamati. Benih populasi F3 diperbanyak untuk mendapatkan benih populasi F3:4. Pembentukan populasi F3:4 untuk memperoleh biji yang cukup banyak (cukup untuk uji toleran kekeringan di lapang) saat ini sudah diperoleh dan evaluasi fenotipik uji toleran kekeringan akan dilakukan pada tahun anggaran 2015. Populasi F3:4 bermanfaat sebagai dasar seleksi berdasarkan fenotipe untuk mendapatkan galur-galur tahan kekeringan pada jagung Info Lengkap
114 2014 eukaryotic initiation transcription factor famili 4G (eIF4G). Sejumlah galur turunan Oryza rufipogon diketahui bersifat tahan terhadap tungro. Sifat ketahanan ini diduga dikendalikan oleh gen resesif yang mengekspresikan translation initiation factor. Protein yang dikodekan oleh gen ini merupakan host factor yang diperlukan oleh virus untuk proses infeksinya, tetapi karena mengalami mutasi pada sejumlah asam aminonya menyebabkan interaksi antara virus tungro dan inangnya bersifat inkompatibel. elF4G adalah gen resesif pengendali sifat ketahanan terhadap tungro. Pada parsial sekuen yang berhasil diamplifikasi menunjukkan adanya mutasi disejumlah asam aminonya jika dibandingkan dengan eIF4G dari Taichung Native 1 (TN1) yang rentan terhadap tungro. Hal ini yang menyebabkan eIF4G dari O. rufipogon tidak dapat dimanfaatkan oleh tungro untuk melakukan proses infeksi, translasi, dan repliasi genomnya dalam sel inang. Info Lengkap
115 2014 Gen-gen ketahanan dominan umumnya mengkodekan nucleotide binding-leucine rich repeated dan gen ketahanan resesif dikenal sebagai host factors yang diperlukan oleh virus untuk proses infeksi, replikasi dan translasi di dalam sel inangnya, seperti eIF4E, eIF(-iso)4E, eIF4G, dan eIF(-iso)4G. Gen-gen ketahanan dominan umumnya mengkodekan nucleotide binding-leucine rich repeated yang berperan dalam mengaktifkan sinyal sistem pertahanan tanaman terhadap infeksi virus. Mekanismenya sering berhubungan hypersensitive response (HR) melalui program cell death untuk melokalisir virus agar tidak menginfeksi sel lainnya. Sedangkan gen ketahanan resesif umumnya mengkodekan translation initiation factors yang dikenal sebagai host factors yang diperlukan oleh virus untuk proses infeksi, replikasi dan translasi di dalam sel inangnya, seperti eIF4E, eIF(-iso)4E, eIF4G, dan eIF(-iso)4G. Tetapi pada tanaman yang memiliki ketahanan resesif, host factor telah termutasi sehingga virus tidak mampu memanfaatkannya Gen tersebut telah mengalami mutasi sehingga tidak dikenali lagi oleh virus tungro menjadi host factor untuk proses infeksi inangnya. Info Lengkap
116 2014 Telah diperoleh 6 klon gen yang teridiri dari satu klon gen terkait produktivitas (gen OsEUI), dua klon gen terkait umur pembungaan (Osld1 dan AtELF3) dan tiga klon gen terkait toleransi terhadap cekaman kekeringan (AtCOR15A, AtCBF3 dan AtNFYA5) No. Nama klon gen Sumber gen 1. OsEUI mRNA jaringan malai dan ruas batang atas tanaman padi Nipponbare 2. Osld1 mRNA jaringan malai tanaman padi Nipponbare 3. AtELF3 mRNA jaringan bunga Arabidopsis thaliana 4. AtCOR15A mRNA jaringan daun Arabidopsis thaliana 5. AtCBF3 mRNA jaringan daun Arabidopsis thaliana 6. AtNFYA5 mRNA jaringan daun Arabidopsis thaliana No. Nama gen Sifat target 1. OsEUI Berkaitan dengan elongasi internod atas untuk komponen produktivitas 2. Osld1 Menginduksi pembungaan awal (umur genjah) 3. AtELF3 Menginduksi pembungaan awal (umur genjah) 4. AtCOR15A Berperan dalam toleransi cekaman abiotik 5. AtCBF3 Berperan dalam toleransi cekaman kekeringan 6. AtNFYA5 Berperan dalam toleransi cekaman kekeringan Klon-klon gen kandidat yang masing-masing terkait dengan karakter untuk komponen hasil, induksi pembungaan atau toleran cekaman abiotik dan telah berhasil diisolasi dari sumber tanaman padi dan Arabidopsis tersebut selanjutnya dikontruksi ke vektor ekspresi untuk digunakan dalam penelitian rekayasa genetik. Keunggulan dari klon-klon gen yang diperoleh adalah bahwa klon-klon gen kandidat tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman yang mempunyai karakter produktivitas tinggi, umur genjah atau toleran terhadap cekaman kekeringan. Info Lengkap
117 2014 Klon gen OsEUI (Oryza sativa Elongated Uppermost Internode), OsId1 (Oryza sativa Indeterminate1), AtELF3 (Arabidopsis thaliana Early Flowering 3), AtCOR15A (Arabidopsis thaliana Cold Response 15A), AtCBF3 (Arabidopsis thaliana C-Repeat Binding Factor 3) dan AtNFYA5 (Arabidopsis thaliana Nuclear Factor Y A5) Klon gen OsEUI (Oryza sativa Elongated Uppermost Internode) adalah gen kandidat terkait pemanjangan malai, OsId1 (Oryza sativa Indeterminate1) adalah gen kandidat terkait dengan induksi pembungaan awal, AtELF3 (Arabidopsis thaliana Early Flowering 3) adalah gen kandidat terkait induksi pembungaan awal, AtCOR15A (Arabidopsis thaliana Cold Response 15A) adalah gen kandidat terkait toleransi terhadap cekaman abiotik termasuk kekeringan, AtCBF3 (Arabidopsis thaliana C-Repeat Binding Factor 3) adalah gen kandidat terkait toleransi terhadap cekaman kekeringan dan AtNFYA5 (Arabidopsis thaliana Nuclear Factor Y A5) adalah gen kandidat terkait toleransi terhadap kekeringan. Klon gen-gen kandidat tersebut yang terkait dengan karakter pemanjangan malai, induksi pembungaan awal atau toleransi terhadap cekaman lingkungan abiotik dapat digunakan untuk merakit tanaman padi atau lainnya yang mempunyai karakter produktivitas tinggi, berumur genjah atau toleran terhadap cekaman kekeringan Info Lengkap
118 2014 Teknologi kloning gen berdasarkan homologi sekuen yang spesifik untuk gen OsEUI, OsId1, AtELF3, AtCOR15A, AtCBF3 dan AtNFYA5 Teknologi kloning gen berdasarkan homologi sekuen yang spesifik untuk gen OsEUI, OsId1, AtELF3, AtCOR15A, AtCBF3 dan AtNFYA5 adalah teknologi kloning gen yang mendasarkan pada homologi sekuen spesifik untuk gen-gen kandidat melalui perancangan primer spesifik untuk masing-masing gen sehingga klon-klon gen yang diperoleh merupakan klon gen yang spesifik. Selain itu, teknologi ini juga menggunakan material cDNA untuk isolasi gen sehingga dapat dipastikan bahwa klon gen yang diperoleh merupakan hasil ekspresi dari sebuah gen kandidat. Teknologi kloning gen berdasarkan homologi sekuen yang spesifik untuk gen OsEUI, OsId1, AtELF3, AtCOR15A, AtCBF3 dan AtNFYA5 menggunakan template cDNA yang merupakan hasil ekspresi dari gen kandidat sehingga klon gen yang diperoleh diharapkan memang sangat spesifik untuk gen target. Info Lengkap
119 2014 Set informasi homologi dan hasil uji toksisitas akut kentang transgenik tahan terhadap penyakit hawar daun (P. infestans). Pencarian kesamaan sekuen asam amino protein RB sepanjang 80 asam amino Pencarian kesamaan sekuen asam amino protein RB sepanjang 80 asam amino terhadap data base protein allergen pada situs allergen online dilakukan dengan menggeser pintu pencarian dari full-length ke 80 asam amino. Dengan menggunakan cara ini tidak diketemukan protein allergen yang mempunyai homologi lebih besar dari 35% dengan 80 asam amino protein RB. Pencarian kesamaan sekuen asam amino protein RB sepanjang 8 asam amino. Pencarian dilakukan dengan menggeser jendela pencarian untuk 8 asam amino protein RB untuk disejajarkan dengan protein allergen pada database. Pencarian ini dimaksudkan untuk kehati-hatian apakah ada bagian yang menyerupai protein allergen yang ada di data base. Dari pencarian ini tidak diketemukan protein allergen dari data base yang mempunyai homologi dengan urutan 8 asam amino dari protein gen RB. Pengujian toksisitas akut kentang pada mencit Perilaku tikus setelah pemberian kentang uji Perilaku dan efek toksik yang diamati pada mencit uji setelah pemberian ke-5 tingkat dosis kentang uji disajikan pada Tabel Lampiran 1 – 10. Secara umum, berdasarkan perilaku tikus yang diamati secara saksama selama 4 jam pertama setelah pemberian ke-5 tingkat dosis uji, tidak ada efek toksik yang berarti yang muncul setelah dan selama uji toksisitas akut ke-10 jenis kentang uji. Efek yang menonjol hanya berupa menurunnya aktivitas motorik dan berubahnya sikap tubuh pada beberapa hewan uji (1-2 mencit) beberapa jam setelah pemberian kentang uji, namun kembali normal setelah 4 jam. Perubahan aktivitas motorik dan sikap tubuh ini juga terjadi pada hewan kontrol. Setelah pemberian ke-10 jenis kentang uji sampai dengan dosis tertinggi (5000 mg/kg bb), tidak ada perubahan pada refleks kornea, fleksi dan pineal. Data ini memberi gambaran, tidak ada pengaruh kentang uji terhapat alur konduski saraf. Ptosis, piloerekesi, lakrimasi, juga tidak terpengaruh oleh ke-5 tingkat dosis uji ke-10 jenis kentang uji. Salivasi, muntah, tremor, konvulsi, lethargi (lumpuh) yang merupakan efek khusus yang harus diamati selama uji toksisitas, juga tidak terjadi setelah pemberian ke-5 tingkat dosis uji ke-10 jenis kentang uji. Data ini menunjukkan bahwa ke-5 tingkat dosis uji ke-10 jenis kentang uji tidak memperngaruhi sistem saraf pusat dan otonom. Selama pengujian juga tidak ada hewan yang menunjukkan rasa nyeri pada lambung yang diamati melalui efek geliat. Data ini menunjukkan bahwa ke-5 tingkat dosis uji ke-10 jenis kentang uji tidak menimbulkan nyeri pada lambung. Respons menggelantung dan retablishment yang diamati untuk menunjukkaa efek terhadap sistem lokomotorius hanya terganggu pada 1-2 mencit uji yang diberi kentang uji maupun mencit kontrol namun kembali normal setelah 4 jam. Grooming tampak terjadi pada semua kelompok. Data-data ini memberi gambaran bahwa tidak ada pengaruh berarti ke-5 tingkat dosis uji ke-10 jenis kentang uji terhadap sistem lokomotorius. Urinasi dan defekasi juga terjadi pada semua kelompok uji maupun kontrol dengan warna dan volume urin serta banyak dan konsistensi feses yang tidak berbeda antar kelompok. Semua hewan uji yang diberi ke-5 tingkat dosis uji ke-10 jenis kentang uji menunjukkan kemampuan membalikan tubuh (R.Reflex) dan respons Haffner yang normal. Rearing, juga terjadi pada semua kelompok. Data ini memberi gambaran ke-5 tingkat dosis uji ke-10 jenis kentang uji tidak bersifat penghilang rasa nyeri (analgetik) dan tidak mempengaruhi sistem saraf pusat. Selama pengujian juga tidak ada hewan yang mati setelah pemberian ke-5 tingkat dosis uji ke-10 jenis kentang uji. Dari pencarian kesamaan protein RB dengan protein alergen yang ada di database, protein RB tidak berpotensi sebagai alergen terhadap manusia. Dari hasil uji toksisitas akut pada mencit, tidak ada efek toksik yang muncul, dan perubahan pada makroskopik dan indeks organ yang bermakna serta tidak ada mencit yang mati setelah pemberian kentang uji sampai dosis 5000 mg/kg bobot badan mencit, maka bahan uji dapat dinyatakan tidak bersifat toksik pada pemakaian sampai dosis 5000 mg/kg bobot badan mencit. Info Lengkap
120 2014 Set marka pembeda populasi/biotipe wereng batang coklat (WBC) Set 37 marka EST-SSR pembeda populasi/virulensi WBC yang terdiri dari BM25, BM68, BM76, BM140, BM194, BM246, BM265, BM298, BM302, BM339, BM375, BM395, BM410, BM432, BM435, BM440, BM499, BM1262, BM1277, BM1283, BM1295, BPH06, DB839391, DB845048, NLES2, NLES6, NLES8, NLES11, NLES15, NLES18, NLES22, NLES24, NLES30, NLES33, NLES34, NLES35, NLES49 Dapat membedakan biotipe/virulensi WBC secara parsial yakni dapat membedakan biotipe 2 dari biotipe/virulensi WBC yang lebih ganas Info Lengkap
121 2015 formulasi kitosan enzimatik formulasi kitosan yang dipreparasi secara enzimatik dengan B.cepacia E76 formulasi efektif gerhadap penyakit antraknosa ;pada buah-buahan Info Lengkap
122 2015 Teknik perbanyakan klonal jeruk keprok yang diregenerasikan dari jaringan endosperma Perbanyakan klonal tunas jeruk yang diregenerasikan dari sel-sel endosperma dapat dilakukan pada media MS yang diencerkan tanpa penambahan zat pengatur tumbuh Perbanyakan dilakukan tanpa penambhan zat pengatur tumbuh dapat mengurangi terinduksinya variasi somaklonal Info Lengkap
123 2015 Teknik penekanan oksidasi fenol Perendaman pada Pottasium nitrat 0.1% dan diinkubasi pada media dengan penambhan arang aktif 0.3% Dapat mengurangi zona pencoklatan pada media Info Lengkap
124 2015 Perbanyakan mangga madu melalui organogenesis Perbanyakan dilakukan dengan eksplan buku kotiledon Perbanyakan tidak memrelukan zat pengatur tumbuh Info Lengkap
125 2015 Teknik induksi kalus embriogenik Induksi kalus menggunakan eksplan jaringan nucellus yang dikulturkan pada media MS+TDZ0.8-1.2 mg/l+ Induksi kalus relative cepat (3 minggu setelah dikulturka) dengan persentase keberhasilan induksi kalus lebih dari 70% Info Lengkap
126 2015 Perkecambahan embrio nuselar mangga madu Mengkulturkan biji yang berukuran panjang kurang dari 7 cm dapat mengecambahkan embrionuselar Diperoleh lebih dari satu kecambah dari satu biji buah mangga madu Info Lengkap
127 2015 Teknik penentuan tingkat ploidi Penentuan tingkat ploidi dilakukan dengan mengukur kandungan DNA inti Mudah dilakukan Info Lengkap
128 2015 Satu set tetua persilangan jatropha spp dengan profil fenotip dan genotip dan populasi pemetaannya Informasi karakter morfologi kualitatif dan kuantitatif pada batang, daun dan bunga serta kadar minyak dari beberapa genotipe jatropha sp. seperti J. curcas asal Majene dan P. Bacan, J. curcas IP3-3P, J. podagrica, J. multifida, dan J. gossypifolia yang diperoleh, mendukung dan melengkapi data genotyping spesies tersebut. Observasi mikrospopis pada polen dan viabilitasnya makin melengkapi informasi fenotip. Sejumlah populasi persilangan interspesifik telah diperoleh. Persilangan resiprok untuk mendapatkan kadar minyak tinggi antara Jatropha podagrica x Jatropha curcas menjadi titik berat dan diduga terdapat inkompatibilitas bila J. podagrica sebagai maternal. Teknik embryo rescue diperlukan dalam kegiatan ini. Database variasi genom dan primer berbasis genom serta Genome Browser jarak pagar tealh dibuat dan diakses di genom.litbang.pertanian.go.id, khususnya di home “Genom Tanaman industri”. Sejumlah SNP hasil NGS juga berhasil dikonfirmasi yang penting dalam pengembangan marka atau SNP chip dengan presisi tinggi. Total 20 marka SSR berbasis genom jarak pagar telah digunakan untuk genotyping individu tetua persilangan jatropha sp. Informasi karagaman genetik dan profil fenotipe dalam kegiatan ini penting dalam kegiatan pemuliaan terkait pemilihan tetua dalam kegiatan persilangan interspesifik jatropha sp khususnya jarak pagar dengan kadar minyak tinggi. Informasi profil fenotipe khususnya morfologi dan kadar minyak dan data genotipe menjadi dasar utama dalam seleksi tetua jatropha spp dalam usaha mengembangkan populasi jarak pagar dengan kadar minyak tinggi dan karakter superior lain yang penting dalam mengarahkan pemuliaannya Info Lengkap
129 2015 Paket informasi genotipe populasi pemetaan pada pisang berbasis genom Total sekitar 4800 SNP telah diidentifikasi dari genom pisang dan diketahui anotasi gen dan gen ontologynya. Sebanyak 220-an SSR yang diidentifikasi dari hasil NGS 12 genotipe pisang, sebagian besar terkait gen dan telah didesain primernya. SNP dan SSR perlu diverifikasi dan merupakan sumber marka fungsional potensial pada pisang. Semua informasi variasi SNP, primer variant-flanking dan penjelajah genom berdasarkan sekuen genom 12 genotipe pisang telah diakomodir dalam sebuah database bersama dengan komoditas hortikultura lainnya di database genom Balitbangtan yang dapat diakses free oleh publik di situs genom.litbang.pertanian.go.id. Marka ketahanan berbasis SNP gen ketahanan dan pertahanan terhadap layu FOC sedang dikembangkan. Salah satu gen NBS, RGC2 dipilih untuk dikembangkan marka SNAPnya. Karena masalah polen yg tidak fertil dari tetua jantan sebelumnya (Ameh pasaman) maka tetua persilangan tahan (Calculta) dan rentan Foc (Ameh pasaman) diganti dengan tetua rentan M. Acuminata sp mircrocarpa. Sampai saat ini jumlah individu tanaman F1 hasil persilangan tetua tahan dan peka (Calcuta dan M.acuminata sp microcarpa) belum mencukupi untuk pemetaan genetik dan sedang dalam tahap pengembangan. Informasi genotipe pada populasi persilangan pisang dengan marka berbasis genom meningkatkan presisi pemuliaan dan memudahkan peneliti menggunakan data tersebut sesuai target penelitiannya. Info Lengkap
130 2015 Paket profil fenotipe terkait ketahanan pada antraknos dan genotipe populasi persilangan cabai berbasis genom Sejumlah SNP dan SSR pada cabai pada daerah koding telah diidentifikasi berdasarkan hasil alignment resikuen genomnya dengan genom rujukan. SNP dan SSR tersebut sebagian besar terkait dengan gen-gen penting pada cabai termasuk defense system pada penyakit dan telah didesain primernya. Variasi genom dan primernya serta Penjelah genom cabai telah dibuat databasenya yang dapat diakses publik di database base genom pertanian Balitbangtan (genom.litbang.pertanian.go.id). Primer SSR yang dikembangkan berbasis genome cabai berhasil divalidasi di koleksi genotipe komoditas tersebut dan membantu analisis keragaman genetik. Konfirmasi variasi tersebut diperlukan agar marka yang dikembangkan mempunyai presisi tinggi dan dapat digunakan untuk berbagai studi genetik, pemetaan maupun aplikasi lainnya. Hasil penanaman dan pengujian ketahanan antarknosa terhadap 180 genotip F2 menunjukkan penyebaran pada karakter kuantitatif tanaman dan buah serta pada karakter ketahanan terhadap antraknos. Informasi fenotipe pada populasi cabai mendukung informasi genotyping, pemetaan QTL dan pengembangan marka kedua komoditas tersebut kedepannya. Informasi fenotipe dan genotipe pada populasi persilangan cabai dengan marka berbasis genom meningkatkan presisi pemuliaan dan memudahkan peneliti menggunakan data tersebut sesuai target penelitiannya. Info Lengkap
131 2015 Paket profil fenotipe dan genotipe populasi persilangan kentang dengan marka berbasis genom Sejumlah SNP dan SSR pada kentang pada daerah koding telah diidentifikasi berdasarkan hasil alignment resikuen genomnya dengan genom rujukan. SNP dan SSR tersebut sebagian besar terkait dengan gen-gen penting pada kentang termasuk penyakit dan telah didesain primernya. Variasi genom dan primernya serta Penjelah genom kentang telah dibuat databasenya yang dapat diakses publik di database base genom pertanian Balitbangtan (genom.litbang.pertanian.go.id). Primer SSR yang dikembangkan berbasis genome kentang berhasil divalidasi di koleksi genotipe kedua komoditas tersebut dan membantu analisis keragaman genetik. Konfirmasi variasi tersebut diperlukan agar marka yang dikembangkan mempunyai presisi tinggi dan dapat digunakan untuk berbagai studi genetik dan aplikasi lainnya. Evaluasi karakter umbi kentang penting untuk seleksi klon. Informasi fenotipe pada populasi kentang mendukung informasi genotyping, pemetaan QTL dan pengembangan marka pada komoditas ini. Informasi fenotipe dan genotipe pada populasi persilangan kentang dengan marka berbasis genom meningkatkan presisi pemuliaan dan memudahkan peneliti menggunakan data tersebut sesuai target penelitiannya. Info Lengkap
132 2015 Paket profil fenotip terkait pertumbuhan anak sapi PO dan DNA genomiknya Fenotyping karakter pertumbuhan berupa bobot badan dan ukuran tubuh sudah dilakukan pada sapi PO kelahiran selama bulan Juni sampai Agustus 2015 dengan total 61 ekor mulai saat lahir sampai umur 180 hari . Fenotyping dilanjutkan untuk anak yang lahir dalam bulan September sampai desember 2015, dan akan dievaluasi sifat pertumbuhan cepat (24 genotipet) dan lambat (24 genotipe) padai 2016 untuk dijadikan sampel dalam mengembangkan MAS SNP sifat pertumbuhan cepat pada sapi PO. Karakter fenotipe data bobot badan dan ukuran tubuh anak sapi PO pada berbagai interval umur per bulan memperlihatkan perbedaan yang cukup besar baik antara ternak dan antara pejantan. Hal ini dapat menjadi indikasi awal adanya variasi genetik yang cukup baik pada sifat pertumbuhan anak sapi PO pengamatan. Semua sampel darah sapi sudah dikoleksi dan dilakukan ekstraksi DNAnya. Berdasarkan kualitas dan kuantitas, DNA genomik 61 ekor sapi memenuhi syarat untuk digunakan dalam Infinium II assay dengan iScan. Informasi fenotip terkait pertumbuhan pada anak sapi PO memudahkan proses seleksi materi sehingga meningkatkan presisi genome-wide scanning Info Lengkap
133 2015 Paket profil genotipyng dari populasi persilangan kakao untuk ketahanan terhadap Phytophthora Populasi persilangan antara DR1 rentan dan Sca 12 tahan terhadap busuk buah telah menghasilkan individu F1 yang cukup untuk pemetaan genetik. Variasi genom diketahui terkait dengan gen-gen penting dan marka yang dikembangkan berdasarkan variasi genom kakao telah dibuat databasenya yang dapat diakses di Genom Balitbangtan (genom.litbang.pertanian.go.id), khususnya di home “Genom Tanaman industri” bersama dengan jarak pagar. Genome Browser kakao yang dapat dikatakan sebagai peta genetik varian genom, juga telah hadir di database genom Balitbangtan ini. Sekitar 84% SNP berhasil dikonfirmasi dari total primer SNP flanking yang didesain. Validasi marka SSR dan Indel dengan genotyping pada satu set genotipe kakao mendukung keberhasilan pengembangan marka berdasarkan sekuen total genom kakao. Marka tersebut berhasil mengkonfirmasi populasi F1 kakao yang merupakan penurunan genetik dari salah satu atau kedua tetua. Informasi genotyping pada populasi persilangan dengan marka yang dikembangkan berbasis genom membantu meningkatkan presisi dan memudahkan/mempercepat peneliti mencapai target Info Lengkap
134 2015 1. Informasi respon tingkat toleransi 288 aksesi plasma nutfah terhadap cekaman keracunan Fe. 2. Teknologi peta genetik hasil analisis asosiasi pada populasi Fe breeding lines terdeteksi 3 posisi LD blocks di sekitar SNPs signifikan. Kedua Informasi tersebut digunakan untuk analisis asosiasi dalam pendekatan teknologi Genome Wide Association Study (GWAS) mapping. Informasi teknologi peta genetik : LD block pertama di kromosom 1, terpetakan pada lokus gen AtIRT dan QTL, qFETOX1 dan qFETOX1-3, diduga berperan membentuk sifat toleran keracunan Fe melalui mekanisme Fe partitioning (strategy I). LD blocks kedua di kromosom 2 terpetakan pada lokus qFE-TOX-2-1 dan qFETOX-2 dan di kromosom 3 pada lokus qFETOX-3 dan gen OsNAS1 dan OsNAS2. Diduga kelompok alel ini berperan dalam mekanisme Fe exclusion (strategi II), sifat toleran keracunan Fe. LD blocks ketiga di kromosom 4, terpetakan pada lokus OsFRO2 dan qFETOX-4 dan LD block keempat di kromosom 7 pada lokus OsIRT2 dan NAS3. Diduga kelompok alel ini berperan membentuk sifat toleran keracunan Fe melalui mekanisme gabungan (strategi I dan II). Pendekatan GWAS dapat mendeteksi kelompok alel yang berperan dalam mekanisme toleransi keracunan Fe. Kandidat genes / QTLs yang terdeteksi perlu diverifikasi fungsional aktivitasnya. Beberapa marka SNP signifikan terpilih telah tervalidasi berpotensi sebagai marka penseleksi karakter toleran keracunan Fe. Marka molekuler yang bersifat signifikan berpotensi sebagai kandidat marka penseleksi karakter toleran keracunan Fe. Info Lengkap
135 2015 Informasi respon tingkat toleransi 125 galur rekombinan inbred dan backcrossing (F4-F5) hasil beragam persilangan. Berdasarkan informasi ini terdapat 48 galur yang bersifat toleran (skor ≤ 3) dan 39 genotipe diantaranya memiliki keragaan agronomis unggul, morfologi seragam, dan berumur genjah. Informasi respon tingkat toleransi didasarkan pada pengujian lapang yang dilakukan di lahan keracunan Fe, di Taman Bogo, Lampung. Pengamatan pengaruh cekaman keracunan Fe (bronzing) mulai dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan setelah tanam. Skoring gejala keracunan Fe diamati pada umur 4 dan 8 MST mengacu pada metode SES pada Tabel 1 (IRRI, 2014). Informasi ini dapat digunakan sebagai dasar pemilihan galur toleran terhadap keracunan Fe Info Lengkap
136 2015 Lima marka SNP terdisain terkait gen OsIRT, yaitu : TBGI112858 (2), TBGI116813 (2), id7003047 (7), d12001224 (12), id12001321 (12), Marka-marka SNP tersebut bersifat signifikan (1,05E-03 - 2,23E-04) berasosiasi dengan karakter bronzing pada pengujian lapang. Marka-marka ini berpotensi sebagai marka penseleksi untuk karakter toleran keracunan Fe Info Lengkap
137 2015 Informasi keragaan 128 aksesi plasma nutfah menggunakan 384 SNP chip. 384-SNP-chip yang digunakan untuk mengidentifikasi 128 genotipe. Marka-marka SNP dipilih menyebar di 12 kromosom padi dengan rata-rata jarak per SNP yang bervariasi untuk masing-masing kromosom dan dipilih tanpa ada pertimbangan gen-gen target tertentu, sehingga marka-marka tersebut dapat membentuk profil genotipe umum. Informasi keragaan genotipe dapat digunakan untuk analisis asosiasi dengan karakter toleran keracunan Fe. Info Lengkap
138 2015 5 set marka seleksi yang terdiri : marka STS penanda gen target Pii, Pia, Pita dan Pikp dan marka SNP untuk seleksi background sesuai varietas Situ Patenggang. Set marka STS : 1. Diperoleh 9 marka STS ( 4 set) sebagai marka foreground terkait gen-gen target ketahanan terhadap penyakit blas yaitu marka Pita (pita 403, ITS); marka Pii (Pii2, Pii4); marka Pikp (Pikp1, Pikp2, Pikp3); marka Pia (pia blas1, pia blas2). 2. Diperoleh 21 marka SNP (1 set) signifikan dan bersifat polimorfis sesuai gen target yaitu marka Pita (2 marka) 62,5% sesuai tetua Situpatenggang pd lokus SNP dikromosom 3 dan 55,8% di kromosom 5. Marka Pii (2marka); 83% sesuai tetua Situpatenggang pd lokus SNP dikromosom 7 dan 75% dikromosom 3. Marka Pikp (2 marka) yaitu 58,3% sesuai tetua Situpatenggang pd lokus SNP dikromosom 4 dan 95,8% di kromosom 8. Marka Pia (15 marka) yaitu 100% dikromosom 3, 85% di kromosom 2, 85,7% di kromosom 4, 66,7% di kromosom5, 81% di kromosom 7, 76,2% di kromosom 10, dan 61,9% di kromosom 11. Marka-marka STS dan SNP berpotensi sebagai marka penseleksi karakter ketahanan terhadap penyakit blas berbasis gen Info Lengkap
139 2015 (1) Data keragaan fenotipe komponen hasil 210 progeni populasi RIL B3462 x B3293 dan tetuanya hasil uji fenotipe di Cibalagung Bogor; (2) Data keragaan fenotipe 210 progeni populasi RIL B3462 x B3293 pada tanah masam Cigudeg, Leuwiliang, Kabupaten Bogor (3) Data genotype hasil genotyping 210 progeni populasi RIL B3462 x B3293 dan tetuanya menggunakan BARCSoy6KSNP chip dan pengembagan data base data genom kedelai (1) Data keragaan fenotipe komponen hasil 210 progeni populasi RIL B3462 x B3293 dan tetuanya hasil uji fenotipe di Cibalagung Bogor menunjukkan keragaan fenotipe 210 progeny populasi recombinant inbred line (RIL) dan kedua tetuanya pada tanah normal (pH > 5,5), dengan teknik budidaya optimal. Progeni populasi RIL menunjukkan keragaan fenotipe komponen hasil yang sangat luas, beberapa progeni menunjukkan transgresif dengan keragaan fenotipe progeni jauh melebihi keragaan fenotipe kedua tetuanya. Peluang mendapatkan progeni dengan keragaan superior untuk karakter komponen hasil sangat terbuka lebar. Histogram data fenotipe menunjukkan sebaran normal yang mengindikasikan bahwa data fenotipe yang diamati adalah diturunkan secara kuantitatif. Diperoleh 14 galur F7 dengan keragaan komponen hasil superior yang bisa diuji lebih lanjut sebagai kandidat galur unggul pada kondisi tanah normal. (2) Data keragaan fenotipe 210 progeni populasi RIL B3462 x B3293 pada tanah masam Cigudeg, Leuwiliang, Kabupaten Bogor menunjukkan keragaan fenotipe 210 progeny populasi recombinant inbred line (RIL) dan kedua tetuanya pada tanah masam (pH 4,5). Keragaan fenotipe juga menyebar normal dan menunjukkan transgresif antara progeny dan tetuanya. Beberapa galur menunjukkan keragaan fenotipe yang melebihi tetua toleran Al (B3462) dan beberapa progeny menunjukkan keragaan fenotipe yang lebih sensitive dibanding tetua sensitif keracunan Al (B3293). (3) Data genotype hasil genotyping 210 progeni populasi RIL B3462 x B3293 dan tetuanya menggunakan BARCSoy6KSNP chip. Karena keterbatasan anggaran, hanya 192 genotipe populasi RIL B3462 x B3293 (termasuk kedua tetuanya) yang dapat digenotipe menggunakan BARCSoy6KSNP chip. Dari 6.000 marka SNP yang dapat digunakan untuk pemetaan genetik sebanyak sekitar 2.000 SNP (33%). Peta genetik bersama-sama dengan data fenotipe populasi B3462 x B3293 akan digunakan untuk pemetaan QTL karakter komponen hasil dan karakter toleran keracunan Al pada kedelai. Marka SNP berasosiasi dengan karakter target diharapkan dapat digunakan untuk pemuliaan tanaman kedelai produktivitas tinggi dan kedelai toleran Al menggunakan metode pemuliaan yang dipandu marka. Variasi genom dan primernya serta penjelah genom kedelai telah dibuat databasenya yang dapat diakses publik di database base genom pertanian Balitbangtan (genom.litbang.pertanian.go.id). Primer SSR yang dikembangkan berbasis genome kedelai berhasil divalidasi pada populasi RIL B3462 x B3293 dan menggunakan koleksi genotipe komoditas tersebut dan membantu analisis keragaman genetik dan pemuliaan tanaman kedelai nasional. (1) Beberapa galur RIL menunjukkan keragaan komponen hasil transgresif unggul melebihi kedua tetuanya pada tanah normal (pH>5,5) yang perlu diuji lebih lanjut untuk melihat potensi produktivitasnya yang potensial sebagai kandidat galur unggul. (2) Data genotipe populasi RIL dengan 6.000 marka SNP menghasilkan peta genetik marka SNP dengan resolusi tinggi yang memperbesar peluang deteksi lokasi QTL karakter komponen hasil dan karakter keracunan Al pada kedelai yang dapat dimanfaatkan untuk akselerasi pemuliaan tanaman yang dipandu marka. Info Lengkap
140 2015 Set marka SSR pembeda populasi dan/atau biotipe WBC yang tervalidasi. Satu set marka SSR terdiri dari 37 marka e-SSR (BM25, BM68, BM76, BM140, BM194, BM246, BM265, BM298, BM302, BM339, BM375, BM395, BM410, BM432, BM435, BM440, BM499, BM1262, BM1277 BM1283, BM1295, BPH06, DB839391, DB845048, NLES2, NLES6, NLES8, NLES11, NLES15, NLES18, NLES22, NLES24, NLES30, NLES33, NLES34, NLES35, dan NLES49) telah digunakan untuk meneliti keragaan genetik populasi WBC asal lapangan dengan keragaan virulensi seperti biotipe 2 hingga lebih ganas dari biotipe 4. Dapat membedakan virulensi WBC secara parsial, yakni memisahkan WBC lapang dengan virulensi seperti biotipe 2 dari biotipe yang lebih ganas, dan dapat mendeteksi keragaman genetik populasi WBC. Info Lengkap
141 2015 Bakteri endofitik hasil isolasi dari jaringan tanaman cabe dan kentang (batang, akar dan daun) adalah : Bakteri endofitik A27 Bakteri endofitik A28 Bakteri endofitik A2.1 Bakteri endofitik A2.2 Bakteri endofitik A4.2. Bakteri endofitik B1.2 Bakteri endofitik B6.2 Bakteri endofitik D11.1 Delapan isolat bakteri endofit mampu menghambat pertumbuhan patogen Colletotricum capsici dengan baik Bakteri endofitik B6.2 memiliki nilai antagonis tertinggi yaitu mampu menghambat pertumbuhan miselium C. capsici dengan nilai persentase 75% Isolat A27 merupakan isolat bakteri yang memberikan hambatan tertinggi kedua setelah isolat B6.2 dengan persentase hambatan 67% Delapan bakteri endofit ini menghasilkan AIA dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Konsentrasi AIA tertinggi dimiliki oleh isolat A27 yaitu sebesar 70.41 mg/ mL, sedangkan konsentrasi AIA terkecil dimiliki oleh isolat D11.1 yaitu sebesar 16.21 mg/mL. Konsentrasi AIA tertinggi kedua dan ketiga dimiliki oleh isolat A2.1 yaitu 68.81 mg/ mL dan isolat A4.2 sebesar 47.61 mg/ mL. Hasil uji HCN semua isolat tidak memproduksi HCN (negatif) Identifikasi Isolat Bakteri Endofit Potensial berdasarkan Marka 16S rRNA isolat A27, A28, A2.1, A2.2, A4.2, B1.2, B6.1, dan D11.1 menghasilkan pita tunggal DNA yang berukuran ~1400 bp. Tabel 4 Hasil identifikasi isolat A4.2, B6.2, dan D11.1. Hasil sekuensing diketahui bahwa A4.2 adalah Pseudomonas stutzeri ((99,5% homolog ATCC 17588; AF094748; B6.2 adalah Bacillus valismortis ( 100% homolog DSM11031; AB021198 dan D11.1 adalah Bacillus cereus (T) (100% homolog ; ATCC 14579; AE016877 Bakteri endofitik ini dapat digunakan dan bersifat ramah lingkungan Info Lengkap
142 2015 Teknik induksi scalp pisang bergenom AA, AAA, dan ABB. Perlakuan BA 50 μM merupakan perlakuan terbaik untuk induksi scalp pisang Barangan (AAA), sedangkan kombinasi perlakuan BA 50 μM dan TDZ 0,5 μM merupakan perlakuan yang terbaik untuk induksi scalp pisang Kepok Kuning (ABB) dan Ameh Pasaman (AA). 1. Dapat menginduksi pembentukan meristem dalam jumlah yang banyak 2. Tingkat keberhasilan pembentukan scalp adalah 100% untuk Barangan dan Ameh Pasaman sedangkan untuk Kepok Kuning sebesar 50%. 3. Jumlah nodul tunas yang dihasilkan tinggi, yaitu lebih dari 20 nodul/eksplan untuk Barangan dalam waktu 9 BST, lebih dari 15 nodul/eksplan untuk Kepok Kuning dalam waktu 6 bulan, dan sekitar 12 nodul/eksplan untuk Ameh Pasaman selama 6 bulan. 4. Struktur scalp dapat digunakan sebagai bahan untuk konservasi maupun pemuliaan in vitro pada pisang. Info Lengkap
143 2015 Teknik penyimpanan Dioscorea composita dan D. bulbifera melalui metoda pertumbuhan minimal. Untuk memperoleh teknik penyimpanan dengan pertumbuhan minimal, harus melalui 2 tahap penelitian yaitu inisiasi tunas dan multiplikasi tunas. Selanjutnya telah diperoleh satu set pertumbuhan biakan Dioscorea composita dan D. bulbifora dalam media penyimpanan dengan pertumbuhan minimal Dengan diperolehnya teknik penyimpanan dengan metoda pertumbuhan minimal maka preservasi Dioscorea composita dan D. bulbivera dapat dilakukan dengan menyimpan dalam jangka menengah ( 6 -12 bulan) Info Lengkap
144 2015 1. Feromon-Croci 2. Feromon-Tella 1. Feromon-Croci, merupakan formulasi senyawa aktif sintetik yang bersifat feromonoid, sebagai senyawa pemikat serangga jantan. Formulasi tersebut terdiri dari dua komponen yaitu (Z)-9-hexadecenyl acetate dan (Z)-11-hexadecenyl acetate dengan ratio dan kuantitas tertentu. Senyawa tersebut diresapkan dalam karet septa sehingga, karet septa tersebut akan berbau dan memikat serangga jantan dewasa Crocidolomia pavonana (hama krop kubis). Karet feromon dapat dipasang pada alat perangkap, baik perangkap ber-air maupun perangkap berperekat untuk tujuan monitoring atau perangkap massal hama Crocidolomia pavonana (hama krop kubis) 2. Feromon-Tella, merupakan formulasi senyawa aktif sintetik yang bersifat feromonoid, sebagai senyawa pemikat serangga jantan. Formulasi tersebut terdiri dari dua komponen yaitu (Z)-11-hexadecenal dan (Z)-11-hexadecenyl acetate dengan ratio dan kuantitas tertentu. Senyawa tersebut diresapkan dalam karet septa sehingga, karet septa tersebut akan berbau dan memikat serangga jantan dewasa Plutella xylostella (hama kubis). Karet feromon dapat dipasang pada alat perangkap, baik perangkap ber-air maupun perangkap berperekat untuk tujuan monitoring atau perangkap massal. Plutella xylostella (hama kubis) 1. Memiliki daya pikat yang lebih kuat dari serangga betina virgin. 2. Untuk monitoring serangga hama, sangat mudah dilakukan karena serangga target akan datang terperangkap. 3. Apabila digunakan dalam pengendalian serangga hama, feromon tidak beracun, tidak meninggalkan residu, aman terhadap lingkungan, efektif dan efisien. Info Lengkap
145 2015 1. Perangkap Ber-air (water trap) 2. Perangkap Ber-perekat (Sticky trap) 1. Perangkap Ber-air. Perangkap dibuat dari stoples plastik, di kiri kanan dibuatkan lubang ventilasi (1 x 10 cm). Perangkap disi larutan sabun 50 cc., dipasang pada pertanaman kubis dengan ketinggian 50 cm diatas permukaan tanah. 2. Perangkap Ber-perekat. Perangkap dibuat dari plastik berbentuk segitiga (20 x 20 x 20 x 30 cm). Kedalam perangkap dipasang tripleks berperekat dengan ukuran 20 x 20 x 30 cm. Perangkap dipasang pada pertanaman kubis dengan ketinggian 50 cm dari permukaan tanah. Perangkap mudah dibuat dan dipasang oleh petani. Bahan perangkap mudah didapat. Info Lengkap
146 2015 Teknik mikropropagasi Dioscorea composita dan Dioscorea bulbifera. Teknik mikropropaqasi tanaman secara in vitro adalah inisiasi tunas dan multiplikasi tunas. Inisiasi tunas D composita L. dan D. bulbifera L. dimulai pada saat 2 minggu setelah tanam. Media terbaik untuk inisiasi tunas adalah MS + BA 3 mg/l untuk D. composita L. MS + BA 1 mg/l untuk D. bulbifera aksesi Tomboroso MS untuk D. bulbifera aksesi Gembolo. Media terbaik untuk multiplikasi tunas D composita L. dan D. bulbifera L. aksesi Tomboroso adalah media MS. Sedangkan media terbaik untuk Multiplikasi tunas D. bulbifera aksesi Gembolo adalah MS + TDZ 0,1 mg/l. Dengan diperolehnya teknik mikropropagasi secara in vitro maka biakan dapat disimpan dengan: 1. Penyimpanan dalam keadaan tumbuh (jangka pendek), 2. Penyimpanan pertumbuhan minimal/jangka menengah (6-12 bulan) dan 3. Penyimpanan dengan pembekuan/jangka panjang/kriopreservasi (sampai 20 tahun) Info Lengkap
147 2014 1. Feromon-Armi Feromon-Armi, merupakan formulasi senyawa aktif sintetik yang bersifat feromonoid, sebagai senyawa pemikat serangga jantan. Formulasi tersebut terdiri dari dua komponen yaitu (Z)-11-hexadecenal dan (Z)-9-hexadecenal dengan ratio dan kuantitas tertentu. Senyawa tersebut diresapkan dalam karet septa sehingga, karet septa tersebut akan berbau dan memikat serangga jantan dewasa Helicoverpa armigera (hama ulat buah). Karet feromon dapat dipasang pada alat perangkap, baik perangkap ber-air maupun perangkap berperekat untuk tujuan monitoring atau perangkap massal hama H. armigera (hama ulat buah) 1. Memiliki daya pikat yang lebih kuat dari serangga betina virgin H. armigera 2. Dapat dipakai untuk monitoring atau perangkap massal yang dipasang pada alat perangkap. 3. Sebagai teknologi pengendali serangga hama, efektif, efisien dan ramah lingkungan Info Lengkap
148 2015 Peta informasi keterpautan marka SNP dan skor keracunan alumunium pada populasi RIL turunan dari persilangan antara Cabacu dan IR64 Informasi keterpautan marka SNP dan skor keracunan alumunium dari154 galur inbrida recombinan turunan IR64 x Cabacu yang di uji di lahan gogo masam kebun percobaan Taman Bogo, Lampung. Informasi segmen kromosom yang mengendalikan sifat toleransi terhadap keracunan alumunium pada padi Informasi kandiadat gen pengendali yang bertanggung jawab terhadap toleransi keracunan alumunium pada padi yang dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk pembentukan varietas ungul baru Info Lengkap
149 2015 BioRem G1 BioRem G1 merupakan kandidat formula agen bioremediasi insektisida yang mengandung bakteri Acinetobacter baumanii dan Bacillus toyonensis yang diformulasikan dengan bahan pembawa kaolin dan ekstrak khamir. Pengujian di laboratorium menunjukkan formula tersebut mampu mendegradasi cemaran insektisida BPMC dan klorpirifos dalam tanah berturut-turut sampai 72% dan 80%. BioRem G1 mengandung bakteri yang sudah teruji tidak membahayakan kesehatan hewan dan manusia serta tanaman dan lingkungan. Aplikasi formula ini dapat menurunkan cemaran insektisidayang terkandung di dalam tanah. Info Lengkap
150 2015 Teknik pertumbuhan minimal pisang Teknik konservasi in vitro secara pertumbuhan minimal pada pisang Barangan (AAA), Lampung (AA), dan Kepok Kuning (ABB) 1. Biakan dapat disimpan lebih dari satu tahun 2. Biakan pisang Barangan dapat disimpan selama 19 bulan, sedangkan Lampung dan Kepok Kuning dapat disimpan selama 14 bulan 3. Perlakuan subkultur tidak diperlukan selama penyimpanan 4. Penyimpanan menjadi hemat dari segi tenaga, biaya, ruang, dan waktu karena tidak memerlukan subkutlur yang frekuentif Info Lengkap
151 2015 1.Teknik/formulasi induksi kalus embriogenik manggavarietas Gedong gincu 2.Teknik/formulasi media induksi kalus mangga varietas Garifta 1Jaringan yang digunakan sebagai eksplan adalah biji buah muda mangga Gedong Formulasi media yang digunakan untuk mrnghasilkan kalus embriogenik adalah MS50%+ 2 mg/l auksin 2,4-D + 0.3 mg/l sitokinin BA+ 3 mg/l arang aktif + 3 mg/l AgNO3. 2.Jaringan yang digunakan sebagai eksplan adalah biji muda mangga Garifta Formulasi media yang digunakan untuk menghasilkan kalus embriogenik adalah MS50%+ 2 mg/l auksin 2,4-D + 0.3 mg/l sitokinin BA+ 3 mg/l arang aktif + 3 mg/l AgNO3. Teknik/formulasi media tersebut dapat diulang kembali dengan keberhasilan yang sama (dapat menginduksi embrio somatik) pada mangga Gedong dan Garifta Info Lengkap
152 2015 Dosis letal 50% pada kalus embriogenik mangga Gedong gincu 50 Gy sinar Gamma yang dapat menyebabkan kematian kalus mangga Gedong gincu 50% Dosis LD50 tersebut (50 Gy) merupakan dosis yang dapat digunakan untuk pemuliaan mutasi mangga Gedong Info Lengkap
153 2015 Primer SSR yang dapat membedakan embrio nusellar dan zigotik mangga. Nama primernya adalah AJ635171 mengamplifikasi dengan jumlah pita polimorfik terbanyak yaitu 9 dan nilai PIC sebesar 0.85 Primer SSR yang dapat membedakan embrio nusellar dan zigotik mangga. Nama primernya adalah AJ635171 dapat mengamplifikasi dengan jumlah pita polimorfik terbanyak yaitu 9 dan nilai PIC sebesar 0.85 Primer tersebut dapat membedakan embrio nuselar dengan embrio zigotik Info Lengkap
154 2014 Satu paket marka SNP kedelai terverifikasi dan teknik identifikasinya secara molekuler sederhana Satu paket marka yang berupa koleksi marka SNP/SSR/Indel berdasarkan analisis bioinformatika pensejajaran sikuen genom dari satu set tetua-tetua pemuliaan kedelai Indonesia dengan data sekuen genom rujukan kedelai varietas Williams 82 telah diperoleh. Koleksi marka tersebut diseleksi dari jutaan marka SNP/SSR/Indel yang teridentifikasi pada genom kedelai. Berdasarkan analisis awal, sebagian besar merupakan SNP umum yang dapat ditemukan pada kesemua genotipe kedelai yang diresekuen, dan sejumlah SNP (jumlahnya lebih sedikit dari SNP umum)merupakan SNP yang spesifik ditemukan pada pada genotipe kedelai tertentu. Telah dipilih 64 SNP dan 22 Indel yang menyebar merata pada genom kedelai. Telah didesain primer SNAP dari setiap SNP untuk dapat memverifikasi SNP dan kalau sudah terverifikasi dapat diamplifikasi dengan teknik molekuler sederhana. Primer Indel juga didesain untuk memverifikasi Indel dan mengamplifikasinya dengan teknik molekuler sederhana. Koleksi marka SNP/SSR/Indel barbasis genom tetua-tetua pemuliaan kedelai Indonesia akan mempunyai presisi lebih tinggi dalam membantu proses seleksi pemuliaan kedelai nasional khususnya tetua yang telah disikuen genomnya. Koleksi marka berbasis genom tersebut dapat diaplikasikan untuk melabel QTL terkait karakter yang dinginkan termasuk produktivitas dan toleransi terhadap keracunan aluminium dan untuk genotyping plasma nutfah kedelai nasional. Info Lengkap
155 2014 Data fenotipe 400 genotipe kedelai pada kondisi lapang di KP Cikemeuh selama dua musim Uji keragaan fenotipe komponen hasil dari 400 genotipe kedelai di lapang KP Cikemeuh Bogor, Jawa Barat selama dua musim telah selesai dilakukan. Percobaan dilakukan di KP Cikemeuh, Bogor, Jabar menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua ulangan. Perlakuan berupa 400 genotipe kedelai dengan keragaman luas untuk karakter komponen hasil, waktu berbunga dan waktu panen. Data fenotipe yang diamati meliputi umur berbunga (R1), umur masak (R7), umur panen (R8), tinggi tanaman, jumlah cabang/tan, jumlah polong/tan, hasil biji/tan, hasil biji/plot, dan data morfologi sperti tipe pertumbuhan (determinate/indeterminate), warna bunga, warna biji dan warna hilum. Data komponen hasil hasil penelitian ini sangat penting untuk pemetaan karakter komponen hasil tanaman kedelai menggunakan metode Genome-Wide Association Study (GWAS) dalam rangka percepatan pemuliaan kedelai produktivitas tinggi. Data fenotipe 400 genotype kedelai dengan keragaman luas ini sangat penting untuk studi pelabelan gen/QTL unggul pengendali karakter produktivitas pada kedelai menggunakan metode Genome-Wide Association Study (GWAS) dipadukan dengan penggunaan SNP chip kapasitas tinggi (BARCSoy6KSNP chip). Info Lengkap
156 2014 Memperoleh generasi F7 pembentukan populasi RIL B3462 X B3293 Pembentukan populasi RIL dimulai dengan penggaluran populasi F2 B3462 x B3293 terdiri dari 211 individu tanaman F2 dengan menggunakan metode single seed descent (SSD). Pada tahun 2012 sudah diperoleh benih generasi F6. Pada tahun 2013 benih ini ditanam di lapang untuk mendapatkan tanaman F6 dan kemudian benih F7. Benih F7 ini ditanam lagi di lapang KP Pacet dan tanaman dalam baris dari setiap individu tanaman F7 dipanen dan bijinya di bulk untuk mendapatkan benih F7:8. Benih F7:8 ini merupakan populasi RIL B3462 x B3293 untuk digunakan pada uji selanjutnya untuk pelabelan karakter komponen hasil dan karakter toleran keracunan Al pada kedelai. Populasi RIL merupakan populasi pemetaan permanen yang lokus-lokusnya sudah mendekati 100% homosigot sehingga penyediaannya benih dan uji lapang dan uji lab akan menjadi lancar dan uji lapang dapat dilakukan di berbagai lokasi tanpa khawatir kekurangan benih populasi. Info Lengkap
157 2012 Jumlah koleksi marka SNP untuk pembentukan database marka SNP dan data fenotip 400 genotip kedelai di lapang Koleksi variasi SNP/Indel/SSR berbasis genom penting untuk percepatan pelabelan gen-gen/QTL unggul pada tanaman kedelai. Jutaan SNP, Indel dan SSR pada kedelai pada daerah koding dan non koding telah diidentifikasi berdasarkan hasil alignment data resikuen genom lima varietas kedelai Indonesia dengan peta sekuen genom rujukan kedelai Williams 82. Lebih dari 3,1 juta SNP dan Indel dan ratusan SSR telah diidentifikasi dari penelitian tersebut sebagian kecil terkait dengan gen-gen penting pada kedelai termasuk defense system, respons terhadap cekaman, fotosintesis, metabolism tanaman. Kebanyakan SNP/Indel berada di luar gen dan hanya sebagian kecil pada ekson. Koleksi variasi genom ini (SNP dan Indel) telah dibuat databasenya berupa Genome Browser kedelai. Ke depan akan dibuat database genom pertanian berisi data genom berbagai spesies tanaman/ternak unggulan yang dapat diakses oleh public. Phenotyping 400 genotipe kedelai terhadap karakter komponen hasil di lapang sudah selesai dilakukan. Data ini akan sangat penting untuk pemetaan karakter produktivitas dengan teknik GWAS menggunakan SNP chip kedelai yang mempercepat pelabelan dan pamanfaatan marka gen/QTL karkater komponen hasil kedelai untuk pemuliaan kedelai nasional. Informasi fenotipe dan genotipe pada populasi alami kedelai dengan marka berbasis genom meningkatkan presisi pemuliaan dan memudahkan peneliti menggunakan data tersebut sesuai target penelitiannya. Info Lengkap
158 2015 Konstruk pCAMBIA1300-OsAnt-HvAlaAT pCAMBIA1300-OsAnt-CsAlaAT OsAnt = Promotor yang digunakan berasal dari padi dan bersifat spesifik akar HvAlaAT = Alanine aminotransferase yang berasal dari Barley CsAlaAT = Alanine aminotransferase yang berasal dari timun HvAlaAT telah terbukti meningkatkan efisiensi terhadap penyerapan Nitrogen, hanya saja gen ini sudah dipatenkan untuk golongan monokotil sehingga CsAlaAT dapat dijadikan alternatif pengganti. Info Lengkap
159 2015 pCAMBIA1300-pNADP-GUS pNADP = adalah promotor yang mengekspresikan gen NADP dan spesifik terekspresi di akar. pNADP diharapkan dapat menggantikan pOsAnt yang juga telah dipatentkan Info Lengkap
160 2015 Set sekuen RNA gen-gen kandidat untuk toleransi keracunan besi (Fe) Sekuen-sekuen RNA diperoleh dari aksesi-aksesi padi lokal rawa yang diskrining dengan perlakuan cekaman keracunan besi (konsentrasi 500 ppm). Skrining 136 padi rawa untuk analisis RNA sequencing telah menghasilkan dua aksesi padi, PR135 dan Siam Arjuna, yang toleran terhadap keracunan Fe 500 ppm. Set sekuen RNA dari padi toleran FE dapat diidentifikasi kandidat gen-gen toleran keracunan Fe yang bersifat novel (kebaruan). Info Lengkap
161 2015 Teknologi konstruk CRISPR/Cas9-OsGA20ox-2 (sd1) Teknologi konstruk CRISPR/Cas9-OsGA20ox-2 merupakan konstruk plasmid yang mengandung gen CRISPR/Cas9 yang dikombinasikan dengan sekuen RNA penuntun dari gen GA20ox-2 atau gen semi-dwarf-1 (sd1) dari padi dan digunakan untuk pengeditan gen. Teknologi konstruk CRISPR/Cas9 -OsGA20ox-2 dapat digunakan untuk mengedit gen GA20ox-2 dari padi sehingga menjadi tidak aktif. Gen GA20ox-2 yang telah diedit atau diknock-out dapat memberikan perubahan fenotipik yaitu tanaman memiliki postur yang lebih pendek. Teknologi ini dapat diaplikasikan untuk memperbaiki sifat mudah rebah tanaman padi akibat postur tanaman yang terlalu tinggi. Info Lengkap
162 2015 Data genotip 92 galur jagung berdasarkan SNP-beadChip (50K) pada populasi F3:4 MR13xCML440 Paket data genotyping ini mengandung informasi genotyping 94 galur jagung populasi F3:4 MR13 x CML440 menggunakan 50K SNP bead chip. Paket data ini sangat penting dalam menentukan marka SNP yang berasosiasi dengan gen pengendali kekeringan pada tanaman jagung. Dengan tersedianya paket data genotip, lokus yang bertanggung jawab terhadap karakter toleran cekaman kekeringan pada tanaman jagung dapat diidentifikasi dan marka molekuler yang terkait dengan karakter tersebut dapat dipetakan dan lebih lanjut dikembangkan sebagai marka penentu sifat toleransi cekaman kekeringan atau lebih dikenal sebagai MAS (marker assisted selection) Info Lengkap
163 2016 Set marka molekuler pembeda virulensi WBC Satu set marka molekuler terdiri dari 54 marka dengan rincian 36 marka SSR (BM25, BM64, BM68, BM76, BM140, BM194, BM246, BM265, BM298, BM302, BM375, BM379, BM395, BM410, BM432, BM435, BM440, BM499, BM1262, BM1277 BM1283, BM1295, BPH06, DB839391, DB845048, NLES2, NLES11, NLES15, NLES22, NLES24, NLES33, NLES34, NLES35, NLES49, dan NLGS231, NLGS1126) dan 18 marka SRAP (Me03Em07, Me04Em10, Me04Em13, Me08Em05, Me10Em07, Me10Em12, Me11Em05, Me11Em13, Me14Em05, Me16Em13, Me19Em12, Me19Em13, Me19Em20, Me21Em09, Me22Em04, Me22Em05, Me22Em12, dan Me25Em11) telah digunakan untuk menganalisis keragaan genetik populasi biotipe 1, 2, 3, dan 4 WBC yang diseleksi virulensinya secara buatan di laboratorium. Dapat memisahkan populasi WBC biotipe 1, 2, 3, dan 4. Penggunaan set 36 marka SSR saja sudah dapat membedakan kelompok biotipe WBC. Info Lengkap
164 2016 Marka penseleksi foreground dan background untuk sifat ketahanan blas berbasis gen Sembilan marka STS untuk seleksi foreground berbasis gen Pii, Pia, Pita, Pikp dan 23 marka SNAP untuk seleksi background Dapat digunakan untuk seleksi foreground dan background sehingga dapat meningkatkan presisi seleksi Info Lengkap
165 2016 Paket profil genotipe dengan marka molekuler dan fenotipe ketahanan penyakit antraknos pada populasi persilangan cabai Profil genotipe dibuat pada populasi persilangan cabai Kencana dan 0207 dibuat khususnya pada generasi F2 dan/ atau F3. Berdasarkan seleksi primer adopsi (SSR/Indel/RAPD), empat primer yaitu IndelAntr, CaES0032, OP-E18 dan OP-DO56, memberikan variasi genetik pada koleksi varietas cabai. Dua primer (CaES0032 dan OP-D056) berhasil menunjukkan pola penurunan alel pada populasi dari salah satu atau kedua tetua. Profil genotipe populasi F2 dan F3 cabai juga diperoleh berdasarkan 9 marka SNP menggunakan mass array. Sebanyak 9 SNP tersebut didesain dari 10 SNP berbasis genom Kencana dan 0207 yang lolos validasi dan dilanjutkan analisis klaster dalam mass array iPLEX genotyping. Pada 9 SNP yang diobservasi pada progeni F2 dan F3 hasil persilangan Kencana dan 0207, yield minimal 90% dan secara umum mendekati 100%. SNP arrray ini telah mengidentifikasi pola alel progeni yaitu homosigot dari salah satu tetua dan heterozigot dari kedua tetua. Profi fenotip menunjukkan bahwa karakter morfo-agronomi dan ketahanan terhadap penyakit antraknos pada populasi F3 cabai ini menunjukkan variasi antar galur. Informasi fenotip dan ketahanan terhadap antranos menjadi modal utama dalam seleksi galur dan pemetaan genetik/karakter target untuk pengembangan marka molekuler terkait antranos. Minimal 10 galur unggul terseleksi untuk uji lapang terkait ketahanan terhadap antraknos. Informasi genotipe dan fenotipe pada populasi persilangan cabai dengan marka molekuler membantu mempercepat seleksi dan mempercepat presisi pemuliaan serta memudahkan peneliti/pemulia menggunakan informasi tersebut sesuai target penelitiannya. Info Lengkap
166 2016 Paket profil genotipe marka molekuler tervalidasi data fenotipe ketahanan penyakit virus PLRV pada klonal kentang Profil genotipe dan ketahanan terhadap virus PLRV pada populasi klon kentang belum diproleh tahun 2016 karena ada efisiensi anggaran yang berimbas pada pending kegiatan tersebut. Sedangkan profil fenotipe klon kentang dibuat berdasarkan morfo-agronomi. Sekitar hampir 200 klon hasil persilangan Granola dan Atlantik menunjukkan variasi fenotipe yang menjadi dasar seleksi lon unggul. Berdasarkan vigor pertumbuhan, karakter morfologi bunga, batang, dan umbi pada klonal kentang hasil persilangan Granola dan Atlantik telah diseleksi minimal 60 nomor klon dan. Informasi fenotipe ini penting dikarakterisasi lebih lanjut untuk diuji ketahanannya terhadap virus PLRV dan seleksi galur. Jadi Informasi fenotipe klon kentang ini mendukung/melengki informasi genotipe, pemetaan QTL dan pengembangan marka molekuler pada kentang. Informasi fenotipe khususnya morfo-agornomi pada populasi persilangan kentang penting untuk mendukung analisis molekuler dan seleksi klon unggul. Info Lengkap
167 2016 Set marka molekuler untuk genotyping pada populasi kentang Tahun 2016 karena ada efisiensi anggaran maka kegiatan pengembangan marka molekuler baik dalam bentuk SNP dan teknik molekuler sederhana tidak dilakukan, sehingga paket teknologi marka pada kentang belum diperoleh lengkap. Tidak ada (kegiatan dipending dari Balai karena efisieni annggaran) Info Lengkap
168 2016 Set marka berbasis mass array dan molekuler sederhana pada populasi cabai Untuk mempercepat pengembangan marka SNP berbasis genom yang dapat diaplikasikan pada populasi Kencana (peka antraknos) dan 0207 (tahan antraknos) dan cabai secara umum, maka dilakukan resekuensing pada dua tetua persilangan (Kencana dan 0207) dan bulk progeni (F2) peka serta bulk progeni tahan terhadap antraknos. Sekitar 1,048,576 SNP berhasil diidentifikasi. Sebanyak 101 SNP dengan kualitas bagus (Phred-score) yang menyebar pada 12 kromosom cabai diidentifikasi pada tetua tahan konsisten dengan bulk progeni tahan dan sebaliknya. Sebagian besar fragmen yang mengandung SNP (40%) menunjukkan tidak ada kesamaan dengan di database genom publik (www.ncbi.nlm.nih.gov), dan hanya 14% diketahui deskripsi gennya. 101 SNP terseleksi ini merupakan kandidat marka molekuler pada cabai, dan 10 SNP telah didesain untuk mass array dengan 9 dari 10 SNP berhasil membentuk klaster. Sembilan marka SNP tersebut aplikatif di cabai baik populasi maupun plasma nutfah, yang meliputi CaSNP1.1, CaSNP1.2, CaSNP1.3, CaSNP1.4, CaSNP2.1, CaSNP7.1, CaSNP9.1, CaSNP9.2 dan CaSNP11.2. Selain SNP array, 4 marka molekuler adopsi (IndelAntr, CaES0032, OP-E18 dan OP-DO56) telah diaplikasikan. Marka molekuler berasosiasi dengan ketahanan terhadap antraknos telah diidentifikasi. Dua primer (CaES0032 dan OP-D056) berhasil menunjukkan pola penurunan alel pada populasi dari salah satu atau kedua tetua (Kencana dan 0207). Marka SNP dan hasil adopsi penting manjadi modal untuk mengembangkan marka terkait antraknos dan perlu dilengkapi pada peneitian tahun berikutnya. Set marka SNP berbasis array dan molekuler sederhana penting untuk genotyping pada koleksi cabai dan populasi persilangan Info Lengkap
169 2016 Genome Browser cabai dan kentang terupdate Database genom cabai dan kentang yang dimasukkan dalam home "hortikultura" di Pusat Genom Komoditas Pertanian Indonesia (PGKPI) dalan situs www.genom.litbang.pertanian.go.id telah diupdate. Sampai saat ini masing-masing ada 6 genotipe cabai dan kentang yang diresekuen dan menjadi dasar konten di database dan Genome Browser. Untuk basis data cabai ada1164 SNP dan kentang sebanyak 291 SNP dalam genomnya yang diupload di web. Primer SNP-flanking masing-masing 48 dan 36 untuk cabai dan kentang, dan 24 pasang primer SSR pada masing-masing kedua komoditas. Genome Browser dengan informasi gen-gen terkait dapat diakses dengan posisinya di genom. Informasi Genome Browser ini sangat penting bagi peneliti yang ingin mengembangkan marka molekuler dan gen-gen yang diinginkan. Info Lengkap
170 2016 Profil karakter pertumbuhan sapi PO Sapi PO anak dari kelahiran bulan Juni 2015 sampai Februari 2016 sebanyak 138 ekor difenotyping dan dikoleksi data pertumbuhannya. Data bobot badan dan ukuran tubuh telah dikoleksi untuk sapi PO anak jantan (63 ekor) dan anak betina (75 ekor) sudah dikoleksi mulai saat lahir sampai umur 240 hari. Data bobot dan ukuran tubuh tersebut berupa data fenotipe yang diukur berulang pada ekor ternak yang sama. Sifat pertumbuhan didiskripsikan mulai dari anak lahir sampai umur 240 hari atas dasar penampilan fenotipe terstandar untuk umur per interval satu bulan. Variasi sifat pertumbuhan total sapi tersebut digunakan sebagai dasar pemilihan 96 ekor sapi referensi untuk pengembangan marka molekuler. Data fenotipe terkait sifat pertumbuhan yang lengkap sangat penting untuk diasosiasikan dengan marka molekuler (SNP chip ataupun molekuler sederhana) pada sapi dan seleksi bibit indukan dan pejantan unggul. Info Lengkap
171 2016 Set marka SNP terverifikasi pada sapi Total 59 SNP pada daerah koding di genom sapi yang diverifikasi diketahui terkait dengan gen-gen penting pada sapi seperti OG dan HF, gen terkait pertumbuhan dan lainnya. Enam 6 SNP diverifikasi melalui resekuensing dan menunjukkan kevalidan di atas 90%. Total 16 primer dari 19 marka SNAP yang didesain teramplifikasi dengan baik pada sapi PO. Berdasarkan analisis asosiasi antara SNP dengan bobot badan saat lahir dan karakter pertumbuhan lainnya diketahui bahwa ada satu marka SNAP (BvSNAP4.4) berasosiasi nyata dengan bobot badan lahir sapi PO. Marka BvSNAP4.4 ternyata juga berasosiasi nyata dengan bobot badan yang diamati selama pertumbuhan umur sapi termasuk umur sapih. Sebanyak 10 marka SNAP (BvSNAP4.2, BvSNAP4.3, BvSNAP4.4, BvSNAP4.6, BvSNAP4.8, BvSNAP5.1, BvSNAP7.1, BvSNAP18.8, BvSNAP25.3, dan BvSNAP25.4) berasosiasi nyata dengan beberapa parameter pertumbuhan sapi. Secara umum marka SNAP tersebut memiliki kecenderungan multipel asosiasi dengan beberapa karakter. Sejumlah marka SNAP untuk mendeteksi SNP ini yang nyata berasosiasi dengan sifat pertumbuhan merupakan indikasi bagus sebagai tahap untuk mengembangkan marka untuk MAS dalam seleksi sapi PO terkait pertumbuhan. Marka SNP dalam bentuk SNAP pada sapi ini dapat diaplikasikan dengan teknik molekuler sederhana dan membantu seleksi sapi PO berdasarkan pertumbuhan dengan analisis lanjut Info Lengkap
172 2016 Profil genotipe sapi PO dengan marka terverifikasi Sebanyak 19 primer SNAP didesain berdasarkan SNP termasuk yang telah diverifikasi dengan resekuensing. Sebanyak 16 teramplifikasi dengan baik pada DNA sapi dan digunakan untuk genotyping pada 138 ekor sapi PO. Marka SNAP mampu mengelompok 138 ekor sapi menjadi 2 klaster utama dengan koefisien kesamaan genetik 0.52, yang sebagin besar di klaster 1. Pengelompokkan ekor sapi tidak berdasarkan pada jenis kelamin namun lebih pada latar belakang genetik ekor dengan jenis alel spesifik tertentu. Pola alel tertentu dimiliki oleh beberapa individu sapi. Ada kecenderungan beberapa alel dominan baik di jantan maupun betina tergantung lokus SNP. Dan berdasarkan data frekuensi SNP semakin meyakinkan bahwa alel tertentu dominan atau minor pada populasi, jantan dan betina. Pola alel pada kedua ekor berdasarkan resekuensing sekuen pengapit SNP tersebut juga memberi mendukung data SNAP. Informasi genotipe dengan SNAP mendukung analisis asosiasi untuk pengembangan marka molekuler terkait pertumbuhan sapi PO Info Lengkap
173 2016 Metode penyimpanan dengan pertumbuhan minimal dari Dioscorea composita L. dan Dioscorea bulbifera L. • Media MS + paclobutrazol 3 mg/l merupakan media terbaik untuk penyimpanan D. composita L. Sedang MS + manitol 3 % merupakan media terbaik untuk penyimpanan D. bulbifera L. aksesi Gembolo dan Tomboroso. • Pembentukan planlet dari Dioscorea composita L. dan Dioscorea bulbifera L. setelah disimpan dengan metode pertumbuhan minimal terjadi pada umur penyimpanan 1-2 bulan. • Perakaran Dioscorea composita L, D. bulbifera L. aksesi Gembolo dan Tomboroso sudah terbentuk saat biakan berumur 1-2 bulam dalam botol kultur, sehingga tidak diperlukan perlakuan inisiasi perakaran. • Hasil aklimatisasi D. bulbifera aksesi Gembolo pada perlakuan paclobutrazol lebih baik dari pada manitol. Dengan menggunakan Metode Penyimpanan Pertumbuhan Minimal tanaman Dioscorea composita L. dan Dioscorea bulbifera L. dapat disimpan selama 1 tahun (penyimpanan jangka menengah) Info Lengkap
174 2014 Teknologi produksi scalp bebas bakteri Aplikasi BA 100 uM pada eksplan tunas hasil induksi dari floral axis dan yang diikuti dengan skrining biakan pada media Bact mampu menghasilkan scalp bebas bakteri yang siap disimpan secara kriopreservasi. Scalp bebas bakteri memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi setelah disimpan secara kriopreservasi. Info Lengkap
175 2016 Percepatan pertumbuhan tunas hasil kultur endosperma Percepatan pertumbuhan tunas jeruk in vitro dilakukan dengan teknik sambung mikro pada media padat dengan penambahan sukrosa 4%. Percepatan pertumbuhan tunas secara in vivo dengan teknik STG berhasil dilakukan dengan rata-rata persentase keberhasilan penyambungan 50% dan dilakukan pada saat awal musim hujan. Dapat mempercepat pertumbuhan tunas jeruk keprok kandidat triploid Info Lengkap
176 2016 Teknik penyimpanan in vitro jeruk hasil kultur edosperma Penyimpanan in vitro lebih baik dilakukan dengan mengkombinasikan enkapsulasi buku satu tunas dengan pertumbuhan minimal yaitu melarutkan alginate pada formulasi medium dasar yang diencerkan degan penambahan osmotium manitol dan diinkubasi pada medium yang sama. Teknik ini dapat mempertahankan vibikitas buku hingga 5 bulan setelah penyimpanan, sementara kontrol hanya 4 minggu setelah penyimpanan tunas mulai terbentuk. Teknik ini dapat memperpanjang masa simpan buku tunas in vitro jeruk hingga 5 bulan, sementara pada control 4 minggu harus sudah disubkultur Info Lengkap
177 2016 Teknik induksi perakarana manga in vitro varietas Madu Tunas diinduksi pembentukan akarnya dengan menggunakan media dasar dengan penambahan arang aktif 0,3% dan IBA 0.5-2.0 mg/l, mengalami kendala in vitro recalcitrance, dimana eksplan tidak memberikan respon pada media in vitro. Belum ada karena masih belum dapat menanggulangi masalah in vitro recalcitran Info Lengkap
178 2016 Teknik pendewasaan dan perkecambahan embrio somatic manga varietas Madu Pada embryogenesis manga varietas Madu menunjukkan bahwa penambahan ABA 0.5 mg/l pada media proliferasi kalus embriogenik dapat menginduksi perkembangan pre embrio menjadi embrio somatik, dan dapat membantu keseragamannya. Teknik ini dapat menyeragamkan perkemangan embrio somatik Info Lengkap
179 2016 Teknik perkembangan embrio somatic manga varietas gedong dan garifta. Penambahan media pertumbuhan dengan GA3 yang dikombinasikan dengan 15 ml/l air kelapa dapat menginduksi perkecambahan embrio somatic mangga garifta. Kombinasi GA3 dengan air kelapa 15 ml/l juga dapat menginduksi perkecambahan embrio somatik mangga gedong 24%. Teknik inni dapat meningkatkan perkecambahan embrio somatic manga varietas Gedong hingga 24% Info Lengkap
180 2016 Teknik regenerasi kalus embriogenik membentuk embrio somatic manga varietas gedong putative mutan Penambahan air kelapa dalam kultur kalus yang telah diradiasi dengan sinar gamma dapat menghasilkan embrio somatik dewasa Teknik ini dapat meregenerasikan kalus putative mutan setelah diiradiasi dengan sinar gamma yang pada umumnya mengalami penurunan kapasitas regenerasina. Info Lengkap
181 2016 Marka SNAP terkait dengan beberapa gen toleran keracunan Fe dan telah digunakan untuk analisis survei polimorfisme pada 2 varietas kontrol peka, IR64 dan kontrol toleran, Mahsuri. Dari 45 Marka SNAP terdapat 10 marka yang polimorfis. Marka SNAP didisain berdasarkan marka SNP yang signifikan hasil penelitian sebelumnya. Marka SNAP lebih aplikatif karena system deteksinya menggunakan PCR dan elektrofresis sederhana. Marka yang polimorfis ini akan digunakan dalam analisis lanjutan sebagai kandidat marka seleksi (MAS). Info Lengkap

Karya Tulis Ilmiah

Daftar Karya Tulis Ilmiah
No Tahun Judul KTI Pengarang
1 2011 Identifikasi Entomopatogen Bakteri Merah pada Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stål.). J.Agrobiogen 2011.vol 7(2):85-95. Tri P. Priyatno, Yohana A. Dahliani, Yadi Suryadi, I Made Samudra, Dwi N. Susilowati, Iman Rusmana Baskoro, S. Wibowo, dan Cahyadi Irwan Info Lengkap
2 2012 Pemurnian Parsial dan Karakterisasi Kitinase Asal Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana Isolat BB200109. Yadi Suryadi, Tri P. Priyatno, I Made Samudra, Dwi N. Susilowati, Nuni Lawati, dan Eman Kustaman Info Lengkap
3 2011 Karakter agronomi dan ketahanan beberapa galur pelestari dihaploid terhadap hawar daun bakteri. Buletin Plasma Nutfah Vol 17 (2) 88-95 Iswari S. Dewi, Indrastuti A. Rumanti, Bambang S. Purwoko, dan Triny S. Kadir Info Lengkap
4 2012 Seleksi In Vitro dan Pengujian Mutan Tanaman Pisang Ambon Kuning Untuk Ketahanan Terhadap Penyakit Layu Fusarium. Jurnal Agrobiogen Vol.9, No.2, 2013 Deden Sukmadjaja, Ragapadmi Purnamaningsih, dan Tri P. Priyatno Info Lengkap
5 2010 Evaluation of disease severity on rice genotypes to bacterial blight using amino acid content analysis. J.Makara seri sains 2011.vol15(1):21-27 Y. Suryadi, TS Kadir and Aan A. Darajat Info Lengkap
6 2010 Prospect of using bacterial bio-formulation to suppress bacterial leaf blight of rice: a case study in Cianjur West Java. J.Penelitian Pertanian 2013. vol 32(2):83-90 Y. Suryadi, DN Susilowati, T.P. Priyatno, IM Samudra, TS Kadir and N.R. Mubarik Info Lengkap
7 2011 Identifikasi Galur dan Gen-gen Toleran Kekeringan pada Padi Transgenik cv. T309 yang Mengandung Vektor Penanda Aktivasi. Jurnal Agrobiogen: 9(3). 2013 Tri J. Santoso, Aniversari Apriana, Atmitri Sisharmini, dan Kurniawan R. Trijatmiko Info Lengkap
8 2010 Identifikasi Perubahan Karakter Agronomi Padi Transgenik Penanda Aktivasi cv. Asemandi Generasi T1. Jurnal Agrobiogen: 9(3). 2013 Atmitri Sisharmini, Aniversari Apriana, Diah Nurmaliki, Tri J. Santoso, dan Kurniawan R. Trijatmiko Info Lengkap
9 2010 Induksi ketahanan sistemik oleh beberapa bakteri endofitik dan pengembangan konsorsium bakteri untuk penekanan penyakit hawar daun bakteri Y.Suryadi, DN Susilowati, TS Kadir dan A.Ruskandar Info Lengkap
10 2010 Ketahanan plasma nutfah kedelai terhadap hama penggerek polong Etiella zinckenellaTreitschke. Dodin Koswanudin Info Lengkap
11 2011 Pengujian ketahanan klon-klon hasil silang tanaman kentang transgenik dengan nontransgenik terhadap penyakit hawar daun Phytopthora infestans di lapang uji terbatas Ambarwati, AD, Herman, M, Listanto, E, Suryaningsih, E, dan Sofiari, E. Info Lengkap
12 2011 Genetic control of soybean resistance to soybean pod sucker (Riptortus linearis L.) Asadi, Aziz Purwantoro, and Sahiral Yakub Info Lengkap
13 2013 Respon Ketahanan beberapa Galur Padi Potensi Hasil Tinggi terhadap Penyakit Tungro Ifa Manzila, Tri Puji Priyatno, Ida Hanarida Info Lengkap
14 2011 Karakterisasi dan identifikasi isolat bakteri endofitik penghambat pertumbuhan jamur patogen padi. Y. Suryadi, T.P.Priyatno, DN Susilowati, I.M Samudra, Patricia dan W. Irawati Info Lengkap
15 2010 Seed-dipping application of local endophytic bacterial consortium against bacterial leaf blight of rice Y.Suryadi, DN Susilowati, TS Kadir and A. Ruskandar Info Lengkap
16 2010 Kajian infeksi X. oryzae pv oryzae terhadap beberapa genotipe padi: hubungan kandungan hara dengan intensitas penyakit Y. Suryadi dan TS.Kadir Info Lengkap
17 2010 Evaluation of cellulose activity from Trichoderma spp and xylanolytic baceria Puji Lestari, W.Sarmiad, N.Richana, S. Salma and Y.Suryadi] Info Lengkap
18 2013 Pemuliaan Mutasi untuk Perbaikan terhadap Umur dan Produktivitas pada Kedelai Asadi Info Lengkap
19 2011 Keragaan Daya Gabung Umum, Daya Gabung Khusus dan Hibrida jagung pada dua kondisi pumupukan N Sutoro dan Mamik Setyowati Info Lengkap
20 2010 MODELPENDUGAAN LUAS DAUN TANAMAN KORO PEDANG (Canavalia ensiformis) Sutoro dan Mamik Setyowati Info Lengkap
21 2012 Isolasi dan Karakterisasi Kitinase asal Bacillus cereus 11 UJ Y. Suryadi1, TP. Priyatno1, DN. Susilowati1, IM. Samudra1, N. Yudhistira2 & ED. Purwakusumah2 Info Lengkap
22 2012 KETAHANAN BEBERAPA GALUR MUTAN CABE (M2) TERHADAP Chilli veinal mottle virus Ifa Manzila, Neni Gunaeni, Yenni Kusandriani, Tri Puji Priyatno, Wawan, Pamuji Adi Nugraha Info Lengkap
23 2013 Molecular Markers Application for Blast Resistance Selection on the Double Haploid Rice Population Gut Windarsih1, Dwinita Wikan Utami2*, and Utut Widyastuti1 Info Lengkap
24 2013 DEVELOPMENT AND APPLICATION OF 1536-PLEX SINGLE NUCLEOTIDE POLYMORPHISM (SNP) MARKER CHIP FOR GENOME WIDE SCANNING OF THE INDONESIAN RICE GERMPLASM Dwinita W.Utami, I. Rosdianti, P. Lestari, D. Satyawan, H. Rijzaani, I.M. Tasma Info Lengkap
25 2012 Analisis Keragaman Genetik 161 Aksesi Mangga Indonesia Menggunakan Marka Mikrosatelit Tasliah, Habib Rijzaani, Tri Z.P. Hariyadi, Siti Yuriyah, Rebin, Ma’sumah, dan Tiur S. Silitonga Info Lengkap
26 2012 Pembentukan Koleksi Inti Plasma Nutfah Padi Tiur S. Silitonga dan Andari Risliawati Info Lengkap
27 2013 GENETIC STABILITY EVALUATION OF RB GENE IN GENETICALLY MODIFIED POTATO TOLERANT TO Phytophthora infestans Edy Listanto, Eny Ida Riyanti, Tri Joko Santoso, Toto Hadiarto, and M. Herman Info Lengkap
28 2013 Transformasi Gen Cry1Ac dan Kultur Jaringan untuk Pembentukan Tanaman Padi Tahan Pengerek Batang Sri Koerniati, Suci Rahayu dan Kusumawaty Kusumanegara Info Lengkap
29 2011 Uji Ketahanan Galur-galur Kentang Transgenik Hasil Transformasi dengan Gen RB terhadap Penyakit Hawar Daun (Phytophthora infestans) di KP Pasirsarongge, Cianjur Edy Listanto, M. Herman dan Eri Sofiari Info Lengkap
30 2012 Construction of Cry1Ac Expression Vector and Its Transformation into Agrobacterium tumefaciens Sri Koerniati dan Alifah R. Heritiera Info Lengkap
31 2012 Transformasi Genetik Pisang Ambon dengan Gen Kitinase dari Padi Ragapadmi Purnamaningsih dan Deden Sukmadjaja Info Lengkap
32 2011 Respon Empat Genotipe Gandum (Triticum aestivum L.) Terhadap Perbedaan Komposisi Zat Pengatur Tumbuh pada Media Regenerasi Pasca Transformasi Melalui Agrobacterium tumefaciens Aniversari Apriana*, Atmitri Sisharmini, Fitriyani, dan Sustiprijatno Info Lengkap
33 2012 KANDUNGAN NUTRISI 3 SPESIS DIOSCOREA SP. SEBAGAI BAHAN PANGAN FUNGSIONAL Rafika Yuniawati, M. Sabda, Sri Hutami, Sutoro Info Lengkap
34 2012 Analisis Feromon Seks Ulat Grayak I Made Samudra, Rafika Yuniawati dan Rudiyanto Info Lengkap
35 2012 Multiplikasi Tunas dan Induksi Perakaran Pada Ubi Kelapa (Dioscorea alata L.) dan Gembili (Dioscorea esculenta L.) Sri Hutami, Ragapadmi Purnamaningsih, Ika Mariska dan Surya Diantina Info Lengkap
36 2012 Perbanyakan Benih Gembili (Dioscorea esculenta) dan Ubi Kelapa (Dioscorea alata) menggunakan Set Mini Surya Diantina dan Sri Hutami Info Lengkap
37 2013 SELEKSI BAKTERI ENDOFIT PENGHASIL KITINASE SEBAGAI AGEN BIOKONTROL FUNGI PATOGEN RHIZOCTONIA SOLANI DAN PYRICULARIA ORYZAE PADA TANAMAN PADI1 Yadi Suryadi, TP. Priyatno, IM. Samudra, DN. Susilowati, & Puji. Lestari, Sutoro Info Lengkap
38 2013 Analisis Keragaman Genetik Isolat Bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae dari Jawa Barat dan Jawa Tengah Berdasarkan Analisis ARDRA Gen 16SrRNA Yadi Suryadi 1*, Dwi N. Susilowati1, Puji Lestari1, Sutoro1, Manzila Ifa1, Trini Suryani Kadir2 Sheryn Sunni Albani3, I Made Artika3 Info Lengkap
39 2013 Aktivitas Anticendawan Bacillus cereus 11UJ terhadap Rhizoctonia solani dan Pyricularia oryzae Yadi Suryadi*, I Made Samudra, Tri Puji Priyatno, Dwi Ningsih Susilowati, Puji Lestari, Sutoro Info Lengkap
40 2014 BIOPROSPEKSI BAKTERI FILOSFER DAN RHIZOZFER: UJI DAYA ANTIPATOGEN, PRODUKSI IAA DAN ENZIM EKSTRASELULER KITINASE Y. Suryadi1, T.P. Priyatno1, I.M Samudra1, I. Manzila1, D.N. Susilowati1, P.Lestari1 Info Lengkap
41 2014 Isolasi dan Identifikasi Jamur Patogen Serangga Beauveria sp. serta Uji Patogenisitasnya Pada Serangga Inang-Walang Sangit (Leptocorisa acuta) Wartono1, Cyntia Nirmalasari2 dan Yadi Suryadi1 Info Lengkap
42 2013 KARAKTERISASI BAKTERI PENGHASIL ASAM INDOL ASETAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP VIGOR BENIH PADI Puji Lestari , Yadi Suryadi, Dwi Ningsih Susilowati, Tri Puji Priyatno, dan I Made Samudra Info Lengkap
43 2014 Teknologi Genome Scanning Menggunakan 1536- dan 384-SNP Chip untuk Mendukung Program Pemuliaan Padi (Rice Genome Scanning using 1536- and 384- SNP Chip Technology for Supporting Rice Breeding Programs) Penulis : Dwinita W. Utami Info Lengkap
44 2014 PEMANFAATAN ASOSIASI LINTAS GENOM (STUDI ASOSIASI GENOM) DALAM PEMULIAAN TANAMAN Utilization of Genome Association (Genome Wide Association Study) in Plant Breeding Dwinita W. Utami Info Lengkap
45 2014 BAYESIAN CLUSTERING OF INDONESIAN RICE GERMPLASM Klasterisasi Bayes Plasma Nutfah Padi Indonesia Dwinita W. Utami, Ida Rosdianti, Dani Satyawan, Habib Rizjaani and M. Sabran Info Lengkap
46 2014 IDENTIFIKASI GEN / QTL (Quantitative Trait Loci) SIFAT TOLERAN CEKAMAN ALUMINIUM PADA GALUR-GALUR PADI GOGO [Identification of Gene / QTL (Quantitative Trait Loci) for Aluminium Stress Tolerant in Upland Rice Lines] Dwinita W Utami, I Rosdianti, S Yuriyah, AD Ambarwati, I Hanarida, Suwarno dan Miftahudin Info Lengkap
47 2014 Molecular Markers Application for Blast Resistance Selection on the Double Haploid Rice Population Gut Windarsih, Dwinita Wikan Utami, dan Utut Widyastuti Info Lengkap
48 2014 Isolation and Disease Assessment of Xanthomonas oryzae pv. oryzae from Java Island and Pathogenic Assay on Near Isogenic Lines with Different Resistant Genes (Isolasi Bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae dari P. Jawa dan Pengujian Penyakit pada Galur Isogenik dengan Gen Ketahanan Berbeda). Fatimah, T.P. Priyatno, S.H. Fadillah, Hermanto, M. Baroya, Mahrup, Wawan, D. Sasongko, Y. Suryadi, dan T.S. Kadir. Info Lengkap
49 2014 A Bioinformatics Workflow for Genetic Association Studies of Traits in Indonesian Rice James W. Baurley, Bens Pardamean, Anzaludin S. Perbangsa, Dwinita Utami, Habib Rijzaani, and Dani Satyawan Info Lengkap
50 2015 KARAKTERISASI BAKTERI PENGHASILASAMINDOLASETAT DANPENGARUHNYATERHADAPVIGORBENIHPADI Puji Lestari^, Yadi Suryadi, Dwi Ningsih Susilowati, Tri Puji Priyatno, dan IMade Samudra Info Lengkap
51 2015 Aktivitas Anticendawan Bacillus cereus 11UJ terhadap Rhizoctonia solani dan Pyricularia oryzae Yadi Suryadi*, I Made Samudra, Tri Puji Priyatno, Dwi Ningsih Susilowati, Puji Lestari, Sutoro Info Lengkap
52 2015 Organogenesis aksis bunga pisang bergenom AAB dan ABB Dea Lisnandar, Ahmad Fajarudin, Darda Efendi, dan Ika Roostika Info Lengkap
53 2015 Morfogenesis aksis bunga pisang kepok kuning dan kluthuk awu Ika Roostika, Suci Rahayu, Edison, dan Agus Sutanto Info Lengkap
54 2015 Penggunaan aksis jantung pisang untuk penyediaan sumber eksplan bebas bakteri Ika Roostika, Agus Sutanto, dan Yati Supriati Info Lengkap
55 2015 Analisis Molekuler Piramida Gen Xa pada Progeni Padi Varietas Ciherang dan Inpari 13. Jurnal Biologi Indonesia. 2015. Volume 11 Nomor 1: 109-119. Fatimah, Joko Prasetiyono, Tri Puji Priyatno, Muhammad Yunus, Tintin Suhartini, Iman Ridwan, Mushlihatun Baroya Info Lengkap
56 2015 Survey marka polimorfik pada kromosom padi untuk pemuliaan padi tahan penyakit hawar daun bakteri menggunakan pendekatan pemuliaan berbantu marka. 2015. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Unggulan Bidang Pangan Nabati. Hal. 259-266. Fatimah, Mushlihatun Baroya, Tri Puji Priyatno Info Lengkap
57 2015 Identifikasi gen Xa pada varietas padi untuk ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri. 2015. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Unggulan Bidang Pangan Nabati. Hal 249-257. Fatimah, Mushlihatun Baroya, Tri Puji Priyatno Info Lengkap
58 2015 DNA markers for eating quality of indica rice in Indonesia Puji Lestari, Wenzhu Jiang, Sang - Ho Chu,Reflinur, Sutrisno, Bramkusbiantoro, Backk Kim, Rihua Piao, Young-Chan Cho, Zhixiang Luo, Joong - Hyeon Chin, and Hee - Jong Koh Info Lengkap
59 2015 Draft genome sequence of adzuki bean, Vigna angularis Yang Jae Kang, Dani Satyawan, Sangrea Shim, Taeyoung Lee, Jayern Lee, Won Joo Hwang, Sue K. Kim, Puji Lestari, Kularb Laosatit, Kil Hyun Kim, Tae Joung Ha, Annapurna Chitikineni, Moon Young Kim, Jong Min Ko, Jae Gyun Gwag, Jung Kyung Moon, Yeong Ho Lee, Beom Seok Park, Rajeev K. Varshney & Suk Ha Lee Info Lengkap
60 2015 Workshop Bioteknologi Made Tasma Info Lengkap
61 2015 Konstitusi Genetik dan Karakter Fenotipik Galur-galur padi Pup1 Turunan Varietas Situ Bagendit Suwaji H. Wardoyo1, Miftahudin2, Sugiono Moeljopawiro3, dan Joko Prasetiyono3 Info Lengkap
62 2015 Evaluasi Molekuler dan Lapangan terhadap Galur-galur Padi Berumur Genjah dan Produktivitas Tinggi Turunan Ciherang Joko Prasetiyono,Ahmad Dadang,Ma\'sumah, Tasliah, Fatimah, danTiur Sudiaty Silitonga Info Lengkap
63 2015 Pembentukan Pustaka Genom, Resekuensing, dan Identifikasi SNP Berdasarkan Sekuen Genom Total Genotipe Kedelai Indonesia I Made Tasma, Dani Satyawan, dan Habib Rijzaani Info Lengkap
64 2015 Characterization of 56 Soybean Accessionson Yield Components And Maturity-related Traits I Made Tasma, PujiLestari, and Reflinur Info Lengkap
65 2015 Isolation and Identification of Indigenous Lactic Acid Bacteria from North Sumatra River Buffalo Milk Rizqiati H1, Sumantri C2, Noor RR2, Damayanthi E3, Rianti EI4 Info Lengkap
66 2015 Characteristics of Indigenous Probiotic from River Buffalo Milk in North Sumatera Indonesia Heni Rizqiatia*, Cece Sumantrib, Ronny Rachman Noorc, Evy Damayanthid, Eny Ida Riantie Info Lengkap
67 2015 GENETIC STABILITY ANALYSIS OF RB GENE IN GENETICALLY MODIFIED POTATO LINES TOLERANT TO Phytophthora infestans Edy Listanto, Eny Ida Riyanti, Tri Joko Santoso, and Toto Hadiarto Info Lengkap
68 2015 Klon klon Kentang TransgenikHasil PersilanganTerseleksi Tahan terhadap Penyakit Hawar Daun Phythopthora infestans Tanpa Penyemprotan fungisida Alberta Dinar Ambarwati, Kusmana, Edy Listanto Info Lengkap
69 2015 Induksi dan Regenerasi kalus Jagung yang di transformasi dengan Gen CsNitr1-L melalui penembakan partikel A. Dinar Ambarwati, Edy Listanto, Slamet, Umar, Sustiprijatno, dan Sutoro Info Lengkap
70 2015 Analisis Molekuler Piramida Gen Xa pada Progeni Padi Varietas Ciherang dan Inpari 13 (Molecular analysis of pyramiding Xa gene in progenies of Ciherang and Inpari 13 rice varieties) Fatimah, Joko Prasetiyono,Tri Puji Priyatno,Muhammad Yunus,Tintin Suhartini, Iman Ridwan, Mushlihatun Baroya Info Lengkap
71 2015 Daya Gabung Umum, Daya Gabung Khusus dan Keragaan Hasil Hibrida Jagung pada Dua Tingkat Pemupukan N Sutoro dan Mamik Setyowati Info Lengkap
72 2015 Keragaman Respon Plasma Nutfah Padi terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) M. Ace Suhendar Info Lengkap
73 2015 The Current Status of Biotechnology in Indonesia. Eny Ida Riyanti. 2015 Info Lengkap
74 2015 Penampilan Agronomi dan Uji Toleransi Naungan Galur Dihaploid Padi Gogo Hasil Kultur Antera Kartika Kirana Sangga Mara1, Bambang Sapta Purwoko2*, Eko Sulistyono2, dan Iswari Saraswati Dewi3 Info Lengkap
75 2015 Tanaman Kentang Transgenik Tahan Penyakit Hawar Daun (Phytophthora infestans) A. Dinar Ambarwati Info Lengkap
76 2015 Characterization and mapping of d13, a dwarfing mutant gene, in rice Md. Babul Akter, Rihua Piao, Reflinur, Md. Lutfor Rahman, Yunjoo Lee, Jeonghwan Seo, Backki Kim & Hee-Jong Koh Info Lengkap
77 2015 Efektivitas Formulasi Spora Bacillus subtilis B12 sebagai Agen Pengendali Hayati Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tanaman Padi Wartono1,Giyanto2,dan Kikin H.Mutaqin2 Info Lengkap
78 2015 PENENTUAN ALERGENISITAS PROTEIN GEN RB PADA KENTANG PRODUK REKAYASA GENTIK BERDASARKAN STUDI BIOINFORMATIK Eny Ida Riyanti1, Edy Listanto1, dan Alberta Dinar Ambarwati1 Info Lengkap
79 2015 Identifikasi cDNA Gen RB pada Tanaman Kentang Produk Rekayasa Genetika Katahdin SP951 Toto Hadiarto, Edy Listanto, *Eny Ida Riyanti dan M. Herman Info Lengkap
80 2015 Analisis Molekuler dan Keragaan Agronomis Galur-galur Padi BC1F1 Persilangan Code x qTSN4 dan Code x qDTH8 Jurnal AgroBiogen 11(1):17–24 Tasliah*, Ma’sumah, Kurniawan R. Trijatmiko, dan Joko Prasetiyono Info Lengkap
81 2015 Ketahanan Galur-Galur PadiPupl terhadap Penyakit Bias PENELITIAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN VOL.34 NO. 1 2015 Tasliah, JokoPrasetiyono, TintinSuhartini, dan IdaHanaridaSoemantri Info Lengkap
82 2015 PERKECAMBAHAN EMBRIO NUSELAR DAN INDUKSI TUNAS DARI BUKU KOTILEDON MANGGA VARIETAS MADU Mia Kosmiatin1, Yati Supriati1, dan Ali Husni, Info Lengkap
83 2015 PEMANFAATAN TEKNOLOGI SEKUENSING GENOM UNTUK MEMPERCEPAT PROGRAM PEMULIAAN TANAMAN (Utilization of Genome Sequencing Technology to Accelerate Plant Breeding Program) I Made Tasma Info Lengkap
84 2015 Morphological variability of Indonesian rice germplasm and the associated SNP markers Puji Lestari, Dwinita W Utami and Ida Rosdianti Info Lengkap
85 2015 Genetic Diversity of upland landraces from Java island as revealed by SSR markers Sutoro, Puji Lestari, Reflinur and Hakim Kurniawan. 2015.. Info Lengkap
86 2015 Genome duplication to reveal adaptation strategy of plant to environmental stress: a case study of NBS-LRR genes in soybean Puji Lestari, Suk-Ha Lee and Sutrisno Info Lengkap
87 2015 Identification of single nucleotide polymorphism on cattle breeds in Indonesia using bovine 50K Puji Lestari, Rijzaani H, Satyawan D, Anggraeni A, Utami DW, Rosdianti I, Lutfi M and Tasma IM. 2015 Info Lengkap
88 2015 Karakterisasi bakteri penghasilas amindol asetat dan pengaruhnya terhadap vigor benih padi Puji Lestari, Yadi Suryadi, Dwi Ningsih Susilowati, Tri Puji Priyanto, dan I Made Samudra. 2015 Info Lengkap
89 2015 KeragamanGenetik 14 AksesiKentang (Solanumtuberosum L.) BerdasarkanMarka SSR dan STS. Nugroho, K., Reflinur, P. Lestari, I. Rosdianti, R.T. Terryana, Kusmana, dan I.M. Tasma. 2015 Info Lengkap
90 2015 Metode Ekstraksi DNA Jatrophaspp. JurnalTanamanIndustri dan Penyegar. Nugroho, K., R.T. Terryana, H. Rijzaani, dan P. Lestari Info Lengkap
91 2015 Pengembangan identitas spesifik berbasis marka SSR pada 29 varietas kedelai lokal Indonesia. Puji Lestari, Andari Risliawati, Dwinita W Utami, Tri Joko Santoso dan Tiur Sudiati Silitonga. Info Lengkap
92 2015 Analisis Sidik Jari DNA pada Mangga (Mangifera indica L.) Puji Lestari, Reflinur dan I Made Tasma Info Lengkap
93 2015 PENENTUAN LOKUS GEN DALAM KROMOSOM TANAMAN DENGAN BANTUAN MARKA DNA Reflinur dan Puji Lestari Info Lengkap
94 2015 Genetic Diversity of Japonica Rice (Oryza sativa L.) Based on Markers Corresponding to Starch Synthesizing Genes Puji Lestari and Reflinur Info Lengkap
95 2015 Cryopreservation of In Vitro Shoot Tips Dioscorea Esculenta With Vitrification Method SuryaDiantina, Ragapadmi Purnamaningsih, Sri Hutami Info Lengkap
96 2015 Effect of Cryoprotectant and Explant Type to Recovery of Two Accessions of Dioscorea Alata L.AfterIn Vitro Vitrification Ragapadmi Purnamaningsih, SuryaDiantina and SriHutami Info Lengkap
97 2014 Genetic diversity of mungbean (Vigna radiata L.) germplasm in Indonesia Puji Lestari, Sue Kyung Kim, Reflinur, Yang Jae Kang,Nurwita Dewi and Suk-Ha Lee. Info Lengkap
98 2014 Genome-wide single nucleotide polymorphism discovery and validation in adzuki bean Puji Lestari, Yang Jae Kang, Kwang-Soo Han, Jae-Gyun Gwag, Jung-Kyung Moon, Yong Hwan Kim, Yeong-Ho Lee, Suk-Ha Lee Info Lengkap
99 2014 Genome sequence of mungbean and insights into evolution within Vigan species Yang Jae Kang, Sue K. Kim, Moon Young Kim, Puji Lestari, Kil Hyun Kim, Bo-Keun Ha, Tae Hwan Jun, Won Joo Hwang, Taeyoung Lee, Jayern Lee, Sangrea Shim, Min Young Yoon, Young Eun Jang, Kwang Soo Han, Puntaree Taeprayoon, Na Yoon, Prakit Somta, Patcharin Tanya, Kwang Soo Kim, Jae-Gyun Gwag, Jung-Kyung Moon, Yeong-Ho Lee, Beom-Seok Park, Aureliano Bombarely, Jeffrey J. Doyle, Scott A. Jackson, Roland Schafleitner, Peerasak Srinives, Rajeev K. Varshney & Suk-Ha Lee Info Lengkap
100 2014 Prediction of Physicochemical Properties of Indonesian Indica Rice Using Molecular Markers. Puji Lestari, Reflinur and Hee-Jong Koh Info Lengkap
101 2014 QTL Study to Reveal Soybean Response on Abiotic and Biotic Stresses. Puji Lestari, Sutrisno and I Made Tasma. Info Lengkap
102 2014 Isolasi, Identifikasi, dan Karakterisasi Cendawan Blas Pyricularia oryzae Hasil Rejuvenasi Puji Lestari, Wawan, Tri P. Priyatno, Wening Enggarini, Reflinur, dan Yadi Suryadi. Info Lengkap
103 2014 Evaluation of Cellulase Activity from Trichoderma spp Lestari P, Sarmiad W, Richana N, Salma S, Susilowati D N, and Suryadi Y. Info Lengkap
104 2014 Study on the Production of Bacterial Cellulose from Acetobacter xylinum using Agro-Waste Puji Lestari, Nitariani Elfrida, Ani Suryani and Yadi Suryadi Info Lengkap
105 2015 Perbaikan potensi hasil varietas Code melalui motode Marker Assisted Backrossing Tasliah, Ma\\\'sumah, Kurniawan R. Trijatmiko dan Jokoasetiyono Info Lengkap
106 2015 Potensi hasil aksesi plasma nutfah ubi jalar di dataran tinggi Minantyorini dan M. Sabda Info Lengkap
107 2015 Keterkaitan Karakteristik Morfologi Tanaman Ubi Jalar dengan Kadar Gula dan Kadar Bahan Kering Umbi Minantyorini dan Yusi Nurmalita Andarini Info Lengkap
108 2015 Evaluasi Karakter Kerusakan Umbi Pasca Panen (Deteriorasi) pada Plasma Nutfah Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz.) Minantyorini dan M. Sabda Info Lengkap
109 2015 STS Marker Associated with Iron Toxicity Tolerance in Rice Lili Chrisnawati, Miftahudin, Dwinita W. Utami Info Lengkap
110 2015 Marker-Traits Associated for Iron Toxicity Tolerance in Selected Indonesian Rice Varieties Yudhistira Nugraha, Dwinita W. Utami, Ida Rosdianti, Sintho Wahtuning Ardie, Munif GhulamMahdi, Suwarno, Hajrial Aswidinnoor Info Lengkap
111 2015 Identifikasi Gen / QTL Sifat Toleran Cekaman Aluminium pada Galur-Galur Padi Gogo Dwinita w. Utami, I. Rosdianti, S. Yuriyah, AD Ambarwati, I.Hanarida, Suwarno & Miftahudin Info Lengkap
112 2016 Virulence of brown planthopper (Nilaparvata lugens Stål) and development of core collection of the pest Chaerani, Siti Yuriah, Ahmad Dadang, Diani Damayanti, Kusumawaty Kusumanegara, Trisnaningsih, Sutrisno, dan Bahagiawati. Info Lengkap
113 2016 Seleksi Galur Mutan Padi Fatmawati Tahan terhadap Penyakit Blas dan Evaluasi Karakter Agronomi di Rumah Kaca dan di Lahan Sawah. Buletin Plasma Nutfah Vol. 21 No. 2, Desember 2015:79–88 Endang G. Lestari, Iswari S. Dewi, dan Rossa Yunita Info Lengkap
114 2016 Penampilan Gajur Harapan Mutan Dihaploid Padi Tipe Baru di Sulawesi Selatan.J. Agron. Indonesia 43 (2) : 89 - 98 (2015) Iswari Saraswati Dewi, Endang Gati Lestari, Chaerani, dan Rossa Yunita Info Lengkap
115 2016 Analisis Fenotipik Progeni Tiga Galur Tomat Transgenik Partenokarpi di Fasilitas Uji Terbatas .J. Hort. Vol. 26 No. 1, Juni 2016 : 21-30 Saptowo Jumali Pardal, Ragapadmi Purnamaningsih, Endang Gati Lestari, dan Slamet Info Lengkap
116 2016 Analisis Molekuler Gen Partenokarpi DefH9-RI-iaaM pada Progeni Tomat Transgenik .Jurnal AgroBiogen 11(1):33–40 Saptowo J. Pardal1*, Slamet1, Ragapadmi Purnamaningsih1, Endang G. Lestari1, dan Sutini2 Info Lengkap
117 2016 MUTASI DAN KULTUR IN VITRO UNTUK MENINGKATKAN KERAGAMAN GENETIK TANAMAN KEDELAI..Prosidinq Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacanq dan Umbi 2015 Endang G. Lestari, R. Purnamaningsih, Asadi, S. Hutami, dan S. Rahayu Info Lengkap
118 2016 EVALUASI DAN SELEKSI GALUR MUTAN KEDELAI M3 UNTUK PRODUKSI TINGGI.PROSIDING SEMNAS BIODIVERSITAS Vol.5 No.l Hal: 67-70.SSN: 2337-506X April 2016 Endang Gati Lestari*, Asadi, Sri Hutami, Ragapadmi P., S. Rahayu Info Lengkap
119 2016 PERAN THIDIAZURON DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN PROLIFERASITANAMAN SECARA/A VITRO.JURNAL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN .Volume 34 Nomor 2, Juni 2015 Endang Gati Lestari Info Lengkap
120 2016 REGENERASI TUNAS DARI KALUS MUTAN SORGUM VARIETAS KAWALI, MANDAU DAN SUPER I .SEMINAR NASIONAL BIOSAINS 2 “Penguatan Biologi sebagai Ilmu Dasar untuk Menunjang Kemajuan Sains dan Teknologi”  Endang Gati Lestari* dan Iswari S. Dewi Info Lengkap
121 2016 Markers-traits association for iron toxicity tolerance in selected Indonesian rice varieties . J BIODIVERSITAS Volume 17, Number 2,Pages: 753-763 Yudhistira N, DW Utami, I Rosdianti, SW Adie, M Ghulammahdi, Suwarn,H Aswidinnoor Info Lengkap
122 2016 UTILIZATION OF 384 SNP GENOTYPING TECHNOLOGY FOR SEED PURITY TESTING OF NEW INDONESIAN RICE VARIETIES INPARI BLAS AND INPARI HDB D.W. UTAMI*, I. ROSDIANTI, I.S. DEWI, D. AMBARWATI, A. SISHARMINI, A. APRIANA, S. YURIYAH, I. RIDWAN and I.H. SOMANTRI Info Lengkap
123 2016 IDENTIFIKASI GEN / QTL (Quantitative Trait Loci) SIFAT TOLERAN CEKAMAN ALUMINIUM PADA GALUR-GALUR PADI GOGO [Identification of Gene / QTL (Quantitative Trait Loci) for Aluminium Stress Tolerant in Upland Rice Lines] Dwinita W Utami1, I Rosdianti1, S Yuriyah1, AD Ambarwati1, I Hanarida1, Suwarno2 dan Miftahudin3 Info Lengkap
124 2016 STS Marker Associated with Iron Toxicity Tolerance in Rice Lili Chrisnawati, Miftahudin, Dwinita Wikan Utami Info Lengkap
125 2016 EVALUASI KETAHANAN SUMBER DAYA GENETIK KACANG HIJAU TERHADAP HAMA PENGGEREK POLONG (Maruca testulalis Gejer) Dr Dodin Koswanudin Info Lengkap
126 2016 Potensi Hasil Aksesi Plasma Nutfah Ubi Jalar di Dataran Tinggi Minantyorini dan Mamik Setyowati Info Lengkap

Hak Kekayaan Intelektual

Daftar Hak Kekayaan Intelektual
No Tahun Hak Kekayaan Intelektual
1 2010 VUB Padi INPARI HDB Info Lengkap
2 2010 VUB Padi INPARI BLAS Info Lengkap
3 2012 Feromon-Cyl Info Lengkap
4 2012 Fetomon-Litura Info Lengkap
5 2012 Feromon-Ostri Info Lengkap
6 2012 Feromon-PBPK Info Lengkap

Output/Keluaran Lainnya

Daftar Output/Keluaran Lainnya
No Tahun Nama Deskripsi Keunggulan
1 2013 Pola virulensi strain tungro Pemetaan virulensi strain tungro di wilayah pantura Jawa dilakukan dengan mengkoleksi dan menguji virulensi 15 strain tungro hasil koleksi berbagai tempat. Pemetaan dillakukan dengan varietas diferensial yang berbeda tingkat ketanannya. Dari pemataan menunjukkan bahwa strain-strain tungro di wilayah pantura Jawa tidak beragam dan memiiliki tingkat virulensi yang sama, hal ini diduga selain karena jenis vareitas yang ditanam antar sentra produksi padi tidak berbeda, juga oleh migrasi vektor tungro yang sangat tinggi di Pantura. Belum ada informasi unggulan yang dihasilkan dari pemetaan ini. Info Lengkap
2 2013 Xoo-2 Mampu menyerang varietas Code; IR64; K. bali; IRBB1; IRBB2; IRBB4; IRBB7; IRBB10; IRBB11; IRBB14; IR24 Membawa gen virulensi yang efisien yang mampu menyerang varietas Code; IR64; K. bali; IRBB1; IRBB2; IRBB4; IRBB7; IRBB10; IRBB11; IRBB14; IR24 Info Lengkap
3 2013 Xoo-4 Isolat HDB yang mampu menyerang verietas Code; Ciherang; IR64; K. bali; IRBB2 Isolat tersebut membawa gen virulen yang efisien yang mampu menyerang Code; Ciherang; IR64; K. bali; IRBB2 Info Lengkap
4 2013 Xoo-6 Isolat HDB yang mampu menyerang varietas Code; Ciherang; IR64;K. bali; IRBB1; IRBB2; IRBB4; IRBB10; IRBB11; IRBB14; IR24 Membawa gen yang efisien Code; Ciherang; IR64;K. bali; IRBB1; IRBB2; IRBB4; IRBB10; IRBB11; IRBB14; IR24 Info Lengkap
5 2013 Xoo-7 Isolat HDB yang mampu menyerang Code; Angke; IR64; Cisadane; K. bali; IRBB1; IRBB2; IRBB3; IRBB4; IRBB10; IRBB11; IRBB14; IR24 Isolat Xoo-7 membawa gen yang efisien untuk menyerang Code; Angke; IR64; Cisadane; K. bali; IRBB1; IRBB2; IRBB3; IRBB4; IRBB10; IRBB11; IRBB14; IR24 Info Lengkap
6 2013 Xoo-8 Isolat HDB yang mampu menyerang varietas Code; Ciherang; Inpari 13; IR64; Cisadane; K. bali; IRBB1; IRBB2; IRBB4; IRBB10; IRBB11; IRBB14; IRBB21; IR24 Isolat Xoo-8 membawa gen virulen yang efisien menyerang Code; Ciherang; Inpari 13; IR64; Cisadane; K. bali; IRBB1; IRBB2; IRBB4; IRBB10; IRBB11; IRBB14; IRBB21; IR24 Info Lengkap
7 2013 Data prevalensi ChiVMV di Indonesia Sebanyak 6 lokasi pada propinsi yang berbeda di Indonesia yang di survei dan sebanyak 390 sampel berhasil di kumpulkan dari tahun 2012-2013. Semua sampel yang dikumpulkan kemudian deteksi menggunakan metode DAS-ELISA dan hassil uji serologi menunjukan bahwa tidak ada lokasi yang bebas dari infeksi ChiVMV. Kejadian penyakit ChiVMV di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,Bali dan Kalimantan Selatan masing-masing adalah 26,6%, 61,4%, 60,8%, 22,2%,32,5%, dan 42,8%. Kejadian penyakit yang paling tinggi ditemukan di daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah dibandingkan dengan daerah lainnya. Data prevalensi ChiVMV ini memberikan informasi bahwa tidak ada sentra produksi cabai di Indonesia yang terbebas dari serangan ChiVMV hal ini disebabkan karena inokulum yang tetap ada di lapang pada tanaman inang alternatif. Oleh karena itu, pengembangan tanaman cabai tahan ChiVMV sangat penting untuk mengatasi kehilangan hasil akibat ChiVMV. Info Lengkap
8 2013 Data karakter agronomi galur cabai mutan M3 terseleksi Mutan cabai turunan ke-3 memiliki karakter agronomi dan komponen hasil yang sangat ber variasi terutama untuk sifat tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah buah per tanaman, panjang buah, bobot buah dan jumlah biji. Mutan cabai turunan ketiga yang memiliki jumlah buah per pohon mencapai dua kali lipat disbanding tetua asalnya adalah M3.517.1, M3.613.2, M3.711.1, M3.113.3 M3.153.1, M3.153.3, M3.201.1, dan M3.201.2, bahkan untuk nomor M3.201.1 jumlah buahnya meningkat mencapai 4 kali lipatnya. Mutan-mutan cabai ini selain tahan terhaap ChiVMV juga memiliki produksi tinggi sehingga perlu diuji daya hasil dan multilokasi untuk dikembangkan menjadi varietas. Info Lengkap
9 2013 Isolat Xoo636, Xoo 645, Xoo 648, Xoo 652, Xoo 664, Xoo 704, Xoo 654, Xoo 668, Xoo 687, Xoo 690, Xoo 694, Xoo 718, Xoo 732 Isolat-isolat Xoo ini menyerang varietas Ciherang yang dikoleksi dari Jawa Timur Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
10 2013 Isolat Xoo 699 Isolat ini menyerang varietas Situbagendit dari Jawa Timur Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
11 2013 Isolat Xoo 707 Isolat Xoo ini menyerang IR64 yang dikoleksi dari Jawa Timur Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
12 2013 Isolat Xoo 015813, Xoo 016313, Xoo 018813, Xoo 00813, Xoo Xoo 004613, Xoo 011613, Xoo 014013, Xoo 6, Xoo 7, Xoo 8, Xoo 9, Xoo 57, Xoo 58, Xoo 60, Xoo 61, Xoo 001013, Xoo 66, dan Xoo 62 Isolat Xoo ini menyerang Ciherang yang dikoleksi dari Jawa Tengah Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
13 2013 Isolat Xoo 64, Xoo 65 dan Xoo 59 Isolat Xoo ini menyerang varietas Sidenuk yang dikoleksi dari Jawa Tengah Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
14 2013 Isolat Xoo 007613 dan Xoo 012813 Isolat Xoo ini menyerang varietas Sidenok Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
15 2013 Isolat Xoo 010313 dan Xoo 010713 Isolat Xoo ini menyerang Inpari 10 yang dikoleksi dari Jawa Tengah Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
16 2013 Isolat Xoo 018513 dan Xoo 018213 Isolat Xoo ini menyerang varietas Situbagendit yang dikoleksi dari Jawa Tengah Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
17 2013 Isolat Xoo 63 dan Xoo 004813 Isolat Xoo ini menyerang IR64 yang dikoleksi dari Jawa Tengah Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
18 2013 Isolat Xoo 4 Isolat Xoo ini menyerang varietas mentikwangi Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
19 2013 Isolat Xoo 5 Isolat Xoo ini menyerang varietas padi lokal di Donoyudan Jawa Tengah Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
20 2013 Isolat Xoo 10, Xoo 248, Xoo 489, Xoo 224, Xoo 254, Xoo 247, Xoo 384, Xoo 463, Xoo 240, dan Xoo 338 Isolat Xoo ini menyerang varietas Ciherang yang dikoleksi dari Jawa Barat Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
21 2013 Isolat Xoo 363 dan Xoo 483 Isolat Xoo ini menyerang varietas Mekonggga yang dikoleksi dri Jawa Barat Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
22 2013 Isolat Xoo 3 Isolat ini menyerang varietas C4 yang dkoleksi dari Jawa Barat Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
23 2013 Isolat Xoo 517 Isolat Xoo ini menyerang varietas IR Kebo Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
24 2013 Isolat Xoo 1 dan Xoo 2 Isolat Xoo ini menyerang Inpari 18 yang dikoleksi dari Jawa Barat Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
25 2013 Isolat Xoo 389 dan Xoo 409 Isolat Xoo ini menyerang vareitas Muncul yang dikoleksi dari Jawa Barat Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
26 2013 Isolat Xoo 343 Isolat Xoo ini menyerang padi ketan yang dikoleksi dari Jawa barat Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
27 2013 Isolat Xoo 587 Isolat Xoo ini menyerang padi ketan yang dikoleksi dari DIY Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
28 2013 Isolat Xoo 578 Isolat Xoo ini menyerang varietas Mekongga Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
29 2013 Isolat Xoo 601 dan Xoo 607 Isilat Xoo ini menyerang varietas Situbagendit yang dikoleksi dari DIY Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
30 2013 Isolat Xoo 569 Isolat Xoo ini menyerang varietas IR Kebo yang dikoleksi dari DIY Belum diketahui pathovarnya Info Lengkap
31 2012 Jumlah set data ciri-ciri ketahanan tanaman terhadap ChiVMV dengan tingkat virulensi yang berbeda untuk isolat CKB, BDG, PRT, KR, dan LM Sebanyak 5 isolat ChiVMV berhasil dikumpulkan dari beberapa sentra pertanaman cabai, yaitu Lembang-Jawa Barat, Karadenan-Jawa Tengah, Bedugul-Bali, Parangtritis- Jateng, Cikabayan – Jawa Barat. Isolat Cikabayan-Jawa Barat merupakan isolat yang memiliki virulensi yang tinggi dibandingkan 4 isolat chivmv lainnya. Isolat tersebut dapat menginfeksi 10 genotipe cabai dengan kejadian penyakit masing-masing antara 20% sampai 100% dan memiliki masa inkubasi yang sangat singkat, yaitu 3 hari, pada varietas Titsuper dan Beauty Bell. 1. ChiVMV Strain kuat digunakan untuk evaluasi ketahan tanaman (Galur) terhadap penyakit yang disebabkan oleh virus belang cabai 2. ChiVMV strai lemah dapat digunakan sebagai agen biokontrol pada tanaman cabai Info Lengkap
32 2012 Jumlah set data ketahanan (minimal 10 galur cabai mutan M2) terseleksi terhadap ChiVMV (hubungan sifat dan ketahanan tanaman). Secara umum penampilan tanaman galur-galur cabai mutan yang memperlihatkan respon tahan terhadap ChiVMV tidak jauh berbeda dengan tanaman normal. Walaupun demikian tanaman mutan (M2) cenderung memiliki tinggi tanaman dan tinggi cabang yang lebih tinggi dibandingkan tanaman kontrol. Berdasarkan respon ketahanan dan produksinya dari 28 galur cabai mutan (M2) dibagi dalam dua kelompok. Kelompok 1 adalah kelompok yang memiliki respon tahan terhadap ChiVMV dan memiliki produktifitas yang lebih tinggi dari tanaman yang tidak diinfeksikan (kontrol negatif).Kelompok kedua adalah kelompok yang tahan terhadap ChiVMV tetapi produksitifitasnya rendah. Rata-rata tinggi tanaman (M2) kelompok 1 dan 2 berturut-turut adalah 65,7 cm dan 57 cm, sedangkan tinggi tanaman Kontrol adalah 63 cm. Tinggi rata-rata dikotomus tanaman M2 kelompok 1 dan 2 40 cm dan 31 cm sedangkan pada tanaman kontrol 20 cm. Jumlah percabangan tanaman M2 kelompok 1 dan 2 cenderung lebih banyak (2-5) dari tanaman induknya (3). Demikian pula dengan waktu masa panen cenderung lebih lama yaitu 30-60 hari pada kelompok 1 jika di bandingkan dengan tanaman kontrol. Selain itu penampilan daun tidak menunjukkan adanya variasi morfologi. Pengukuran terhadap buah dari hasil tanaman galur cabai mutan (M2) menunjukkan adanya perbedaan terutama pada berat buah. Tanaman mutan (M2) kelompok 1 cenderung menghasilkan buah lebih banyak dan lebih besar dibandingkan tanaman mutan (M2) kelompok 2. kelompok 1 yang memiliki respon tahan dan produksinya lebih tinggi ada sebanyak 8 galur sedangkan Kelompok 2 sebanyak 20 galur adalah respon tahan terhadap ChiVMV tetapi produksinya rendah. Data ini merupakan sumber informasi untuk melihat ke strabilan sifat fenotpik pada mutan selanjutnya Info Lengkap
33 2011 Hasil benih hibrida jagung adaptif N rendah. No. Hibrida Berat benih (gram) Inbrida tetua Jantan Inbrida tetua Betina 1 Arc-12-1-3-2-1-1-xb P4G19(S)C2-114-3-1-1 1140 2 Arc 178-1-4-1-1-2-2-xb3 P4G19(S)C2-59-3-3-1-3 540 3 Arc 178-1-4-1-5-2-1-xb3 Arc 178-1-4-1-1-2-2-xb3 705 4 Arc 178-1-4-1-1-2-2-xb3 P4S3-29-4-4-1 420 5 P4G19(S)C2-59-3-3-1-3 Arc 27-6-6-1-3-2-xb3 735 6 P4S3-29-4-4-1 P4G12-19-2-2-3-xb3 0 7 Arc 178-1-4-1-1-2-2-xb3 Arc 178-1-4-1-5-2-1-xb3 1260 8 P4G19(S) C2-47-2-1-1 P4G19(S) C2-59-3-3-1-3 420 9 P4G12-19-2-2-3-xb3 Arc 178-1-4-1-5-2-1-xb3 1290 10 Arc 27-6-6-1-3-2-xb3 Arc 178-1-4-1-1-2-2-xb3 495 Hibrida persilangan dari inbrida berasal dari populasi varetas Arjuna dan Pool Hibrida adaptif pupuk rendah Info Lengkap
34 2011 Persilangan inbrida dari populasi Aerjuna dan Pool adaptif N rendah Hibrida jagung persilangan inbrida adaptif pupuk rendah Hibrida jagung adaptif pupuk rendah Info Lengkap
35 2010 Inbrida dari populasi varietas Arjuna dan Pool Inbrida berasal dari populasi varitas Arjuna dan Pool Adaptasi pupuk rendah Info Lengkap
36 2010 Hibrida adaptif pupuk rendah Hibrida persilangan inbrida adaptif pupuk rendah Hibrida jagung adaptif pupuk rendah Info Lengkap
37 2010 Inbrida jagung adaptif pupuk rendah Benih inbrida jagung adaptif pupuk rendah Adaptif pupuk rendah Info Lengkap
38 2010 Transformasi jagung galur Ult:cm.1# dan ARC 178-123-112-XB3 dengan gen CsNtr1-L Transformasi jagung galur Ult:cm.1# dengan gen CsNtr1-L melalui penembakan partikel , kalus yang diregenerasi menghasilkan 80 kalus dengan spot hijau dan 24 planlet. Sedangkan eksplan embrio muda galur ARC 178-123-112-XB3 telah ditransformasi dan diregenerasi, diperoleh 3 kalus dengan spot hijau dan 1 planlet. Efisien N Info Lengkap
39 2011 Inbrida dari populasi Arjuna dan pool Inbrida dari populasi Arjuna dan pool adaptif pupuk rendah Inbrida adaptif pupuk rendah Info Lengkap
40 2011 transgenik putatif tanaman jagung mengandung gen CsNitr-1 Tanaman jagung efisien pupuk N hasil transformasi gen CsNitr-1. Tanaman jagung efisien pupuk N Info Lengkap
41 2012 Dioscorea alata, Dioscorea esculenta dan Dioscorea hispida di BB Biogen memiliki kadar abu, air, protein, karbohidrat, serat kasar, pati, HCN, polifenol, polifenol dan diosgenin yang bervariasi. Nilai rata-rata karakteristik kimia dari 3 spesies Dioscorea untuk Sampel Air (%); Abu (%); dan Serat kasar (%) : D. alata aksesi 535 adalah 7,22 ; 3,3 ; 2,42. Untuk D. hispida aksesi 566 adalah: 5,65 ; 3.80 ; 3,47 . Untuk D.esculenta aksesi UTBM 6,65 ; 2,41 ; 1,61. Nilai rata-rata kandungan nutrisi tepung 3 spesies Dioscorea Protein (%); Karbohidrat (%); Pati (%); dan HCN (ppm) adalah 1. D. alata aksesi 535 10,61 ; 78,18 ; 74,77 ; dan 11,033. D. hispida aksesi 566: 6,52 ; 81,55 ; 77,40 ; dan 30,64. D.esculenta aksesi UTBM : 5,06 ; 84,81 ; 80,56 ; dan 11,08. Kandungan (Polifenol (%) dan Diosgenin (%) untuk . D. alata aksesi 535: 1,39 dan 0,53. Untuk D. hispida aksesi 566 : 0,81 dan 0,575. Untuk D. esculenta UTBM 23,11 dan 0,16 1. Kandungan gizi yang terkandung didalam Dioscorea tidak jauh berbeda dengan sumber pangan utama lainnya sehingga dapat dimanfaatkan pula sebagai bahan pangan. 2. Dioscorea memberikan nilai fungsional karena kandungan diosgenin dan polifenol yang dimilikinya. Info Lengkap
42 2011 aksesi B.bassiana aksesi Metarhizium anisopliae aksesi Hirstella citriformis aksesi Cordycep sp aksesi Seratia marcescesn Entomopatogen diisolasi dari serangga wereng coklat,walang sangit dan uret dari beberapa daerah di Indonesia isolat BB200109 penghasil kitinase isolat S. marcescens penghasil prodigiosin dan efektif terhadap wereng coklat Info Lengkap
43 2013 Data karakter agronomis dari galur mutan pisang terseleksi Karakter agronomis dari galur mutan somaklon pisang Ambon Kuning yang toleran terhadap penyakit layu _______________________________________________________________________ Rataan Rataan No. Galur Berat Tandan (Kg) Jml Sisir Berat per Sisir (Kg) Jumlah Buah Generasi _______________________________________________________________________ 1 PM9-1 22,26 8 2695,0 (799,3) 16,00 (1,20) MV2 2 PM2-5 11,36 7 1425,0 (700,4) 12,13 (1,68) MV2 3 PM9-2 9,35 5 1810,0 (495,0) 11,80 (1,09) MV2 4 PM13-1 8,55 5 1606,0 (431,0) 13,60 (0,89) MV2 5 PM17-1 9,83 6 1501,7 (393,9) 12,83 (0,98) MV2 6 PM13-2 7,6 6 1233,3 (307,4) 12,17 (1,47) MV2 7 PMK-2 17,78 8 2160,0 (657,0) 15,50 (2,00) MV2 8 PM1-1 12,8 8 1523,7 (418,1) 12,75 (2,43) MV2 9 PM7-1 18 8 2168,7 (533,9) 15,13 (1,36) MV2 10 PM3-3 14,83 8 1826,2 (572,3) 15,63 (1,41) MV2 11 PM2-1 8,83 6 1453,3 (535,6) 13,00 (0,89) MV2 12 PM18-1 10,76 7 1537,1 (461,8) 12,57 (1,62) MV2 ________________________________________________________________________ Tanaman toleran terhadap penyakit layu Info Lengkap
44 2010 Aksesi patogen no 1 hingga 50 aksesi aksesi patogen tanaman pangan (bakteri dan jamur) koleksi patogen telah terejuvenasi Info Lengkap
45 2013 Data keragaman plasma nutfah kedelai Dari 100 galur yang diuji terdapat 14 galur tahan kekeringan di sulse Produkstivtas lebih tinggi dibanding tetuanya Info Lengkap
46 2013 1. Dua galur menunjukkan tahan Ras 123 : IPBM-32-1-3-1 dan IPBM-32-1-3-3. Kedua galur tersebut terdeteksi memiliki alel gen Pib, Pi1, dan Pir7 menggunakan marka RM166, RM224, dan PiSNP7. 2. Duapuluhsatu galur tahan Ras 133 : IPBM-32-1-3-1, IPBM-32-1-3-2, BMIP-15-4-2-1, BMIP-18-4-4-2, BMIP-20-4-2-1, BMIP-24-4-3-1, BMIP-20-4-3-2, BMIP-24-1-2-1, BMIP-24-1-4-1, BMIP-24-1-4-2, BMIP-40-2-1-1, BMIP-40-2-1-2, BMIP-44-4-3-1, BMIP-20-2-1-1-2, IPBM-32-2-1-1-1, IPBM-32-2-1-1-2, IPBM-32-2-1-1-3, IPBM-32-2-1-1-4, BMIP-24-1-1-1-1, BMIP-24-1-1-1-2, BMIP-24-1-1-1-3. Kedua puluh satu galur tersebut terdeteksi memiliki gen Pi1 dan Pir7 menggunakan marka RM224 dan PiSNP7 yang berkontribusi membentuk ketahanan terhadap ras 133. 3. Dua galur tahan ras 173 : BMIP-15-4-2-1 dan BMIP-24-1-4-1 berdasarkan Hayashi et al. (2009), IPBM-32-1-3-2 dan BMIP-15-4-2-1 berdasarkan IRRI (1996). Galur-galur dengan kode BMIP, adalah hasil silang ganda antara Bio110/Markuti // IR54/Parekaligolara. Sedangkan galur-galur IPBM adalah hasil silang ganda antara IR54/Parekaligolara // Bio110/Markuti. Nomor kode setelah tanda hubung pertama menunjukkan nomor kalus, nomor kode setelah tanda hubung kedua menunjukkan nomor seleksi pada tanaman hijau, dan nomor kode setelah tanda hubung ketiga dan seterusnya menunjukkan tahap seleksi tanaman yang sudah dilakukan berdasarkan penampilan agronomi. Galur dengan kode genotipe BMIP 24 dan BMIP 40 tahan terhadap 3 ras yang termasuk virulensi tinggi, yaitu Ras 123, Ras133 dan Ras173. Disamping tahan terhadap blas daun (pada fase awal / vegetatif stage), galur-galur ini juga bersifat tahan terhadap blas leher malai (neck blast) yang menyerang pada fase akhir (generatif stage). Info Lengkap
47 2010 Katalog plasma nutfah tanaman pangan yang diperbaharui Katalog karakter fenotipik plasma nutfah tanaman pangan yang terbarui Data lebih lengkap Info Lengkap
48 2012 Wereng batang coklat JWDL Wereng batang coklat ini dikoleksi dari desa Juwiring, kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 Wereng batang coklat ini cukup virulen dapat digunakan untuk menguji ketahanan galur atau varietas padi Info Lengkap
49 2011 aksesi mikroba (endofitik dan patogen) Koleksi mikroba hasil rejuvenasi dan karakteristiknya 10 isolat endofitik bakteri terujenasi dengan karakter menghambat patogen tanaman dan penghasil kitinase 20 isolat hasil rejuvenasi dan pengkayaan koleksi telah diuji aktivitas kitinase dan glukanase 49 isolat hasil rejuvenasi dan pengkayaan koleksi telah diuji aktivitas fitohormonnya (IAA) 22 aksesi isolat Xoo telah direjuvenasi dan 10 isolat dikarakterisasi pada 3 NILs padi 32 aksesi jamur blas (P.oryzae) telah direjuvenasi dan dikarakterisasi dengan gen penyandi virulensi 2 isolat (E65 dan E76) telah diidentifikasi sebagai B firmus dan Burkholderia cepacia yang efektif terhadap patogen padi Beberapa aksesi efektif terhadap jamur blas dan Ganoderma beberapa aksesi mempunyai aktivitas IAA terdapat 2 isolat XOO yang dapat mematahkan ketahanan Xa7, xa5 dan Xa21 Karakterisasi aksesi P.oryzae ditemukan haplotipe gen PW12 , Cut1 dan Erg2. Info Lengkap
50 2011 database mikroba database meliputi aksesi bakteri,jamur dan virus data mengacu pada database yang telah ada (tanaman) Info Lengkap
51 2011 database serangga tambahan data serangga keterangan tentang karakter serangga Info Lengkap
52 2012 1 aksesi entomopatogen 51 aksesi bakteri 15 aksesi patogen bakteri 12 aksesi patogen jamur 3 akesi virus isolat terejuvenasi dan terkarakterisasi 2 isolat bakteri menghasilkan kitinase (PBR3b dan C33C) 1 isolat BB200109 menghasilkan karakter enzim kitinase stabil 1 isolat bakteri !!UJ teridentifikasi sebagai B cereus pebghasil enzim kitinase optimal 6 isolat bakteri penghasil antipatogen Beberapa isolat rhizosfer dan filosfer asal Bali yang potensil sebagai antifungi dan penghasil kitinolitik enzim Isolat patogen bakteri Xoo yang telah dikarakterisasi pada galur isogenik NILS Info Lengkap
53 2012 jamur, bakteri dan virus terejuvenasi patogen koleksi hasil rejuvenasi: 15 aksesi bakteri Xoo 12 aksesi jamur PO 3 aksesi virus tanaman untuk pemanfaaujian dalam pengujian skrining tanaman terhadap ketahanan penyakit Info Lengkap
54 2012 database mikroba tambahan prootipe database mkroba model database telah diperbaiki Info Lengkap
55 2012 tambahan database aksesi serangga database serangga model dalam format Xcell Info Lengkap
56 2012 aksesi patogen bakteri Xoo daftar aksesi isolat bakteri Xoo koleksi Siti Yuriah belum dikarakterisasi Info Lengkap
57 2013 aksesi mikroba 24 aksesi entomopatogen 74 aksesi bakteri hasil pengkayaan 23 aksesi bakteri hasil rejuvenasi terkarakterisasi 15 aksesi bakteri patogen terkarakterisasi 17 aksesi bakteri menghasilkan IAA dan 3 isolat diidentifikasi dalam genus Bacilus sp 6 aksesi bakteri menghasilkan enzim kitinase dan asilkan senyawa metabolt daya antifungi 1 aksesi antifungi menghasilkan senyawa metabolit Info Lengkap
58 2010 isolat agen biokontrol aksesi C32a aksesi C32b aksesi C29D aksesi E31 aksesi E65 mempunyi daya antifungal terhadap blas dan hawar pelepah daun isolat telah diidentifikasi Info Lengkap
59 2010 isolat lignoseluloliti aksesi jamur lignoseluloliti isolat telah diidentifikasi Info Lengkap
60 2010 isolat BFA isolat BFA terkarakterisasi bersifat biofertilizer Info Lengkap
61 2010 database mikroba tanbahan database mikroba dengan aksesi bakteri Xoo dapat digunakan untuk tujuan skrining ketahanan Info Lengkap
62 2010 database serangga tambahan database aksesi serangga sebagai bahan referensi Info Lengkap
63 2011 IR58025A, IR62829A, IR68897A, Bio-R68, Bio-R88, Bio-R69, Bio-R92-1,Bio-R71, Bio-R92-2, Bio-R81, Bio-R93-1, Bio-R82-1, Bio-R93-2, Bio-R82-2, Bio-R95, Bio-R84-1, Bio-R100, Bio-R84-2, Bio-R113, Bio-R85-1, Bio-R120, Bio-R85-2, Bio-R121 Galur A (3 jenis): galur mandul jantan dari IRRI Galur Bio-R: galur restorer (R) atau pemulih kesuburan Galur A: merupakan galur GMJ yang sudah menghasilkan padi hibrida berdaya hasil tinggi Galur Bio-R: galur pemulih kesuburan GMJ yang mengandung gen ketahanan terhadap penyakit HDB, yaitu gen xa7.Semua galur Bio-R mempunyai umur yang genjah (<105 HSS) Info Lengkap
64 2011 25A/BioR71, 29A/BioR68, 29A/BioR69, 29A/BioR88, 29A/BioR95, 29A/BioR100, 29A/BioR120, 97A/BioR-81, 97A/BioR121, BI485A/BP1 Hasil persilangan galur A (mandul jantan) dengan galur R (pemulih kesuburan) yang terpilih berdasarkan uji heterosis. - Info Lengkap
65 2011 IR58025A/Bio-R71,IR62829A/Bio-R68,IR62829A/Bio-R69,IR62829A/Bio-R88,IR62829A/Bio-R100,IR62829A/Bio-R120,IR68897A/Bio-R81,IR68897A/Bio-R121,BI485A/BP1 Galur hibrida (hybrid lines) merupakan persilangan GMJ (galur A) dari IRRI dengan galur R (galur pemulih kesuburan) yang mempunyai heterosis tinggi Semua galur hibrida (hybrid lines) tersebut mempunyai umur panen yang genjah yaitu 95- 100 HSS. Hibrida IR58025A/Bio-R71, IR62829A/Bio-R68, IR62829A/Bio-R69, IR62829A/Bio-R100, IR62829A/Bio-R120, IR68897A/Bio-R121, dari UDHP mempunyai kisaran hasil 6,76-7,57 t/ha dan lebih tinggi dibandingkan Ciherang (6,31 t/ha). Info Lengkap
66 2012 Satu unit koleksi plasma nutfah padi, jagung, sorgum, gandum, dan kacang-kacangan, yang termonitor viabilitas dan kesehatan benihnya dengan baik. Koleksi plasma nutfah padi, jagung, sorgum, gandum, dan kacang-kacangan, yang termonitor viabilitas benihnya (daya kecambah), kesehatan benih (hama gudang, jamur, virus) dengan baik. Koleksi benih dengan daya kecambah tinggi, bebas hama dan penyakit dan dalam jumlah yang memadai, dimana sewaktu-waktu dapat digunakan oleh pengguna Info Lengkap
67 2013 1.Ciherang/O Punctata 2.Inpari 13/O Punctata 13 tanaman hasil persilangan antara Ciherang/O punctata tinggi rata-rata 33 cm dan jumlah anakan 24 2 tanaman hasil persialngan antara Inpari 13/O punctata tinggi rata-rata 33 cm dan jumlah anakan 23 F1 hasil persilangan antara padi budidaya Inpari 13 dan Ciherang dengan O punctata diharapkan menngandung gen untuk sifat unggul dari padi budidaya seperti produksi tinggi serta ketahanan penyakit wereng coklat dari padi liar O punctata. Sifat unggul tersebut diharapkan dipertahankan pada tanaman hasil persilangan selanjutnya untuk mendapatkan padi budidaya dengan sifat unggul dari padi liar O punctata Info Lengkap
68 2011 Naxos-407 (N-407), Perdix-2-1 (P2-1), Fasan-2-2 (F2-2), Fasan-2-3 (F2-3), A-H012, B-H012, C-H012, X-H012,Y-H012, Z-H012 10 galur transforman gandum ini merupakan hasil transformasi gen OsDREB1A menggunakan metode Agrobacterium tumesaciens dan penembakan partikel. Gen OsDREB1A telah diketahui mempunyai toleransi ketahanan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. 10 galur transforman gandum toleran terhadap kekeringan Info Lengkap
69 2012 Ch/Swar, Ch/IR, Ch/BRM, Ch/BBT, Plt/Swar, Plt/IR, PLT/BRM, PLT/BBT, Mkg/Swar, Mkg/IR, Mkg/BRM, Mkg/BBT, Memb/Swar, Memb/IR, Memb/BRM, Memb/BBT. Merupakan pasangan-pasangan persilangan yang sudah teridentifikasi ketahanannya terhadap WBC Dapat digunakan sebagai tetua persilangan untuk membuat varietas baru ataupun galur tahan WBC Info Lengkap
70 2013 Konstruk gen toleran panas (CSP) di dalam vektor eksprsi Gen csp disisipkan diantara promotor Ubiquitin dan terminator Nos, sehingga diharapkan gen Lc-csp dapat dengan mudah terekspresikan di tanaman target. Vektor biner pCambia 1300 ini juga membawa gen higromisin sebagai gen penanda seleksi antibiotik. Konstruk ini dapat digunakan untuk mentransfromasi tanaman untuk mendapatkan Produk Rekayasa Genetik toleran panas Info Lengkap
71 2012 Persen primer polimorfis Merupakan angka yang menunjukkan besarnya tingkat polimorfisme primer yang diuji pada seluruh macam kombinasi persilangan kombinasi persilangan dengan angka persentase polimorfisme primer yang semakin besar, semakin baik untuk digunakan dalam program pemuliaaan seperti pemetaan gen atau perbaikan karakter dengan bantuan marka Info Lengkap
72 2012 F1CH/BBT, F1CH/IR, F1CH/RH, F1CH/PTB, F1CH/Swar, F1CHS1/BBT, F1CHS1/IR, F1CHS1/PTB, F1CH/Swar, F1Mkg/BBT, F1Mkg/IR, F1Mkg/PTB, F1Mkg/Swar, F1INP/BBT, F1INP/IR, F1INP/RH, F1INP/Swar Merupakan benih keturunan pertama (F1) dari 17 macam persilangan antara varietas rentan dengan varietas tahan WBC Benih tersebut dapat digunakan dalam program perbaikan karakter tanaman melalui metode silang-balik ataupun piramiding Info Lengkap
73 2011 Data katalog plasma nutfah hasil karakterisasi dan evaluasi yang sudah terbarui Data karakter morfoagronomi, data ketahanan terhadap faktor abiotik dan biotik utama Data katalog karakter morfoagronomi, data ketahanan terhadap faktor abiotik dan biotik utama yang terbarui dan dapat diakses dan digunakan oleh pengguna Info Lengkap
74 2013 BC1F1PLT/RH, BC1F1PLT/SWAR BC1F1PLT/RH diperoleh dari F1 persilangan antara PelitaI-1 dengan Rathu Heenati yang disilang-balik dengan Pelita I-1, BC1F1PLT/SWAR diperoleh dari F1persilangan antara Pelita I-1 dengan Swarnalata yang disilang-balik dengan Pelita I-1. Benih BC1F1PLT/RH dapat digunakan untuk pembuatan galur isogenik (Near Isogenic Line) tahan WBC gen Bph3, Benih BC1F1PLT/SWAR dapat digunakan untuk pembuatan galur isogenik (Near Isogenic Line) tahan WBC gen Bph6 Info Lengkap
75 2013 RM589-RM190-Bph3, RM5742-RM6997-Bph6 RM589-RM6997-Bph3: merupakan marka SSR yang terpaut dengan gen Bph3 dengan jarak 35,7 cM dan 41,3 CM telah dicek pada popuasi F2 pesilangan PelitaI-1 dengan Rathu Heenati. RM5742-RM6997-Bph6: merupakan marka SSR yang terpaut dengan gen Bph6 dengan jarak 18,2 dan 32,0 cM telah dicek pada populasi F2 persilangan Pelita I-1 dengan Swarnalata. RM589-RM6997-Bph3: dapat digunakan untuk seleksi karakter ketahanan tanaman padi terhadap WBC gen Bph3. RM5742-RM6997-Bph6: dapat digunakan untuk seleksi karakter ketahanan tanaman padi terhadap WBC gen Bph6. Info Lengkap
76 2013 Set marka virulensi WBC 38 marka SSR polimorfik untuk populasi lapang dan biotipe WBC (BM8, BM25, BM68, BM76, BM140, BM194, BM246, BM265, BM298, BM339, BM347, BM350, BM375, BM395, BM432, BM435, BM499, BM1262, BM1277, BPH06, BPH07, BPH09, DB39391, DB845048, DB846024, NLES11, NLES15, NLES18, NLES2, NLES22, NLES24, NLES30, NLES33, NLES34, NLES35, NLES49, NLES6, NLES8) Dapat mendeteksi tingkat keragaman genetik suatu populasi WBC Info Lengkap
77 2013 CS-BC2F1 Benih hasil silang balik kedua Ciherang dengan Swarnalata dimana Ciherang sebagai tetua resipien Sebagian benih membawa alel gen Bph6 yang tahan terhadap populasi WBC lapang paling virulen yang dikoleksi BB-Biogen Info Lengkap
78 2012 Database plasma nutfah pertanian yang terbarui Data base plasma nutfah pertanian yang berisikan dat karakter morfoagronomi yang setiap tahun diperbaharui datanya Mudah diakses Info Lengkap
79 2013 100 planlet hasil mutasi kalus embrionik dari galur F7-F8 persilangan Ked.Cinax Ked Jepang serta galur Mutan Baluran dan Burangrang 100 planlet hasil mutasi kalus embrionik dari galur F7-F8 persilangan Ked.Cinax Ked Jepang serta galur Mutan Baluran dan Burangrang untuk di tanam atau diaklimatasi di rumah kaca. Bahan genetik untuk perbaikan terhadap umur dan produktivitas Info Lengkap
80 2013 Pemuliaan Mutasi untuk Perbaikan terhadap Umur dan Produktivitas pada Kedelai Junrnal Agrobiogen vol 3 no 9 tahun 2013 Terakreditasi Info Lengkap
81 2010 isolat biofertilizer isolat azospirilum,isolat azotobacter sebagai agen hayati untuk pemacu pertumbuhan Info Lengkap
82 2013 Ekpresi insektisidal gen TCd dari Serratia marcescens Gen Tcd yang diisolasi dari Serratia marcescens merupakan gen penghasil protein insetisidal yang toksik terhadap beberapa jenis serangga melalui mekanisme oral. Ekpsresi gen TCd telah dilakukan pada vektor pET32-b dengan inangnya DE3-Origami. Protein berukuran sekitar 60 kDa terekspresi dengan baik dalam sistem pET. Hasil uji toksisitas protein yang dihasilkan menunjukkan toksisitas cukup tinggi terhadap serangga Tenebrio molitor yang diuji melalui pakan buatan. Toksisitas toksin Tcd dapat menjadi pengganti endotoksin yang dhasilkan oleh Bacillus thuringiensis. Penggabungan kedua toksis dapat mengatasi permasalahan resistensi yang selama ini sudah muncul terhadap endotoksin Cry dari B. thuringiensis. Info Lengkap
83 2010 Galur somaklon kedelai asal verietas Baluran, Burangrang, Wilis, dan Grobogan hasil perlakuan mutasi dengan iradiasi sinar gamma dan EMS. Galur-galur somaklon yang dihasilkan mempunyai struktur dan warna daun serta sistim percabangan yang berbeda dengan tetuanya. Daun dari galur somaklon ada yang berwarna hijau tua atau hijau muda, serta ada beberapa galur yang mempunyai bentuk daun lebih lebar dari tetuanya. Perbedaan struktur, warna daun atau bentuk percabangan menunjukkan terjadinya perubahan pada genom tanaman yang disebabkan oleh per\mberian mutagen fisik (sinar gamma) atau kimia (EMS). Info Lengkap
84 2013 Galur mutan somaklon gandum hasil iradiasi sinar gamma. Pertumbuhan galur-galur mutan somaklon di Sukabumi : Galur mutan somaklon asal varietas Alibey (AB) sebagian besar mempunyai jumlah biji lebih banyak dan bobot per biji yang lebih besar dibandingkan dengan Alibey (tetua), sedangkan galurasal HP 1744 tidak dapat menghasilkan biji. Varietas Selayar (kontrol) tidak ada tanaman yang tumbuh, sedangkan galur-galur mutan somaklon asal Selayar walaupun dapat tumbuh dan menghasilkan biji, akan tetapi biji yang terbentuk hampa. Pertumbuhan galur-galur mutan somaklon di Bogor : Persentase tumbuh terendah diperoleh dari varietas tetua (kontrol) yaitu HP 1744 dan Selayar. HP 1744 (tetua) ada yang tidak dapat tumbuh, sedangkan tanaman yang tumbuh dapat membentuk biji akan tetapi biji yang dihasilkan hampa. Galur-galur somaklon asal Alibey mempunyai umur berbunga yang lebih cepat dibanding dengan tetuanya, jumlah biji dan bobot bijinya lebih tinggi. Galur-galur somaklon turunan Rabe lebih cepat berbunga dibanding tetuanya, tetapi jumlah bijinya lebih banyak dan bobot per bijinya lebih besar. Galur somaklon asal Selayar menghasilkan bobot/biji paling kecil. Galur-galur mutan somaklon yang tumbuh lebih baik dan menghasilkan biji lebih banyak dibanding tetuanya, diharapkan mempunyai daya adaptasi yang lebih baik di daerah tropis. Info Lengkap
85 2013 Jarak genetik antara kambing gembrong dengan Alpine, Kosta dan PE Genebank Alpine Kosta PE Genebank Alpine 0.030 Kosta 0.031 0.004 PE 0.031 0.008 0.011 Gembrong 0.030 0.000 0.004 0.008 Jarak genetik secara molekuler Info Lengkap
86 2013 Jenis leguminosa : Acacia leucophala Alysicarpus ovalifolius Alysicarpus vaginalis Asynomene grarisae Indigofera sp Macroptilium latitoides Macroptilium triloba Jenis Rumput: Cenrus acinaka Cyperus sp Paspalum sp Timeda traden Adaptif iklim kering NTT Tanaman pakan ternak Info Lengkap
87 2013 TanamanRumput : Cencrus cicinaka Timeda triaden Cyperus sp Paspalum sp Heteropogon sp Heteropogon contortus Paseolus sp Hukulkuna Rumput Mazi TanamanLeguminosa Acacia leucoploa Alysicarpus vaginalis Alysicarpus ovalifolius Asinomene grarisae Indogopera sp Macroptilium triloba Macroptilium latitoides Flemingia sp Stylosanthes hamata Stylosanthes scabra hasil analisa kandungan nilai nutrisinya cukup beragam yang merupakan wujud dari Tanaman pakan ternak namun kalau dilihat sumber protein yang cukup baik terdapat pada jenis leguminosa dibandingkan dengan jenis rumput, suatu padang pengembalaan yang mempunyai keanekaragaman jenis cukup banyak terutama jenis leguminosa merupkan padang pengembalaan yang cukup baik hal ini dikarenakan jenis leguminosa sebagai sumber kandungan protein baik dan mudah dicerna cocok untuk ternak ruminansia, walaupun jenis rumput rumputan merupakan hijauan utama yang mendominasi padang pengembalaan, namun peran jenis leguminosa sangat strategis pada agroekosistem tertentu, terutama di daerah tropis Hasil Analisa nutrisi tanaman hijauan pakan ternak dari ekplorasi di Nusa tengara Timur terlihat yang mempunyai kandungan nutrisi yang cukup baik adalah sebagai berikut untuk kandungan protein kasar ;Paspalum sp , Lemak : Paseolus sp, Seart kasar : Heteripogon contortus, Abu dan Ca : Cyperus sp dan Pospot ; Paspalum sp sedangkan untuk tanaman leguminosa sebagai berikut Protein kasar ; Indigofera sp, lemak ; Acacia leucophala, Serat kasar Flemingia sp, Abu ; Alysicarpus ovalifolius, Ca ; Macroptilium latitoides, dan Pospat Acacia leucohala. Info Lengkap
88 2010 Set data untuk sifat produktivitas tinggi, umur genjah dan toleran kekeringan Satu set data terkait karakter produktivitas tinggi dari galur-galur padi penanda aktivasi cv. Asemenadi, satu set data terkait karakter umur genjah dari galur-galur padi penanda aktivasi cv. Asemandi dan satu set data untuk karakter toleran kekeringan dari galur-galur padi penanda aktivasi cv. T309 Satu set data terkait karakter produktivitas tinggi umur genjah dan toleran kekeringan dari galur-galur padi penanda aktivasi dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengkloning gen-gen penting untuk pertanian Info Lengkap
89 2013 www.bbsdlp.litbang.deptan.go.id/sdgp/sdgp2 peta sebar SDG padi dan ubi-ubian yang dikoleksi secara ex-situ di BB Biogen dengan asal aksesi seluruh provinsi di Indonesia Dalam peta sebar SDG berbasis Web-GIS ini, pengguna dapat mengakses informasi mengenai sebaran SDG di Indonesia secara on-farm/lekat-lahan dan secara ex-situ. Informasi utama terkait dengan karakter penting dari SDG yang dimaksud juga dapat diakses dan difilter menurut kriteria tertentu Info Lengkap
90 2013 Inventarisasi SDG Hasil inventarisasi SDG tanaman yang telah dilakukan oleh setiap BPTP Propinsi dikelompokkan ke dalam tanaman pangan mencakup tanaman serealia (padi, jagung, sorgum dan lainnya), kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah, dan lainnya), dan ubi-ubian (ubijalar, ubikayu, talas, dan lainnya). Tanaman hortikultura dikelompokkan ke dalam tanaman buah, sayuran dan tanaman hias, sedangkan tanaman industri dikelompokkan ke dalam tanaman perkebunan dan rempah dan termasuk herbal. Tanaman yang diambil kayunya untuk bangunan dikategorikan sebagai tanaman kehutanan, sedangkan tanaman yang dimanfaatkan untuk pakan ternak sebagai kelompok tanaman pakan ternak. hasil inventarisasi SDG pertanian yang telah dilakukan diperoleh total 23.394 aksesi Info Lengkap
91 2013 Karakterisasi plasma nutfah kopi karakterisasi terhadap 15 aksesi plasma nutfah kopi arabica dan 15 aksesi kopi robusta, karakter yang diamati diantaranya tinggi tanaman, diameter batang, bentuk daun, warna daun tua dan muda; tepi, ujung, pangkal, dan permukaan daun; panjang dan lebar daun, panjang tangkai daun, jumlah cabang; jumlah dompol, jumlah buah/dompol, jarak antar dompol, warna buah muda dan buah tua, bobot 100 biji, serta diameter tajuk. Jumlah dompol, jumlah buah/dompol, dan jarak antar dompol serta warna daun muda diantara aksesi yang diamati cukup beragam. Info Lengkap
92 2013 tiga jenis ayam lokal telah berhasil dikonservasi melalui kriopreservasi PGC. Ketiga jenis ayam lokal tersebut adalah ayam Kedu Hitam dari kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, ayam Kokok Balenggek dari Kabupaten Solok, Sumatera Barat dan ayam Murung Panggang dari Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, Ayam kedu hitam:Warna bulu hitam berkilau secara fisik kelihatan serba hitam, akan tetapi bila diamati bulu hias jantannya ada yang kuning emas kemerahan atau berkilat kehijauan. Paruh, kulit, dan ceker berwarna hitam, jengger dan pial berwarna merah ada juga kehitaman. Lidah, tenggorokan dan telak (langit-langit mulut) berwarna putih kemerahan. Bobot badan dewasa jantan 2,1 kg dan betina 1,3 kg. Ayam Kokok Balenggek: berasal dari ayam Kinantan yang awalnya berwarna putih ayam. Ayam Kinantan memiliki suara yang bertingkat tingkat atau dengan bahasa setempat disebut kokok balenggek. Di desa tersebut terjadi persilangan dengan ayam kampung yang ada. Ada tiga jenis ayam kampung yang ada di desa tersebut yaitu ayam kampung Cantung Gombak Bauk, Ratih, Batu. Ayam Murung Panggang atau ayam Kaldu, ayam Padang atau ayam Belahan berasal dari Desa Murung Panggang Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan Umur pertama bertelur 6,5 bulan dan terus mereka tetaskan telurnya. Hasil penetasan telur, DOC memiliki warna bulu hitam, putih, abu-abu dan campuran antara hitam, putih dan abu-abu. Berdasarkan seleksi yang dilakukan yang memelihara dengan pertimbangann bahwa warna bulu hitam yang lebih laku di pasaran, maka ayam murung panggang diseleksi yang dominan warna hitam, walaupun sebagian kecil ada yang memiliki warna bulu abu-abu, dengan bobot badan dewasa 1,5-2 kg/ekor. Keunggulan yang dimiliki ayam Murung Panggang adalah ayam dwiguna, yakni penghasil daging dan telur produktif. Info Lengkap
93 2013 Konservasi plasma nutfah unggas dalam bentuk PGC penyuntikan PGC segar baru menghasilkan 1 embrio yang menetas dari 26 embrio yang ditransfer Pembentukan chimera ayam lokal dengan cara transfer PGC adalah salah satu teknik yang efektif untuk preservasi dan regenerasi sumber genetik pada ayam Info Lengkap
94 2013 Benih Inpari Blas dan Inpari HDB Jumlah hasil perbanyakan dari varietas Inpari HDB dan Inpari Blas dari lokasi Subang dan Kuningan masing-masing 455 kilogram dan 390 kilogram Varietas padi sawah tahan penyakit blas dan HDB Info Lengkap
95 2013 database plasma nutfah mikroba pertanian Untuk plasma nutfah mikroba, sampai saat ini database plasma nutfah mikroba pertanian telah menampung sebanyak 1.404 record, yang meliputi: bakteri 1.259 aksesi, fungi 98 aksesi dan virus 48 aksesi. Informasi dapat diakses dengan cepat Info Lengkap
96 2013 Database plasma nutfah Editing dan pembaharuan data pada komoditas padi, jagung, kedelai, kacang tanah, ubijalar dan talas telah dilakukan dan dokumentasi foto keragaman morfologis plasma nutfah sorgum (204 aksesi) dan kedelai 412 aksesi. Informasi dapat diakses dengan cepat Info Lengkap
97 2010 Informasi data molekuler masing-masing 4 galur BC2F1 hasil persilangan dengan Ciherang dan 9 galur BC2F1 hasil persilangan dengan Situ Bagendit. Telah diperoleh data analisis molekuler terhadap 4 galur BC2F1 hasil persilangan dengan Ciherang dan 9 galur BC2F1 hasil persilangan dengan Situ Bagendit menggunakan primer gen CsNitr1-L dan Pup1. Telah diperoleh galur BC2F1 hasil persilangan dengan Ciherang dan Situ Bagendit yang positif mengandung gen CsNitr1-L dan Pup1 berdasarkan analisis molekuler. Info Lengkap
98 2012 Informasi molekuler BC4F1-Ciherang, BC4F1-Situ Bagendit, BC5F1-Ciherang, dan BC5F1-Situ Bagendit. Galur-galur BC4F1-Ciherang, BC4F1-Situ Bagendit, BC5F1-Ciherang dan BC5F1-Ciherang yang disilangkan telah diseleksi secara molekuler. Untuk sifat efisiensi terhadap pupuk Nitrogen, digunakan marka untuk gen HptII dan CsNtr1-L, sedangkan untuk Pup1 digunakan marka Kas30n_1 dan Kas19_C2. Tanaman yang dipilih yang positif terhadap dua sifat tersebut. Tabulasi hasil analisis molekuler dapat dilihat pada Tabel 3, 4, 5, dan 6. Pada analisis molekuler untuk gen CsNtr1-L terlihat bervariasi pada persilangan Ciherang dan situ Bagendit, sedangkan pada analisis molekuler untuk Pup1 terlihat pada persilangan Ciherang pita yang dihasilkan bervariasi (Hetersigot dan homosigot untuk Ciherang), sedangkan pada persilangan Situ Bagendit terlihat seluruh galur mengandung pita homosigot untuk NIL-C443 atau Kasalath. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi segmen Cs pada galur persilangan masih mengalami segregasi. Pada persilangan untuk Pup1, untuk persilangan dengan Ciherang kondisi lokus Pup1 masih bervariasi karena disilangbalikkan dengan Ciherang yang tidak memiliki lokus Pup1. Pada persilangan dengan Situ Bagendit seluruh galur berada dalam kondisi homosigot lokus Pup1 karena galur yang digunakan sebelumnya disilangbalikkan dengan Situ Bagendit yang mengandung lokus Pup1 (homosigot). Terdapat galur-galur BC4F1-Ciherang, BC4F1-Situ Bagendit, BC5F1-Ciherang yang positif mengandung gen HPT, CsNitr1-L dan Pup1 berdasarkan analisis molekuler. Info Lengkap
99 2012 Informasi fenotipik galur BC3F4-Ciherang (efisien N) dan galur BC4F2- Situ Bagendit (efisien N dan toleran defisien P). (i) Uji efikasi pemupukan N BC3F4-Ciherang (+ CsNitr1-L) Seleksi terhadap kecambah yang resisten terhadap higromisin menunjukkan bahwa rata-rata kecambah yang resisten adalah diatas 90%. Pada media selektif yang sama tidak satupun kecambah dari tanaman padi varietas Ciherang non transgenik yang tumbuh (Tabel 7). Di media non selektif yang merupakan media MS0 tanpa higromisin, semua kecambah non transgenik dapat tumbuh normal (Gambar 3). Hal ini menunjukkan bahwa media selektif yang mengandung 50 mg/l higromisin mampu membedakan tanaman transgenik dari tanaman non transgenik. Tanaman yang hidup di media selektif ini diduga mengandung transgen yaitu gen hpt dan CsNitr-L. Pada tingkat pemupukan urea yang sama tanaman transgenik mempunyai tinggi yang tidak berbeda nyata dengan tanaman non transgenik (Tabel 8). Hal ini menunjukkan bahwa gen CsNitr1-L tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Hal ini dikarenakan nitrat yang merupakan sumber hara selain amonium oleh tanaman transgenik lebih di arahkan ke pengisian sink bukan ke pengisian source sehingga tinggi tanaman padi transgenik tidak berbeda dengan tanaman non transgenik. Dijelaskan oleh Gardner et al. (1991) bahwa tanaman yang memiliki karakter genotipe yang kuat tidak dapat dimodifikasi oleh pengaruh luar. Tanaman transgenik dan non transgenik pada dosis 0 dan 100 kg/ha, menghasilkan jumlah anakan tiap rumpun yang tidak berbeda, sedangkan pada dosis 50 dan 150 kg/ha G3 dan G11 menghasilkan rumpun yang paling banyak (Tabel 9). Tingginya rumpun pada G3 dan G11 kemungkinan adanya protein transporter nitrit yang berperan dalam meningkatkan proses asimilasi nitrat lebih baik dari galur transgenik lainnya. Tanaman transgenik dan non-transgenik pada pemupukan 0 dan 50 kg/ha urea cenderung memiliki bobot kering yang tidak berbeda. Pada dosis urea diatas 100 kg/ha, tanaman nontransgenik menunjukkan berat kering yang lebih tinggi (Tabel 10). Tingginya bobot kering tanaman non-transgenik sebagai akibat akumulasi asimilat yang tertahan di sumber (source) tanaman yaitu bagian vegetatif yang tidak sepenuhnya dipindahkan dengan baik oleh tanaman untuk pembentukan sink. Hal ini di jelaskan oleh Makarim dan Suhartatik (2009) bahwa sejak inisiasi malai, terjadi penumpukan asimilat namun setelah antesis bobot jerami berkurang hingga 90%. Pada tanaman transgenik bobot brangkasan kering lebih ringan dibanding tanaman nontransgenik sebagai akibat aktifitas transgen yang cukup tinggi untuk pembentukan hasil (Zhao et al., 2010). Umur berbunga tanaman transgenik pada setiap dosis pemupukan yang sama mulai dari pemupukan 0 kg/ha urea hingga 150 kg/ha urea, berbeda nyata dengan tanaman non-transgenik. Tanaman transgenik cenderung memasuki masa reproduktif lebih cepat dibandingkan dengan tanaman non-transgenik (Tabel 11). Hal ini diduga bahwa transgen mengangkut asimilat dengan cepat sehingga memacu tanaman untuk memasuki masa reproduktif lebih cepat. Gardner et al. (1991) menjelaskan bahwa tanaman akan memasuki masa reproduktif lebih cepat ketika nutrisi yang diterima sudah mencukupi untuk itu. Yao-Hong (2009) menunjukkan nutrisi akan diserap tanaman lebih tinggi pada saat memasuki masa reproduktif. Seleksi resistensi padi populasi BC3F4-Ciherang terhadap higromisin dengan konsentrasi 50 mg/ml pada media MS0 menunjukkan bahwa lebih dari 90% adalah resisten higromisin. Analisis molekuler dengan PCR menunjukkan bahwa tanaman yang resisten higromisin mengandung gen hpt. Analisis PCR terhadap tanaman transgenik galur G3, G7, G8, dan G11 yang mempunyai produksi biji tiap rumpun tertinggi untuk setiap galur menunjukkan bahwa seluruh galur mengandung trangen CsNitr1-L di bawah kendali promoter 35S CaMV. Hasil ini menunjukkan bahwa CsNitr1-L di bawah kendali promoter 35S CaMV diwariskan ke generasi BC3F4. Info Lengkap
100 2012 Data molekuler 20 tanaman transgenik padi CryIAc generasi T0. Diantara 20 tanaman transgenik padi CryIAc generasi T0, yang positif mengandung gen cryIAc (T-DNA) ada 14 tanaman. Memiliki gen CryIAc. Info Lengkap
101 2011 Informasi keragaman genetik dan hubungan kekerabatan masing-masing plasma nutfah yang dianalisis Kekerabatan mangga terbagi menjadi 4 kelompok berdasar analisis kluster menggunakan data marka molekuler. Masing-masing kelompok mempunyai kesamaan sifat-sifat berdasar sifat genetiknya. Pada Kelompok I, III dan IV terdiri dari 92 aksesi yang didominasi mangga introduksi. Umumnya mempunyai persamaan karakter morfologi antara lain permukaan daun berombak, warna bunga oranye sampai merah, warna daging buah kuning, bentuk buah jorong dan rasa agak masam serta aroma lemah. Perbedaan karakter dari ketiga kelompok tersebut adalah tajuk pohon (jorong ke atas, kesamping), daging buah (tebal, agak lunak-lunak), biji sedang. Kelompok II terdiri 100 aksesi yang berasal dari mangga lokal yang mempunyai karakter yang khas. Karakter morfologi mangga lokal yang mudah dikenali dari aroma buah yang kuat, rasa manis dan warna daging buah kuning sampai oranye. Keragaman genetik padi dengan menggunakan 30 marka mikrosatelit telah memisahkan dengan jelas antara padi indica dan japonica dimana sebanyak 80% plasma nutfah Kalimantan tersebut teridentifikasi sebagai tropical japonica dan 20% adalah indica. Penanda molekuler dapat memecahkan masalah ini dengan menyediakan profil unik DNA dari varietas-varietas yang akan dilindungi. Karakterisasi varietas tanaman atau nutfah menggunakan sidik jari DNA selain akurat juga dapat memberikan hasil yang lebih cepat dan efektif dibandingkan dengan karakterisasi konvensional karena dapat digunakan pada stadium awal tanaman, bahkan dapat dilakukan pada benih, tidak bersifat merusak karena hanya dibutuhkan sedikit sampel, dan tidak bias oleh faktor lingkungan (netral). Data molekuler akan melengkapi metode konvensional yang telah ada dan akan terus digunakan untuk menentukan keunikan suatu varietas baru. Pada kegiatan ini digunakan tiga metode untuk mengidentifikasi aksesi.Analisis klaster kedelai semua aksesi/varietas menggunakan marka terpilih digunakan sebagai salah satu langkah awal untuk pembuatan set marka pengidentifikasi ID varietas, khususnya kedelai dicontohkan pada Gambar 2. Beberapa varietas/aksesi kedelai telah diketahui ID-nya berdasarkan profil sidik jari DNA menggunakan set marka awal. Info Lengkap
102 2013 Informasi efisiensi pemupukan N populasi BC4F3-Situ Bagendit + gen CsNitr1-L + Pup1 Hasil pengujian efisiensi pemupukan N terhadap 6 galur BC3F5-Ciherang putatif mengandung gen CsNitr1-L di lahan terbatas (Gambar 5), menunjukkan bahwa lima galur BC3F5-Ciherang No. 96, 70, 102, 5, dan 76 memiliki produktivitas lebih besar dibandingkan dengan tanaman kontrol Ciherang pada kondisi pupuk urea setara 150 kg/ha (pupuk urea setengah dari konsentrasi normal) walaupun tidak berbeda nyata (Tabel 2). Biomassa akar dan batang lima galur BC3F5-Ciherang juga cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan Ciherang (Tabel 3). Bobot per 1.000 butir pada BC3F5-Ciherang No. 70 dan 102 lebih besar dan berbeda nyata dibandingkan dengan Ciherang (Tabel 4). Berdasarkan hasil pengujian tersebut maka telah diperoleh lima galur BC3F5-Ciherang yang efisien dalam penggunaan pupuk N di lahan terbatas dibandingkan dengan tanaman kontrolnya, Ciherang. Terdapat lima galur BC3F5-Ciherang yang efisien dalam penggunaan pupuk N di lahan terbatas dibandingkan dengan tanaman kontrolnya, Ciherang. Info Lengkap
103 2011 Database profil sidik jari DNA padi, kedelai, dan mangga yang dianalisis bardasarkan set marka hasil pengembangan Karakterisasi varietas tanaman atau plasma nutfah menggunakan sidik jari DNA selain akurat juga dapat memberikan hasil yang lebih cepat dan efektif dibandingkan dengan karakterisasi konvensional karena dapat digunakan pada stadium awal tanaman, bahkan dapat dilakukan pada benih, tidak bersifat merusak karena hanya dibutuhkan sedikit sampel, dan tidak bias oleh faktor lingkungan (netral). Data molekuler akan melengkapi metode konvensional yang telah ada dan akan terus digunakan untuk menentukan keunikan suatu varietas baru. Usaha pembuatan pangkalan data (database) sidik jari DNA untuk keperluan diskriminasi dan identifikasi varietas telah dimulai pada beberapa tanaman. Data molekuler akan melengkapi metode konvensional yang telah ada dan akan terus digunakan untuk menentukan keunikan suatu varietas baru. Info Lengkap
104 2011 Set marka terseleksi untuk identifikasi varietas pada padi, kedelai dan mangga Hasil penelitian marka mikrosatelit pada kegiatan ini mengindikasikan bahwa aksesi/kultivar padi dan mangga dapat dibedakan satu sama lain. Studi ini menunjukkan bahwa marka mikrosatelit berdasarkan DNA genomik padi dan mangga memberikan informasi kekerabatan yang mengarah pada hubungan genetik dan sidik jari DNA. Penggunaan marka mikrosatelit menjadi sangat berguna untuk mengidentifikasi genotipe dalam upaya peningkatan kualitas sumber genetik plasma nutfah dan perlindungan tanaman. Marka-marka yang digunakan pada kegiatan ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk mengidentifikasi aksesi/varietas secara molekuler. Penanda molekuler dapat memecahkan masalah ini dengan menyediakan profil unik DNA dari varietas-varietas yang akan dilindungi. Karakterisasi varietas tanaman atau plasma nutfah menggunakan sidik jari DNA selain akurat juga dapat memberikan hasil yang lebih cepat dan efektif dibandingkan dengan karakterisasi konvensional karena dapat digunakan pada stadium awal tanaman, bahkan dapat dilakukan pada benih, tidak bersifat merusak karena hanya dibutuhkan sedikit sampel, dan tidak bias oleh faktor lingkungan (netral). Data molekuler akan melengkapi metode konvensional yang telah ada dan akan terus digunakan untuk menentukan keunikan suatu varietas baru. Usaha pembuatan pangkalan data (database) sidik jari DNA untuk keperluan diskriminasi dan identifikasi varietas telah dimulai pada beberapa tanaman. Info Lengkap
105 2013 Telah diperoleh 1 set data informasi analisis molekuler dari 10 galur gandum transgenik generasi T0 hasil transformasi menggunakan teknik PCR dengan primer spesifik higromisin. Tanaman transgenik yang mengandung gen higromisin mempunyai amplikon 500 bp. Transforman yang positif mengandung gen higromisin, diharapkan juga mengandung gen toleran panas (tuf) karena gen tersebut terdapat dalam satu konstruks. Transforman tersebut diharapkan toleran terhadap suhu tinggi. Info Lengkap
106 2013 informasi karakter komponen hasil, arsitektur tajuk, dan konsentrasi hormon sitokinin dan giberellic acid dari 30 galur Padi Tipe Baru Satu set data yang meliputi arsitektur tajuk dan komponen hasil telah diperoleh dari 30 genotipe padi tersebut. Sampel daun dari 30 genotipe padi ini juga diambil untuk digunakan dalam analisis kandungan hormon sitokinin dan giberellic acid. Set 30 genotipe padi yang sama juga ditanam di Rumah Kaca BB Biogen untuk diamati sifat-sifat perakarannya. 30 genotipe padi Tipe Baru telah diamati karakter komponen hasil, arsitektur tajuk, kandungan hormon sitokinin dan asam giberelat serta sifat-sifat perakarannya. Info Lengkap